
Aku dan Faza sedang berjalan menyusuri lorong salah satu supermarket di kotaku. Rencananya ingin membeli keperluan bahan makanan karena stok dirumah sudah mulai habis. Faza memang kupaksa untuk menemaniku belanja, setelah pembicaraan tidak menyenangkan malam itu membuatku semakin mendekat kepada Faza. Aku hanya berusaha menekan egoku saja, karena aku tidak ingin perceraian dalam rumah tanggaku.
Awalnya Faza menolak untuk ikut denganku, berbagai alasan dia keluarkan tetapi paksaanku jauh lebih ampuh. Aku berpura-pura merasa pusing dan tidak enak badan sehingga aku perlu untuk ditemani saat berbelanja, dengan berat hati dia menurut padaku.
Tanganku menggandeng tangan Faza, entah mengapa aku ingin saja melakukannya walaupun aku yakin dia tidak suka dengan sikapku yang seperti ini, terlihat dari wajahnya yang merasa tidak nyaman dan sungkan.
Saat aku sedang melihat-lihat daging sapi yang ingin kubeli, tiba-tiba ada seorang perempuan menyapa Faza, spontan aku melihat ke arah sumber suara. Aku tidak mengenalnya tetapi berbeda dengan Faza, ekspresi di wajahnya berubah menjadi sangat ceria.
"Faza, kamu belanja juga?" sapa gadis itu.
"Hai, Bintang. Kamu sendiri?" sapa Faza.
Aku terdiam mendengar Faza menyebut nama Bintang. Bintang? Bintang mantan kekasihnya? tanyaku dalam hati.
Hatiku resah, ingin rasanya cepat menanyakan Bintang siapa yang dia maksud. Kalau dilihat dari tatapan Faza, seperti menjelaskan bahwa Bintang itu adalah mantan kekasihnya. Dia terlihat sangat bahagia.
"Iya nih aku sendiri. Kamu hari ini engga bisa temani aku sih" goda Bintang.
"Siapa yang bilang engga bisa? Ini aku juga kebetulan engga sibuk kok, kenapa kamu engga telpon aku saja?" tanya Faza.
Aku hanya diam, dibuat bingung dengan percakapan dua insan yang tidak menganggap kehadiranku. Tak habis akal, aku menggandeng kembali tangan Faza agar kehadiranku terlihat oleh mereka. Bintang yang langsung menyadari tingkahku, dia melihat ke arahku.
"Oh kamu sama istri kamu ya?" tanya Bintang menekankan kata "istri".
Faza menoleh ke arahku, wajahnya terlihat tidak senang. Dia buru-buru melepas tanganku.
"Iya, kenalin ini Daisy. Daisy ini Bintang" Faza mengenalkan aku kepada Bintang.
"Hai, senang berkenalan denganmu" sapa Bintang dengan suara ramah yang dibuat-buat.
"Ah..ii..iyyaa" jawab Bintang sedikit gugup.
"Ooh teman kampus atau teman kerja?" tanyaku dengan senyum yang ramah.
"Hmm..teman kampus dulu" jawab Bintang.
Aku melirik ke arah Faza yang terlihat semakin tidak nyaman. Matanya masih terus tertuju pada Bintang, seolah-olah aku seperti SPG yang sedang menawarkan barang kepada mereka.
"Ooh..Bintang ini sepertinya tidak asing ditelingaku, apa Bintang ini mantan kekasih Mas Faza dulu ya?" tanyaku langsung.
"Eeh..hmm.." terlihat Bintang tidak menjawab pertanyaanku yang mudah.
Sepertinya benar Bintang ini adalah Bintang mantan kekasih Faza. Terlihat dari ekspresi Bintang dan Faza yang kebingungan. Hatiku merasa sangat cemburu. Akhirnya aku bertemu dengannya, bertemu mantan kekasih suamiku yang amat sangat susah dilupakan.
Jika saat ini aku sedang dalam dunia cerita seperti komik, rasanya ingin sekali menarik rambutnya, teringat saat dia masih saja menelpon Faza beberapa waktu yang lalu. Dia tahu bahwa Faza sudah punya istri tapi tetap saja dia masih menghubungi Faza. Bukan hanya Bintangnya saja yang salah melainkan Faza juga tidak tegas. Jika dia tidak mencintaiku kenapa juga dia harus menikahiku. Kesal sekali rasanya, omelku dalam hati.
"Kamu ini apa-apaan sih, Daisy?" bentak Faza dengan kesal. Wajahnya terlihat marah.
Bintang semakin kebingungan dengan situasi saat ini.
"Faza, aku pergi dulu ya" kata Bintang berpamitan.
"Aku antar ke parkirannya" kata Faza sembari menggandeng tangan Bintang.
Aku terdiam sekaligus terkejut melihat sikap Faza kepadaku. Lihat apa yang baru saja dia lakukan? Membentakku didepan mantan kekasihnya dan dia pergi meninggalkan aku dengan menggandeng tangan mantannya.
Airmataku sudah menggenang sudah siap untuk tumpah. Kamu sudah sangat keterlaluan Faza, batinku.