The Wedding

The Wedding
Pertemuan



Aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor, seperti biasa Faza sudah siap untuk mengantarku, aku mengambil beberapa roti dan buru-buru aku masukkan ke dalam kotak bekal. Aku menghampiri Faza yang tersenyum melihatku, dia mencium keningku mesra.


"Sudah siap?" tanya nya.


"Sudah" jawabku lalu segera keluar rumah dan masuk kedalam mobil Faza.


Semenit kemudian mobil Faza sudah melaju dijalanan. Faza menggenggam tanganku seperti biasa, entah sejak kapan kebiasaan manis ini muncul. Aku pun menggenggamnya balik. Aku teringat hari ini aku ada janji dengan Helwa, istri dari Fariq. Kenapa terasa dag dig dug ingin bertemu dengan Helwa? Apakah karena dia istri dari mantan kekasihku? Entahlah, batinku.


"Hei melamun lagi" Faza mencolek daguku dengan lembut.


"Oh memang ada apa, mas?" tanyaku, aku benar-benar tidak sadar Faza mengajakku bicara daritadi.


"Nanti aku pulang lebih cepat sepertinya, kita mau jalan engga?" tanya Faza.


"Boleh" jawabku semangat.


"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya penasaran.


Aku otomatis menggelengkan kepalaku, aku tidak ingin Faza tahu bahwa aku akan menemui Helwa. Dia pasti akan cemburu apapun yang berkaitan dengan mantan.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang sudah sampai. Sini aku sayang dulu" Faza menarik daguku lalu mencium bibirku lanjut pipi, dahi dan daguku.


"Aku kerja dulu ya sayangku" ucapku lalu mencium punggung tangan Faza dan mengecup bibirnya.


"Semangat yaa" kata Faza.


"Iya, bye" aku melambaikan tanganku ke arah Faza dari balik jendela. Aku masih melihat ke arah mobil Faza yang sudah semakin menjauh dari tempatku.


Aku mendatangi kafe Gardenia saat jam istirahat, kafe yang sudah ditunjuk oleh Helwa, sepertinya aku datang sepuluh menit lebih cepat, tetapi baru saja aku masuk kedalam kafe ada perempuan cantik melambaikan tangannya. Sepertinya ini Helwa. Aku menghampiri perempuan tadi, ia mengenakan dress selutut, rambut cokelatnya tergerai indah, satu kata untuknya, sempurna.


Ya ampun istrinya Fariq cantik sekali, seperti gadis dari Mesir, dia benar-benar seperti model, takjubku dalam hati.


"Halo, aku Helwa" jawabnya.


"Sudah lama menunggu?" tanyaku basa basi.


"Belum, baru sampai kok. Oh iya mau pesan apa?" tanya nya.


"Matcha latte dan kentang goreng saja sepertinya" kataku sembari melihat-lihat buku menu yang sudah tersedia diatas meja.


Helwa membantuku memesan makanan, kini perhatiannya sudah tertuju padaku lagi. Tatapannya entah mengapa bisa membuat nyaliku ciut, tajam sekali tatapannya.


"Well, maaf sudah mengganggu waktumu, ini jam istirahat ya?" tanya nya.


"Santai saja selama jam istirahat, dekat juga dengan kantor" jawabku.


"Daisy, aku langsung pada intinya saja apa yang ingin kubicarakan denganmu.." ucap Helwa membuka obrolan.


Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil menikmati matcha latte milikku yang abru saja datang.


"Aku menikah dengan Fariq sudah empat bulan dan dua bulan ini aku mengandung anaknya. Aku sudah tahu tentang kamu dari awal pernikahan kami, bukan Fariq yang menceritakan tentangmu, tapi aku tahu dengan sendirinya. Tanpa sengaja aku melihat beberapa fotomu yang masih tersimpan di ponsel Fariq, aku memang sempat meminjam ponselnya hanya untuk meminta beberapa foto kami saat honeymoon. Aku benar-benar merasa cemburu" jelas Helwa sembari meminum teh lemon hangatnya.


"Sampai akhirnya, aku benar-benar penasaran dan mencari kontakmu di ponsel Fariq, masih tersimpan nomormu, lalu aku memberanikan diri untuk membuka Instagram miliknya, cek satu-satu pesan yang ada, benar saja pesanmu masih ada, saat kalian masih berpacaran dulu, tidak hanya sampai disitu, aku mencari tahu lebih dimana saja kalian berkomunikasi, hampir di beberapa aplikasi yang kalian gunakan untuk berkomunikasi, masih tersimpan pesannya, Fariq tidak menghapusnya. Aku masih berusaha berpikir positif, mungkin saja Fariq belum sempat menghapus semuanya karena dia malas. Tetapi yang membuatku sedih, pesan denganku saat belum menikah saja sudah tidak ada dikotak pesan, akhirnya.." Helwa menghentikan ucapannya, dia mencoba mengatur emosinya saat ini. Rasa marah, sedih, ingin menangis sudah dia rasakan.


"Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Fariq siapa itu Daisy, awalnya dia hanya diam saja, aku pun memaksanya untuk mengatakan kepadaku" jelasnya.


"Dia menjelaskan semuanya bahwa kamu adalah mantan kekasihnya dan dia masih belum bisa melupakanmu. Hatiku hancur, memang pernikahan kami terjadi karena perjodohan antar keluarga, tetapi aku mencintai Fariq. Lalu aku benar-benar penasaran langsung ingin bertemu denganmu, tetapi aku harus berpikir berulang kali, tapi kalian memang sudah tidak ada komunikasi lagi, tapi rasanya aku benar-benar ingin bertemu dengan wanita yang sudah merampas seluruh hati suamiku. Sampai akhirnya aku benar-benar menahan diriku untuk tidak menghubungimu dan menjalani kehidupanku bersama Fariq seperti baik-baik saja. Tetapi jujur saja aku tidak merasa tenang sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertemu denganmu" jelas Helwa.


Aku terdiam mendengar penjelasannya, aku mengerti kegelisahan yang dia rasakan karena aku pun merasakannya.