
Aku terdiam, mentatap nanar kedua orang yang ada dihadapanku. Faza langsung mendekatiku, mengajakku untuk duduk. Aku menurutinya, aku benar-benar butuh penjelasan saat ini.
"Daisy, aku datang kesini memang atas permintaan Bintang. Tetapi bukan berarti aku ingin bertemu dengannya. Aku dan Bintang sudah lama tidak ada komunikasi lagi, aku terakhir menghubungi dia saat di rumah Om Hary, kamu tahu itu kan? Itu benar-benar terakhir kalinya aku menghubungi dia, setelah aku berjanji kepadamu untuk meninggalkan dan tidak menghubungi Bintang lagi, aku menepatinya. Kenapa sekarang aku mengiyakan untuk bertemu Bintang, karena aku juga ingin menjelaskan kepada dia bahwa aku tidak mencintainya lagi, Daisy, ini sudah berakhir antara aku dan dia, sudah lama, sejak aku menyadari bahwa aku memang mencintaimu" jelas Faza.
Bintang terbelalak mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Faza. Dia tidak terima, ternyata memang selama ini Faza tidak menghubunginnya itu dengan sengaja.
"Oh jadi sekarang kamu benar sudah mencintai istrimu itu?" tanya Bintang dengan sinis.
"Benar, Bintang, daritadi aku mau menjelaskan itu tapi kamu engga kasih aku kesempatan untuk bilang itu" ucap Faza.
"Aaah ini sandiwara kamu ya, pura-pura mencintai Daisy karena ketahuan jalan denganku? Nanti kalau dia sudah pergi, kamu akan bilang kalau yang kamu ucapkan tadi itu bohong? " tanya Bintang licik.
"Engga sama sekali. Lagipula Bintang, aku tahu salah, aku sangat telat menyadarinya. Cinta kita ini semu, Bin. Cinta yang nyata adalah cinta disaat kamu menikah dengan seseorang, aku menyadarinya saat bersama Daisy. Aku salah telah menyakiti istriku dan masih tetap memilih kamu. Maafkan aku Bintang, tapi aku tidak bisa menjalankan hubungan haram seperti dulu lagi" tegas Faza.
Aku terdiam, semakin bingung dengan melihat Faza dan Bintang berdebat. Apa-apaan ini? Seharusnya mereka menjelaskan padaku bukan berdebat seperti ini. Aku benar-benar merasa kesal. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi.
Ku beranjak dari tempat dudukku, awalnya mereka tidak menyadari kepergianku, selang sepersekian detik, Faza langsung menyadarinya dan dia coba memanggilku, aku tetap berlalu, aku tidak peduli, rasanya aku hanya ingin masuk kedalam kamarku dan duduk diatas kasur lalu diam, memikirkan dan merenung semua apa yang baru saja terjadi hari ini.
Sesampainya dirumah, aku segera masuk ke dalam kamar dan mengganti seragamku dengan baju santai untuk dirumah, aku membersihkan wajahku, lalu mencuci tanganku, tapi entah mengapa aku merasa mual seketika, aku muntah-muntah, kepalaku terasa pusing, setelah selesai dari kamar mandi, buru-buru aku naik ke atas tempat tidurku, merebahkan tubuhku disana, kenapa ini, apa aku sakit mendadak? Apa karena baru saja aku berbohong kepada atasanku? Jadi aku langsung terkena karma? ya ampun maafkan aku, batinku cemas.
Aku termenung, kembali teringat dengan kejadian hari ini, bertemu dengan Helwa, menceritakan keresahannya tentang Fariq, lalu saat pulang dari kafe aku melihat Faza bersama Bintang dan mendengar penjelasan mereka membuatku semakin bingung. Siapa yang harus aku percaya? Kenapa Faza mengingkari janjinya untuk tidak menemui Bintang lagi? Tapi Faza sudah menjelaskan kepadaku, apa aku harus percaya padanya?
Jika dilihat dari hubunganku dengan Faza saat ini memang bisa dibilang jauh berkali-kali lipat lebih baik dari sebelumnya, semenjak kejadian dari rumah Om Hary, memang semuanya berubah menjadi lebih baik, mulai dari sikap Faza, hubunganku dengannya, bahkan kami sudah tidak merasa canggung lagi satu sama lain. Apa aku harus percaya dengan Faza? Tapi aku juga tidak bisa bohong bahwa aku kecewa melihatnya bersama Bintang, aah...dilemma sekali, gerutuku.
Disaat-saat aku sedang merenungkan semuanya, tiba-tiba aku merasa mual lagi. Aku buru-buru pergi ke toilet. Sepertinya aku sakit, aku berencana untuk keluar kamar dan mencari obat untuk pereda mual. Mungkin penyakit maag ku kambuh, pikirku.
Kubuka pintu kamarku, aku melihat Faza baru saja masuk ke dalam rumah. Aku buru-buru masuk kedalam dan mengunci pintuku.
"Daisy, tolong percaya padaku" ucap Faza sambil terus mengetuk pintu kamarku.
Aku tidak menjawabnya, aku bersandar dibalik pintu, sepertinya aku benar-benar merasa kacau saat ini. Aku sudah bisa mendapatkan jawabannya, aku benar-benar kecewa dengan Faza, meskipun dia sudah menjelaskan, masih sulit untukku menerimanya.