The Wedding

The Wedding
Daisy, aku mencintaimu



"Nak Daisy, sebenarnya, anak yang dikandung Bintang itu memang..." tante Gina tidak langsung meneruskan kalimatnya.


"Anak yang dikandung Bintang memang bukan anak dari Faza, nak. Maafkan Bintang, dia telah membohongi nak Daisy dan Faza. Dia benar-benar ingin sekali menikah dengan Faza. Tetapi Faza memutuskan hubungannya dengan Bintang itu membuat Bintang menjadi hilang akal, dia berencana untuk menjebak dan menghancurkan rumah tangga nak Daisy. Maafkan Bintang, nak. Memang kata maaf tidak mengubah apapun, tetapi tante menjelaskan ini semua agar nak Daisy bisa memaafkan Faza. Dia tidak melakukan kesalahan apa-apa, nak. Ini semua salah Bintang, anak tante. Jika nak Daisy ingin menuntut Bintang pun, tante pasrah. Bintang memang sudah keterlaluan" airmata Tante Gina menetes di pipinya yang sudah mulai terlihat kerutan halus.


Aku terkejut mendengar pernyataan dari Tante Gina, tak terasa airmataku pun sudah menetes di pipiku. Jadi selama ini memang bukan anak dari Faza yang dikandung Bintang, kenapa dia tega melakukan hal ini?


Setelah bertemu dengan Tante Gina, aku kembali menuju rumah orangtuaku. Masih terngiang jelas apa yang dikatakan oleh Tante Gina, jahat sekali Bintang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Sesampainya di rumah, aku melepas sepatuku dengan malas dan masuk ke dalam rumah, aku terkejut saat melihat seorang pria yang sangat ku kenal sedang duduk santai bersama papaku di ruang tamu. Saat mereka menyadari kehadiranku, pria tersebut langsung berdiri dan menghampiriku.


"Daisy, maafkan aku. Aku akan meminta Bintang untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan kepadamu. Aku tahu akan sangat sulit memaaafkan semua kesalahanku. Tapi aku mohon beri aku kesempatan Daisy. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku" ucap Faza dengan sungguh-sungguh, dia meremas tanganku pelan.


Aku hanya menatap Faza, melihat kesungguhan Faza membuatku luluh, aku sudah memaafkannya sejak awal sebelum dia meminta maaf kepadaku, tapi egoku yang membuatku sulit untuk kembali padanya. Tetapi Tante Gina sudah menjelaskan semuanya, itu sudah lebih dari cukup untukku benar-benar memaafkan dan memperbaiki rumah tanggaku bersama Faza.


"Maafkan aku, istriku" ucap Faza lembut, membelai pipiku. Tatapannya terasa hangat tidak dingin seperti dulu.


"Aku ingin kita sama-sama membesarkan anak kita, sayang. Aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita, aku janji" lanjut Faza, kini kulihat matanya berkaca-kaca.


"Mas..aku sudah memaafkan kamu" hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan sekarang.


Faza memelukku erat, tubuhnya bergetar menahan tangis. Aku dapat merasakan pelukan yang sangat hangat dan nyaman.


"Daisy, aku mencintaimu, sangat mencintaimu" ucap Faza semakin memelukku dengan erat, airmatanya sudah tak terbendung lagi, untuk pertama kali Faza menangis di hadapanku.


"Aku pun mencintaimu, mas" jawabku penuh dengan haru.


Faza melepas pelukannya, kedua tangannya memegang pipiku, matanya menatapku teduh, lalu dia mencium keningku dan kembali memelukku.


"Daisy, maafkan aku, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, maaf telah menyakitimu selama pernikahan kita" ucapnya kembali menangis.


Aku menepuk-nepuk pelan bahu Faza, aku tahu dia hanya butuh bicara, tak perlu aku banyak bicara, aku membiarkan dia untuk mengeluarkan semua kegelisahan dalam hatinya selama ini.


"Maafkan aku sayang, aku benar-benar mencintai dan menyayangimu, sepenuh hatiku, maaf telah menyia-nyiakanmu selama ini. Kamu istri yang baik, Daisy"


Faza melepaskan pelukannya lagi, lalu dia menghadap papaku yang sedari tadi duduk terdiam.


"Ayah, maafkan Faza telah menyakiti putrimu selama ini, maaf Faza belum bisa membahagiakan Daisy, ayah pasti sangat kecewa dengan Faza. Tapi Faza mohon, yah. Beri Faza kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, membahagiakan putri kesayangan ayah. Faza mohon" Faza duduk bersimpuh di hadapan papa.


Papa terlihat menahan rasa haru, airmatanya terlihat menggenang hanya saja papa terus menahannya.


Aku berlari menuju papa dan langsung memeluknya erat. Papa selalu mendukungku, selalu menguatkan aku, papa selalu mengajariku untuk sabar dan ikhlas serta kuat untuk menghadapi segala ujian dalam hidup ini. Papa adalah satu-satu nya pria yang tidak pernah mengecewakan aku atau menyakitiku.


Setelah makan malam, aku dan Faza berpamitan kepada mama dan papa untuk kembali pulang ke rumah Faza. Rasanya sedih meninggalkan papa dan mama, tetapi aku harus ikut kembali bersama suamiku.


"Papa, mama, Daisy pamit pulang ya. Mama dan papa sehat-sehat ya di sini, nanti Daisy kapan-kapan main lagi ke sini. Maafkan Daisy telah merepotkan mama dan papa selama ini" ucapku dan mencium tangan kedua orangtuaku dengan hormat.


"Engga ada yang merasa direpotkan, papa dan mama senang Daisy datang kemari. Baik-baik ya, nak. Patuh pada suamimu ya" ucap papa.


"Baik-baik ya sayang, harus sabar jika ada ujian, berpikirlah dengan jernih, jangan ambil keputusan disaat sedang marah ya. Jaga diri baik-baik. Kalau sudah mau melahirkan, hubungi mama ya" timpal mama sambil mencium keningku.


Faza pun ikut mencium tangan mama dan papa, aku berjalan menuju mobil dan melambaikan tangan kepada mama dan papa.


Keheningan menyelimuti suasana di dalam mobil, Faza masih menggenggam tanganku dengan erat. Tak lama, aku tertidur.


Faza membangunkanku saat sudah sampai di pelataran rumah. Aku terbangun dan segera turun dari mobil. Faza membawa koperku masuk ke dalam rumah.


Rumah yang kurindukan. Tidak ada yang berubah sama sekali. Semuanya masih sama seperti dulu pertama kali aku datang ke rumah ini.


Aku bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhku, air yang mengalir ditubuhku terasa sejuk. Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku duduk di tepi ranjang, Faza sudah berbaring di sebelahku. Aku mencium keningnya, membelai lembut rambutnya yang sedikit berantakan.


"Jangan pernah pergi lagi, sayang" ucapnya menggenggam tanganku erat. Aku menganggukkan kepala.


"Mas, tolong jangan pernah mengulangi lagi kesalahan yang sama" ucapku lirih.


"Engga akan pernah lagi, sayang. Aku janji. Aku akan menjaga rumah tangga kita sebaik dan semaksimal mungkin" Faza meraih bahuku dan mencium bibirku dengan lembut dan hangat.


"Aku sangat mencintaimu, Daisy" ucapnya tersenyum.


Aku kembali menyentuhkan bibirku ke bibir lembut Faza, ciuman yang saling bersambut. Menghabiskan malam ini dengan penuh kerinduan.


Bersama Faza aku banyak belajar, belajar memaafkan, saling memahami, saling melengkapi, saling mengisi, menekan ego untuk bisa menjaga rumah tangga tetap baik dan pastinya menghargai keberadaan pasangan kita, karena terkadang kita baru menyadari seseorang sangat berharga dalam hidup kita saat orang itu sudah pergi dari hidup kita.


\*\*\*\*


Novel ini aku persembahkan untuk orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku dan memberiku banyak pelajaran berharga. Terimakasih untuk semuanya, aku bisa menjadi seperti ini karena kalian. Love you ♥


-Dinyshu-