The Wedding

The Wedding
39. I Miss You Like Crazy



Tony melangkahkan kakinya ke arah kamar yang selama ini ia tempati bersama dengan Cora, ia menatap foto pernikahan mereka yang tergantung dengan baik pada dinding yang berada di dalam kamar mereka dengan tatapan sendu.


"Kamu kemana sayang? I miss you like crazy." Tony tersenyum lirih, "Rasa rindu ini membunuhku Cora. Dadaku ini terasa begitu sesak dan rasa perih ini sangat menyakitkan. Kamu nggak rindu sama aku?" Tony berkata dengan lirih. Ia memandang wajah Cora yang terlihat cantik itu dengan tatapan sedih. Saat ini ia sangat ingin menyentuh pipi mulus milik istrinya itu, memeluk tubuh wanita itu yang terasa begitu pas di dalam dekapannya dan menghirup aroma tubuhnya yang begitu memabukkan.


Tony merasa hancur saat ini, hatinya bagaikan sebuah kaca yang jatuh ke lantai dan pecahannnya berserakan dimana-mana.


Hanya Cora yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang dirasakannya itu, hanya wanita itu yang dapat menyelamatkannya dari rasa rindu yang membunuhnya ini dan hanya wanita itu yang dapat membuat dunianya kembali bersinar. Entah sampai kapan ia harus terus tersiksa dengan rasa rindu itu.


...***...


Waktu terasa begitu lambat berjalan, detik demi detik berlalu dengan sangat lambat, bagaikan seekor siput yang tengah berjalan. Satu hari bagaikan satu tahun bagi Tony. Ia sudah tidak dapat menghitung sudah berapa hari yang telah terlewati, ia sudah tidak dapat menghitung lagi sudah berapa lama ia tersiksa dengan rasa rindu yang begitu menyesakkan dadanya, ia sudah tidak dapat menghitung lagi sudah berapa lama sosok wanita yang di cintainya itu pergi dari sisinya. Yang ia tahu, ia harus menemukan wanita itu dan membawanya kembali ke sisinya. Ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi dari sisinya lagi.


Tony melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal saat ia mendapatkan kabar dari salah satu detektif swasta yang disewanya. Ia dapat melihat setitik cahaya terang di dalam hidupnya saat ia mendengarkan detektif tersebut mengatakan bahwa ia telah menemukan Cora, istrinya itu.


Menit demi menit telah berlalu, Tony tiba di sebuah restoran yang menajdi tempat pertemuannya dengan detektif swasta itu.


Ia mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling restoran itu dan mencoba mencari sosok lelaki paruh baya yang sudah bekerjasama dengannya selama beberapa bulan itu.


"Pak Tony di sini." seorang pria paruh baya melambaikan tangannya ke arah Tony. Tony melebarkan langkahnya dengan cepat ke arahlelaki itu.


"Anda sudah menemukan istri saya?" tanpa basa-basi lagi Tony langsung menanyakan keberadaan wanita yang sudah dirindukannya itu.


"Silahkan duduk dulu pak." lelaki itu tersenyum ramah dan mempersilahkan Tony untuk duduk di sebuah kursi yang terletak di hadapannya. Tony menarik kursi tersebut dan duduk di hadapan pria itu. Ia menatap tajam ke arah pria itu.


"Saya mendapatkan info bahwa istri bapak pernah datang ke Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Pada saat gunung itu meletus istri bapak ada di sana, tapi setelah saya ke sana, saya tidak dapat menemukan istri bapak. Beliau sudah lama pergi meninggalkan gunung itu."


"Menurut warga sekitar, istri bapak adalah salah satu relawan yang membantu warga di sana, tapi mereka tidak jelas dia relawan dari sebuah yayasan atau perorangan. Terlalu banyak relawan di sana dan tidak ada yang memperhatikan dari mana datangnya istri bapak itu." Pria itu tersenyum miris, ia tidak ingin mengecewakan kliennya. Ia ingin memberitahukan Tony kabar itu melalui telfon, tetapi Tony menolak dan ingin langsung menemui detektif swasta yang di sewanya itu.


"Apa ada info lain lagi? kemana Cora pergi setelah itu?" Tony bertanya dengan nada suara cemas.


"Tidak ada pak," Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Beliau hanya beberapa hari di sana, tidak lebih dari seminggu. Sangat sulit untuk melacak keberadaan beliau saat ini. Mohon maaf, saya hanya bisa mendapatkan info yang sangat sedikit ini tentang keberadaan istri bapak."


"Tidak apa-apa." Tony tersenyum lirih, "Mendengar kabarnya saja sudah sedikit membuat saya lega, tapi saya belum bisa tenang sampai saya menemukan istri saya. Tolong bekerja lebih keras lagi, saya akan memberikan bayaran yang sangat besar jika bapak berhasil menemukan istri saya." Tony menatap pria di hadapannya dengan tatapan memelas dan juga tersiksa. Ia merasa begitu tersiksa dengan kepergian Cora. Cora membawa sebagian jiwanya pergi, ia bagaikan makhluk tanpa jiwa saat ini. Ia menjalani hari-harinya dengan rasa rindu yang seakan membunuhnya.


"Baik pak, saya akan melakukan semampu saya, kalau begitu saya permisi dulu, saya akan menghubungi bapak lagi jika saya mendapatkan info lain tentang istri bapak." Pria itu berdiri dan ia menjabat tangan Tony. Ia berjalan dan meninggalkan Tony yang duduk lemas pada kursinya.


Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Ia sedih dan juga senang secara bersamaan. Ia merasa sedih dan kecewa karena detektif yang disewanya itu tidak dapat menemukan Cora. Wanita itu seakan tengah bersembunyi di balik belahan bumi, bersembunyi di tempat yang tidak dapat ia temukan.


Aku tahu bahwa akulah yang membiarkanmu pergi dari sisiku. Seharusnya, aku berjuang agar kamu terus berada di sisiku, tapi rasa takutku mengalahkan akal sehatku. Hatiku memanggil namamu setiap hari karena aku sangat merindukanmu. I miss you so much, Cora. I miss you like crazy, please come back to me, Tony bergumam di dalam hatinya. Ia menatap kosong meja yang berada di hadapannya.


Rindu yang ia rasakan saat ini seakan membunuhnya secara perlahan. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa menahan perasaan rindu yangbegitu menyiksanya itu. Yang ia tahu, Cora telah membawa hatinya pergi bersama dengannya dan menyisakan raganya yang harus berjuang untuk terus bertahan agar ia bisa menemukan wanita itu.


.


...****...


🌷🌷🌷


.