
Tak terasa pernikahanku sudah memasuki bulan keempat, tapi semuanya terasa hambar. Belum merasakan manisnya pernikahan seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Bahkan "malam pertama" pun belum pernah terjadi diantara kami.
Faza bersikap sangat dingin, dia tidak akan memelukku jika aku tidak memeluknya lebih dulu, bahkan dia lebih memilih untuk menjaga jarak denganku, agar aku tidak bisa untuk sekedar memeluk atau mencium pipinya saja. Faza seringkali menghindar dariku. Kami menjalani hidup masing-masing meskipun kami tinggal satu atap.
Aku berusaha untuk membangun komunikasi yang baik dengan suamiku, Faza. Hanya saja dia lebih sering memberikan jawaban yang mematikan komunikasi.
Sudah empat bulan Faza tidak memberiku nafkah batin, selama ini juga aku tidak berani untuk meminta kepada Faza, walaupun sebenarnya terkadang aku menginginkan hal itu. Aku pun ingin bisa merasakan hal yang orang-orang tunggu setelah menikah.
Malam pun tiba, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit, sudah waktunya Faza tidur, dia tipe orang yang selalu tidur diatas jam delapan malam dan tidak lebih dari jam sepuluh malam. Benar saja, saat aku masuk ke dalam kamar, Faza sudah siap untuk tidur. Aku mendekatinya pelan-pelan.
"Mas Faza, cape engga hari ini?" tanyaku lembut, tangan kananku menyentuh pipinya, dia hanya memejamkan matanya.
"Iya aku ngantuk banget" jawabnya datar.
"Mas engga mau coba malam pertama kita?" tanyaku berusaha menggoda Faza.
"Nanti aja ya" jawabnya dingin lalu membalikkan badannya membelakangiku.
"Iya sudah tak apa lain waktu saja kalau mas engga cape ya" kataku lemas, aku membaringkan tubuhku membelakangi Faza.
Selalu saja begini, setiap malam kami langsung tidur masing-masing, disaat aku berusaha mengajaknya untuk pillow talk atau hanya mengambil waktu untuk romantis, dia selalu saja beralasan bahwa dia lelah atau sudah mengantuk.
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, otakku masih dipenuhi akan tentang Faza. Entah mengapa aku merasa bahwa Faza memang tidak mencintaiku, hanya saja aku buang jauh-jauh pemikiran burukku ini. Tapi sepertinya aku harus tahu yang sebenarnya.
Sarapan pagi sudah kusiapkan, aku memasak nasi goreng, ayam kecap dan teh lemon hangat. Tak lama Faza sudah turun dan duduk di meja makan, aku mengambil sarapan untuknya.
"Ini sarapannya, mas" kataku sambil menyajikan makanan untuk Faza.
"Terima kasih" katanya lalu menyantap sarapannya.
Hari ini hari Minggu, Faza duduk diatas sofa yang terletak diruang tv. Aku duduk disampingnya.
"Iya boleh" jawab Faza
"Mas, apa mas mencintaiku?" tanyaku ragu
Faza hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menatap layar tv.
"Mas Faza, apa kamu cinta sama aku?" aku mengulang pertanyaanku.
"Memang harus diungkapkan ya?" tanya nya sinis.
"Aku butuh tahu itu, mas" kataku pelan.
"Engga usah aku ungkapkan" jawabnya lagi lagi dengan sinis.
"Mas sebenarnya ada apa?" tanyaku masih penasaran, entah mengapa rasa ingin tahu ku lebih besar sekarang.
"Maksudmu apa, Daisy?" tanya nya tidak sabar.
"Mas itu suamiku, tapi tidak seperti suami. Mas bahkan tidak memberiku perhatian, mas bahkan sungkan untuk menyentuhku, aku ini istrimu mas, mas boleh menyentuhku kapan saja, tetapi kenapa mas tidak pernah mau melakukan hubungan intim denganku?" kataku kesal.
"Daisy, mungkin belum saatnya saja, kita masih butuh pengenalan" jawabnya datar.
"Mas ini engga ngerti perasaanku sebagai istri ya. Aku juga butuh perhatian dari mas Faza. Aku ingin memeluk atau mencium mas Faza saja, mas itu selalu menghindar dariku. Jika aku tidak memeluk atau mencium mas lebih dulu, mas tidak melakukannya kepadaku. Jangankan untuk memelukku, aku hanya ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol, bercerita tentang hari yang kita lewati saja, mas tidak bisa. Kenapa sih mas?" jelasku.
"Daisy, sebenarnya ada yang aku sembunyikan. Aku tidak ingin kamu marah denganku" katanya dengan tenang.
"Katakan saja" kataku menahan kesal.
"Sebenarnya aku tidak mencintaimu sama sekali, Daisy. Maafkan aku..maaf" kata Faza, wajahnya terlihat ada penyesalan.
Degg, aku sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Faza. Aku hanya diam. Sesaat aku tidak dapat berkata apa-apa.