
Ponselku berdering berkali-kali, Reina dan Celine sibuk bergantian menelponku, pasti mereka sudah lama menungguku. Hari ini aku membuat janji bertemu dengan teman-teman dekatku, merayakan pesta kecil-kecilan ulang tahun Reina. Dia akan mentraktir kami. Aku berlari menyusuri salah satu mall ternama dikotaku menuju tempat makan yang biasa kami datangi.
Lima menit kemudian aku sudah sampai disalah satu tempat makan makanan khas Jepang. Aku melihat Reina dan Celine yang sudah duduk dipinggir jendela. Mereka melambaikan tangan kepadaku dan akupun membalas lambaian mereka.
Tak lama aku sudah duduk disamping Reina dan mengucapkan selamat.
"Reinaaa selamat ulang tahuun, doaku selalu menyertaimu" teriakku sambil memeluk erat Reina lalu memberikan bingkisan hadiah berbentuk kotak yang berwarna ungu untuknya, warna kesukaan Reina.
"Terima kasih sayangkuu, waah kado nya engga lupa yaa" jawab Reina sambil menggodaku.
"Ayo ayoo mau pesan makan apa" lanjut Reina sambil menyodorkan buku menu yang berada diatas meja.
Setelah beberapa menit membaca buku menu, kami memesan beberapa makanan.
Dua puluh menit kemudian makanan yang dipesan sudah datang dan kami pun menikmati makan siang dengan obrolan seru ala kami bertiga.
Makan siangpun berlalu, kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam ditempat makan tersebut. Aku dan Reina melanjutkan untuk mencari lip cream kesukaan kami dan dilanjutkan hanya untuk berjalan-jalan.
Celine sudah pulang lebih dulu, dia harus bertemu dengan pacarnya yang baru saja datang dari kota Surabaya.
Aku berjalan-jalan menyusuri salah satu toko baju selagi menunggu Reina yang sedang pergi ke toilet. Tak jauh dari toko yang sedang kukunjungi aku melihat seorang pria yang sedang berjalan diluar toko, sepertinya aku mengenal pria itu, batinku.
"Hai, Faza" sapaku saat pria tersebut sudah berjalan didekat ku.
"Hai, Daisy" sapanya balik dengan senyum ramahnya.
"Lagi jalan nih?" tanyaku basa basi.
"Engga juga, tadi cuma mampir di toko kue dekat sini, pesanan adikku" jawabnya sambil mengangkat tangan kanannya yang membawa satu kantong plastik berisi kue.
"Ooh kakak yang baik, sendirian?" tanyaku lagi.
"Iya nih sendirian, tadi pulang kerja langsung kesini. Daisy juga sendiri?" tanya nya balik.
"Engga, aku sama Reina, tapi dia lagi ke toilet dulu" kataku
"Iya, Faza" aku menganggukkan kepala.
Tak lama Faza sudah tidak terlihat lagi, Reina pun datang menghampiriku dengan teriakannya yang khas.
"Reiiinnaaaa yaaaa ampuuun aaaahhhh" dia berlari sambil berteriak lalu memelukku erat sekali.
"Aduuh duuuh ini apaaan siiih, aku engga bisa nafas ini" kataku kaget.
"Kamu kasih kado ke aku itu parfum impian aku yaaa" katanya masih memelukku.
"Hahaha katanya kamu pengen banget beli parfum itu cuma belum kesampaian saja kan?" tanyaku
"Iyaaa pokoknya terima kasih sekaliii" kali ini dia mencium pipiku.
"Okay okaayy cukuuup" kataku sambil menyingkirkan wajahnya yg menempel dibahuku.
"Eh tadi aku ketemu Faza" lanjutku
"Hah dimana? Serius? Mana dia sekarang?" tanya nya tengok kanan dan kiri, yes..akhirnya berhasil melepas pelukannya, kataku dalam hati.
"Yaa sudah pulang, tadi cuma tegur sapa saja" kataku datar
"Iih kenapa kamu engga ajak main bareng kita?" tanya nya.
"Aduh buat apa, Rei?" tanyaku bingung.
"Buat temenin kamu doong" katanya dengan wajah ceria.
"Jadi sekarang mau bahas Faza nih, kalau lip cream favorit kamu kehabisan promonya, jangan salahin aku yaa" kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh iyaa ya, yuk kita cari lip cream" akhirnya Reina pun melupakan pertemuanku dengan Faza tadi.
Tiinngg....ponselku berdering tanda pesan masuk. Aku terkejut saat nama yang kulihat dilayar ponselku. Faza?