The Wedding

The Wedding
Berat



Bruuukkkk aku menabrak seseorang didepanku, salahku memang, aku terlalu fokus melihat pakaian bayi yang lucu-lucu, aku langsung meminta maaf pada orang yang kutabrak tadi.


"Maaf, tidak sengaja" aku sedikit membungkukkan badanku.


"Daisy?" panggil seorang wanita yang kutabrak tadi.


"Bintang" aku terkejut melihat Bintang didepanku. Ternyata wanita yang kutabrak tadi itu Bintang.


"Kamu cari pakaian bayi juga ya?" tanya Bintang dengan sedikit nada ramah yang dibuat-buat.


"Iya" jawabku singkat berusaha tersenyum tapi gagal.


"Sama aku juga" jawabnya.


"Buat siapa?" tanyaku polos.


"Buat anakku dong" jawabnya menyebalkan.


Aku terdiam, mengingat bahwa Bintang belum menikah, terakhir bertemu beberapa waktu yang lalu saja, dia masih belum terlihat hamil tetapi saat ini... kulirik ke arah perutnya memang sudah terlihat membesar. Tidak mungkin itu bantal kan? tanyaku dalam hati sambil sesekali memperhatikan perut Bintang.


"Kenapa diam saja? Kaget melihatku hamil?" tanya Bintang, suaranya menyadarkan aku.


"Ti..tidak..biasa saja" jawabku sedikit gugup.


"Anak yang aku kandung ini, anaknya Faza" ucap Bintang.


Degggg...seperti petir di siang bolong, pernyataan Bintang membuatku sangat terkejut. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


"Aku engga percaya" jawabku sedikit menantang.


" Ya sudah kalau engga percaya, kamu bisa tanya langsung ke Faza" tantang Bintang, dia dapat melihat perubahan ekspresi di wajahku.


Aku memang mulai sedikit panik. Aku berusaha mencerna dan berpikir baik-baik dengan pernyataan Bintang.


"Kalau memang itu benar anak dari Faza, ikut aku kerumah, kita bicarakan bertiga" tegasku. Entah ide darimana aku ingin membawa Bintang kerumahku, tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.


"Baik, aku ikut denganmu sekarang" ucap Bintang tenang.


Bintang memang terlihat sangat meyakinkan, tetapi aku tidak bisa percaya begitu saja dengannya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Bintang, aku berencana untuk menemui Faza dan minta penjelasannya secara langsung.


Aku berpamitan kepada Helwa dan meminta maaf karena aku tidak bisa menemaninya lebih lama lagi, Helwa terlihat bingung saat dia melihat aku bersama Bintang, tapi dia tidak banyak bertanya, dia membiarkan aku untuk pulang lebih dulu.


Sesampainya dirumah, aku menjamu Bintang, bagaimanapun dia tetaplah tamu di rumahku. Aku berusaha memperlakukan dia sebaik mungkin dirumahku. Kami tidak banyak bicara.


Kulirik jam berwarna hitam yang tergantung di dinding ruang tamu, sebentar lagi Faza pulang, batinku.


Jantungku berdebar cepat, aku khawatir jika aku tidak bisa mengontrol amarahku dan jika memang benar dia mengandung anak dari suamiku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


Tak lama Faza pun datang. Saat memasuki ruang tamu, dia terkejut melihat aku bersama Bintang.


"Ada apa ini?" tanyanya langsung.


"Ada yang ingin kami bicarakan, mas" jawabku berusaha tenang.


Faza duduk disebelahku, dia mencium keningku lembut dan mengelus rambutku.


Bintang terlihat tidak senang dengan pemandangan didepan matanya saat mantan pacarnya bersikap lembut dengan istrinya. Seharusnya aku yang berada di posisi Daisy saat ini, seharusnya aku wanita yang Faza cium keningnya saat dia pulang kerja, batin Bintang.


"Bintang ayo jelaskan" aku benar-benar berusaha mengontrol marah, rasa kesal, cemburu dan lainnya yang sedang aku rasakan sekarang.


"Faza, aku hamil" ucap Bintang singkat.


"Maksudmu apa?" tanya Faza bingung.


"Iya. Aku hamil anak kamu, Faza" ulang Bintang, wajahnya terlihat tenang.


"Bagaimana bisa?" tanya Faza bingung.


"Lupa dengan kejadian beberapa waktu yang lalu sebelum kamu mencampakkan aku? Sesuatu yang indah terjadi di Hotel Floris? Waktu itu kamu sangat tergila-gila dengan tubuhku bukan?" jelas Bintang.


Pernyataan Bintang membuatku seperti terbang tinggi lalu terjatuh, awalnya aku sangat percaya bahwa Bintang sedang berbohong karena aku yakin Faza tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh seperti itu dengan Bintang.


Wajah Faza terlihat sedikit panik, dia hanya diam, seperti kehabisan kata-kata.


"Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kamu ucapkan, Bintang" kataku.


"Pastinya kamu tidak percaya, tapi malam itu aku dan Faza menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang dan di malam itu juga Faza menjamah semua bagian tubuhku dengan..." Bintang tidak meneruskan kalimatnya, dia melihat ke arah Faza.


"nikmat" lanjut Bintang dengan senyum puasnya.


"STOP!!" bentak Faza.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Bin?" tegas Faza, rahangnya mengeras. Dia benar-benar terlihat kesal.


Aku daritadi berusaha menahan tangisku, kini airmataku sudah mulai turun membasahi pipiku, mengapa Faza melakukan itu? Kenapa dia tega mengkhianati aku seperti ini?


"Daisy, ini hanya salah paham" ucap Faza dengan lembut, dia meremas tanganku.


Aku hanya diam, airmata tidak bisa kuhentikan, rasa sakit, kecewa, marah yang kurasakan saat ini begitu nyata dan membuatku tersiksa.


Bintang mengambil ponselnya dari dalam tas lalu tak lama jarinya lincah seperti mencari sesuatu dari ponselnya.


Bintang menunjukkan sebuah foto kepada aku dan Faza seketika aku terbelalak melihat foto itu.


Foto yang menunjukkan Faza dan Bintang sedang berada diatas tempat tidur tanpa busana, tubuhnya hanya ditutupi oleh selimut berwarna putih, Faza terlihat sedang tidur didalam foto itu.


Aku menatap Faza nanar, aku ingin penjelasan dari Faza tetapi di sisi lain aku tidak ingin mendengar apa-apa darinya, foto itu terlihat jelas sekali.


"Daisy aku bisa jelaskan" bujuk Faza.


Aku hanya diam saja, menahan tangisku sebisa mungkin agar aku bisa berpikir lebih jernih walaupun hanya untuk sesaat.


"Bintang, kamu di malam itu benar-benar menjebakku! Kamu membuatku mabuk dan sengaja merencanakam semua ini?" bentak Faza dengan kasar.


Bintang hanya tesenyum, senyumannya terlihat begitu puas dengan apa yang terjadi saat ini.


"Daisy, dia berusaha menjebakku, Bintang sengaja membuatku mabuk saat itu, lagipula hal itu terjadi di bulan pertama kita menikah. Saat itu aku benar-benar merasa sangat kacau dan kecewa dengan pernikahan kita. Dia mengajakku untuk pergi ke suatu bar dan dia yang membuatku menjadi sangat mabuk, lalu dia membawaku ke hotel, jadi tidak mungkin itu anakku, jika memang dia hamil karena kejadian itu bersamaku, pasti anaknya sudah lahir. Di hari itu, aku memang melakukannya dengan Bintang, tetapi itu untuk pertama dan terakhir kalinya, Daisy" jelas Faza dengan lembut.


"Kamu jahat, mas. Tega banget kamu!!" ucapku dengan kesal.


"Tidak seperti itu, Daisy. Percaya padaku" pinta Faza.


"Bintang, kamu ini keterlaluan ya, kamu benar-benar wanita jahat. Kamu sengaja ingin merusak rumah tanggaku!!" Faza terlihat sangat marah.


"Faza, kita itu bersama-sama sudah lama, sudah empat tahun kita pacaran sampai akhirnya kamu malah menikahi wanita itu. Kita sudah melakukan semuanya, bukan? Dan sekarang aku hamil anak kamu, jadi kita bisa menikah sekarang" ucap Bintang dengan santai.


"Keluar dari rumahku sekarang juga, Bintang" ucapku dengan tegas.


Bintang terkejut saat mendengar aku mengusirnya dari rumah. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi keluar tanpa pamit. Aku benar-benar sudah merasa muak. Muak dengan semuanya. Aku tidak tahu siapa yang benar atau salah. Tetapi Faza..Faza melakukan hubungan intim dengan Bintang disaat dia sudah menikah denganku, ini benar-benar keterlaluan.