The Wedding

The Wedding
38. Rindu Yang Membunuh



Rindu, satu penyakit menyenangkan yang justru sering kali membuat banyak orang merasa merana, merasa sedih dan merasa tersiksa. Terlebih, saat menderita rindu, kamu harus menahan sakit itu sendiri. Ya, sendiri.


Tony menenggelamkan wajahnya pada lipatan kedua tangannya yang berada di atas meja yang terletak di hadapannya. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi. Meskipun tubuhnya terasa begitu lelah, tetapi ia tidak mau putus asa dan tetap terus mencari Cora. Ia sudah mengelilingi Jakarta dan hasilnya sia-sia. Bahkan detektif swasta yang di sewanya pun tidak dapat menemukan istrinya itu. Tony tidak bisa hidup tanpa Cora, kehilangannya saat ini menyadarkannya betapa besar cinta yang ia miliki untuk wanita itu. Ia mencintai Cora dan cintanya kepada wanita itu tumbuh semakin besar setiap harinya, hingga tanpa ia sadari ia tidak bisa hidup tanpa wanita itu di sampingnya.


Tidak bisa hidup tanpanya adalah perkataan paling konyol yang selalu diucapkan seorang yang tengah patah hati. Seharusnya mereka mengatakan tidak bisa hidup tanpa makanan bukan? Karena manusia masih bisa hidup selama tubuhnya dapat mencerna makanan, tetapi bagaimana jika makanan yang dibutuhkan orang yang patah hati adalah orang yang telah pergi itu.


Manusia tidak dapat bernafas tanpa oksigen bukannya karena kehilangan seorang manusia lain yang mengisi hidup mereka, tetapi bagaimana jika udara yang mereka butuhkan adalah orang yang telah pergi dan membawa pergi seluruh kebahagiaan mereka yang patah hatinya. Patah hati dapat membuat seseorang merasa tidak dapat melanjutkan hidup karena semua alasan mereka untuk melanjutkan hidup telah menghilang dengan kepergian orang yang mereka cintai itu.


Tony mengadahkan wajahnya dan menatap langit malam yang tampak begitu indah dari balkon rumahnya. Ia membayangkan wajah wanitanya itu yang tengah tersenyum manis. Ia merindukan senyuman wanita itu, ia merindukan semua hal tentang wanita itu. Ia merasa sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita pemilik hatinya itu. Ia tidak tahu mengapa harus ada yang namanya penyesalan di dalam kehidupan ini, ia tidak tahu bahwa sebuah penyesalan bisa terasa begitu menyiksa dan menyakitkan.


"Cora?" Tony membalikkan tubuhnya saat mendengarkan suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatinya, senyuman di wajahnya menghilang dalam seketika saat ia melihat orang yang berjalan ke arahnya bukanlah orang yang diharapkannya.


"Jhon. . ." Tony berkata dengan lirih, Jhon tersenyum manis dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


"Aku belum bisa menemukan, Cora," ujar Jhon. Ia menatap sendu sahabatnya yang sudah terlihat seperti mayat hidup itu. Penampilan Tony berubah drastis, wajah tampan dan bersih yang biasanya ditunjukan sahabatnya itu telah berubah menjadi wajah yang sangat kusam dan tidak terawat lagi.


Tony sudah tidak mempedulikan penampilannya sendiri, rahang kokohnya telah ditumbuhi oleh bulu-bulu halus dan ia bukanlah Tony yang selama ini Jhon kenal. Jhon tahu kepergian Cora sangat menyiksa sahabatnya itu.


"Cora pergi kemana? aku nggak bisa terus seperti ini, aku nggak bisa hidup tanpa dia di sampingku." Tony berkata dengan lirih, ia kembali menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya, ia menarik rambutnya dengan frustasi. Dadanya terasa begitu sesak, seakan ada sepasang tangan yang mencekik lehernya dan membuatnya tidak dapat bernafas saat ini.


"Aku nggak tahu." Jhon menepuk-nepuk dengan pelan pundak sahabatnya yang terlihat bergetar itu, "Kita pasti bisa menemukannya."


"Aku benar-benar bodoh," Tony bergumam pelan, tetapi Jhon masih dapat mendengarkan gumaman Tony itu.


"Ya, kamu memang bodoh. Aku masih ingat bagaimana kamu dulu Ton. Tony yang terkenal dewasa, cuek dan dingin itu berubah saat mengenal Cora. Senyuman yang tidak pernah menghiasi wajahmu itu selalu hadir saat kamu bersama dengan Cora, butuh waktu satu tahun bagimu untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu mencintai Cora dan menginginkan wanita itu untuk terus berada di sisimu. Kamu sangat bodoh, Tony. Lelaki terbodoh yang pernah kukenal dan mungkin itu yang membuat Cora mencintaimu." Jhon berkata dengan ketus, ia menatap tajam kearah Tony.


Ya, begitulah Tony yang dulu ia kenal, Tony yang selalu cuek dan dingin dengan semua orang disekitarnya, berubah saat kehadiran wanita itu. Kehadiran Cora telah merubah hidup Tony.


Lelaki itu tampak lebih hangat, lelaki itu bisa tersenyum layaknya manusia normal, bukan sebuah senyuman alien yang tampak sangat dipaksakan. Sahabatnya bahagia dan Cora adalah kebahagiaannya.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu hari ini. James bilang kamu nggak ke kantor selama seminggu, kamu menyerahkan semua pekerjaanmu pada James. Kamu terlihat sangat kacau, Tony." Jhon menatap sahabatnya itu dengan iba, Tony hanya tersenyum tipis ke arah sahabatnya itu. Ia tahu saat ini penampilan maupun pekerjaannya terlihat sangat berantakan. Wanita itu telah menjungkir balikkan dunianya.


"Aku masih hidup Jhon, jika itu yang ingin kamu pastikan." Tony berkata dengan datar, setidaknya ia harus tetap hidup agar ia bisa terus mencari Cora dan membawa wanita itu kembali ke sisinya.


"Baguslah, jangan mati sebelum kamu membawa Cora kembali ke rumah ini." Jhon tersenyum manis, "Apa kamu sudah mencari Cora ke Paris? Cora sangat menyukai Paris, mungkin saja Cora menetap di sana." Jhon melanjutkan perkataannya.


"Sudah Jhon, Cora tidak ada di Paris, firasatku mengatakan dia masih di Indonesia, tapi aku nggak tahu di mana dia. Bagaimana caranya aku bisa menemukan Cora? Aku sangat merindukannya." Tony mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Rasanya aku ingin mencekikmu saat ini, Tony. Mengapa lelaki jenius sepertimu bisa menjadi sebodoh ini dan menyia-nyiakan wanita yang kamu cintai." Jhon berkata dengan sarkastis.


"Kamu tahu Jhon, cinta itu adalah perasaan yang tidak dapat kita kontrol. There is no rules in lovedan terkadang cintamembuat seseorang menjadi seorang pengecut." Tony berkata dengan lirih.


Tidak ada peraturan dalam cinta. perasaan itu mengalir begitu saja, seperti sebuah sungai yang terus mengalir tanpa harus diberitahukan kemanakah ia harus mengalir, seperti itu jugalah perasaan cinta. Cinta selalu membuat kita terhanyut mengikuti arusnya. Terkadang kita bisa menjadi egois, bodoh, bahagia dan sedih saat kita merasakan sebuah perasaan bernama cinta itu. Tidak ada yang bisa menebak bagaimanakah akhir dari sebuah kisah cinta dan tidak ada yang bisa merencanakan sampai manakah sebuah kisah cinta akan berakhir. Tony tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, cinta yang sudah menghiasi hatinya itu membuatnya menjadi seorang lelaki yang sangat bodoh dan egois.


"Ya, aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.Cinta itu memang perasaan yang aneh. Sampai sekarang aku nggak mengerti bagaimanaperasaan yang bernama cinta itu bekerja. Perasaan itu tidak dapat kita artikan dengan jutaan kata-kata."


Jhon tersenyum miris dan menghela nafas panjang, "Teruslah berjuang untuk cintamu itu. Aku dan Michael akan membantumu mencari Cora. Ingat pesanku, jangan mati sebelum kamu menemukan Cora. Walaupun otakmu tidak membiarkanmu untuk memikirkan hal lain selain Cora, tapi kamu harus berusaha memikirkan kesehatanmu. Cora pasti tidak akan senang melihat keadaanmu sekarang" Jhon melanjutkan perkataannya dan tersenyum manis.


Tony tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Aku pergi dulu ya, jaga kesehatanmu, Tony." Jhon menepuk pelan pundak sahabatnya itu dan pergi meninggalkannya. Ia merasa lega saat melihat Tony yang masih bernyawa. Walaupun penampilan Tony jauh dari kata baik, tetapi ia masih bernyawa. Itu lebih baik dari pada ia harus melihat sahabatnya itu melakukan hal bodoh dan menghilangkan nyawanya yang sangat berharga.


.


...***...


🌷🌷🌷


.