The Wedding

The Wedding
Manisnya cemburu



Buru-buru aku turun dari mobil, rasanya ingin segera menjauh dari Faza, sudah terasa sangat gerah berada didekatnya seharian ini. Teringat kembali saat Faza menerima telpon diacara makan malam Om Hary dan Bintang yang sedang berusaha mendekati Bianca membuat hatiku kacau tidak karuan.


Faza bingung melihat sikap Daisy yang daritadi hanya diam, tidak bicara sedikitpun selama diperjalanan. Dia berusaha mengejar Daisy tetapi langkah Daisy sangat cepat, kini dia sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Tidak berhenti sampai disitu, Faza mengetuk pintu Daisy.


Tok tok..pintu kamar diketuk dan sesekali terdengar suara Faza memanggilku. Aku mengabaikannya, aku melepas bajuku dan bersiap untuk mandi. Setidaknya air yang mengalir ditubuhku akan menenangkan otakku karena beberapa hal menyebalkan yang terjadi dari kemarin.


Faza masih getol mengetuk pintu kamar Daisy, sudah beberapa hari ini memang aku dan Faza pisah kamar, tepatnya semenjak kejadian dia ingin memperk*sa aku. Rasanya masih belum siap untuk bisa sekamar dengannya lagi.


Belum sempat masuk ke dalam kamar mandi, aku mendengar Faza bicara sesuatu.


"Daisy, aku tahu kamu didalam dan tidak ingin membuka pintu. Tapi masalahnya apa? Kenapa kamu tiba-tiba diam?" tanya nya.


Masalahnya apa? Memang benar-benar ya itu makhluk satu engga ada sadar-sadarnya kalau dia menyakiti aku kemarin dengan mengatakan bahwa dia masih mencintai Bintang, jelas-jelas itu mantan kekasihnya dan sekarang dia tanya masalahnya apa, benar-benar engga peka deh nih orang, gerutuku.


"Daisy buka pintu nya atau aku dobrak pintunya" ancam Faza.


Aku hanya diam, bagaimanpun sepertinya aku memang jatuh cinta dengan suamiku, rasanya tidak bisa mengabaikan dia seperti ini walaupun dia seringkali mengabaikan aku ataupun perasaan aku.


Akhirnya aku pun kembali kalah karena nya, aku membuka pintu. Wajah Faza terlihat kesal, mungkin karena sudah sekitar lima belas menit dia berdiri didepan kamarku dan mengetuk-ngetuk pintu.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya nya.


"Peduli kamu apa?" tanyaku balik, baru kali ini aku tidak memanggilnya mas selama menikah dengannya.


"Kamu ini bicara dengan suami seperti ini sopan santunnya?" ucap Faza kesal.


"Suami? Suami yang seperti apa? Suami yang terus-terusan mencintai mantan kekasihnya dan mengabaikan istrinya?" jawabku ketus.


"Ya ampun kamu ini kenapa, Daisy?" kata Faza berusaha menahan kesalnya, dia merendahkan suaranya hingga terdengar lembut.


"Hari ini mas telpon siapa di acara Om Hary?" tanyaku langsung pada intinya.


"Bintang lagi?" tanyaku.


"Iya" jawabnya, dia menundukkan kepalanya.


"Ya sudah mas, engga ada yang perlu kita omongin lagi ya. Aku sudah cukup muak dengan sikapmu itu" aku menutup pintuku kembali namum Faza menahannya.


"Daisy, aku berusaha" katanya sambil menahan pintu kamarku agar tetap terbuka.


"Berusaha apa?" tanyaku bingung.


"Mencintai kamu" jawabnya, sorot matanya menunjukkan bahwa kalimat yang dia ucapkan itu sungguh-sungguh.


"Mencintai itu bukan dipaksakan ataupun diusahakan, mencintailah dari hati. Seperti mas mencintai Bintang, tanpa paksaan ataupun usaha untuk mencintainya kan? Semuanya tulus dari hati. Benar kan?" jelasku.


Faza terdiam, hanya menatapku, aku sudah tidak menahan pintuku lagi agar tertutup, aku sudah lelah, hanya untuk menahan rasa sakit dihatiku yang aku rasakan saat ini saja terasa sangat melelahkan seolah-olah menguras seluruh energiku.


"Daisy, mungkin tanpa kusadari aku sangat membutuhkanmu dalam hidupku, kamu membawa banyak perubahan dalam hidupku. Aku berusaha untuk melepas Bintang dari hatiku dan aku bisa mencintaimu sepenuh hati. Tapi memang aku butuh waktu untuk itu semua. Aku mohon. Beri aku kesempatan untuk benar-benar bisa mencintaimu. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, Daisy. Pasti kamu sangat tidak bahagia denganku, tapi izinkan aku untuk benar-benar bisa membahagiakanmu dan menjadikan kamu ratu dalam hidupku" jelas Faza, tatapan matanya masih lurus menatap mataku yang kini sudah menggenang airmata.


Aku memalingkan wajahku, rasanya tidak bisa berlama-lama menatap mata Faza. Dia itu seperti orang yang bisa menghipnotis, jika menatap matanya lama-lama bisa jadi jatuh hati. Lagipula aku tidak ingin dia tahu bahwa airmataku sudah siap terjun bebas dipipiku.


"Aku mau mandi, kalau mas tetap mau berdiri didepan pintu, aku biarkan pintunya terbuka" kataku dingin dan pergi meninggalkan Faza sembari menghapus airmataku.


Baru saja beberapa langkah aku menuju kamar mandi, Faza memelukku dari belakang. Tidak bicara apa-apa, hanya diam dan memelukku dengan erat. Aku pun diam, mengizinkan suamiku untuk memberikan pelukannya.


"Kau membuatku gila, Daisy" ucapnya.


"Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, di awal pernikahan, aku pikir aku akan bisa menarik diriku untuk jauh darimu meskipun kamu adalah istriku, karena aku hanya mencintai Bintang saat itu. Tapi aku salah besar, kamu adalah wanita yang sangat baik, kamu mengurusku, merawatku, melayaniku dengan sangat baik walaupun aku mengabaikan segala kewajibanku sebagai suami, tapi kamu tetap melakukannya dengan baik. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku sangat membutuhkan kamu dan aku..." Faza tidak meneruskan kalimatnya.


Aku hanya terdiam mendengar dan menyimak baik-baik apa yang Faza katakan saat ini, walaupun tetap luka dihatiku masih terasa nyata sakitnya.