The Wedding

The Wedding
Apakah ini akhir?



"Keluar dari rumahku sekarang juga, Bintang" ucapku dengan tegas.


Setelah Bintang meninggalkan rumahku, aku bergegas masuk ke dalam kamar yang terletak di lantai bawah. Faza mengikutiku dari belakang, dia masih berusaha menjelaskan semuanya untuk kesekian kali. Aku tidak ingin mendengar penjelasannya lagi, saat ini sudah terlalu muak untuk mendengarkan penjelasan apapun. Aku benar-benar merasa sangat sakit hati dan dikhianati.


Memang hubunganku dengan Faza baru saja beberapa bulan terakhir ini membaik, tetapi aku sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk mengkhianati dia sejak awal pernikahan kami, meskipun sikap Faza kepadaku dapat dikatakan jauh dari kata baik.


Tapi apa yang dilakukan Faza bersama Bintang? Dia mengkhianatiku sekian lama dalam pernikahan kami dan sekarang Bintang mengaku sedang mengandung anak dari Faza, itu sudah diluar batas aku bisa menerimanya.


Aku duduk di lantai, terdiam. Aku berusaha untuk berpikir jernih. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bertahan atau menggugat cerai Faza? Tetapi aku sedang hamil, aku tidak bisa bercerai begitu saja. Tunggu sampai anak ini lahir. Apa aku pulang saja ke rumah Mama? Ah..entahlah otakku seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi, aku menghela nafas pelan.


"Daisy.." panggil Faza lelah, dia berada di balik pintu kamar Daisy dan duduk di lantai bersandar pada pintu kamar.


"Aku mohon, Daisy. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku memang salah, aku selingkuh dalam waktu yang cukup lama dengannya. Tetapi percayalah aku hanya sekali saja berhubungan intim dengannya, itupun karena dia sengaja menjebakku, di awal bulan pernikahan kita dan itu untuk pertama dan terakhir kalinya, anak itu bukan anakku, anak yang sedang dalam kandungan dia bukanlah anakku, Daisy. Demi Tuhan aku berani bersumpah, itu bukan anakku, jika kau benar-benar tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA" jelas Faza untuk kesekian kalinya.


Aku hanya terdiam, menenggelamkan kepalaku ke dalam tanganku. Aku harus bisa mengambil keputusan, rasanya ingin sekali percaya dengan Faza tetapi bukti nya terlalu kuat sehingga sulit untukku menerima kenyataan ini dan penjelasan dari Faza.


Esok harinya, aku sibuk memasukkan baju-bajuku ke dalam koper, semalaman aku sudah memikirkan keputusan yang aku ambil yaitu pulang ke rumah orangtuaku saja, aku merasa jika terus berhadapan dengan Faza, aku tidak sanggup.


Ku buka pintu kamar berharap bahwa Faza tidak berada di sekitar. Benar saja, aku tidak melihat keberadaan Faza di sekitar ruangan, rumah terlihat kosong. Aku buru-buru menarik koperku, sesampainya di ruang tamu, tangan kananku menarik gagang pintu dan membukanya, belum sempat keluar rumah saat aku hendak menarik koperku, dari sisi luar aku melihat mobil Faza memasuki pelataran rumah.


Aku segera mengeluarkan koper dari dalam rumah, Faza langsung menyadari keberadaanku dan ia segera menyusulku, tangan kanannya membawa tas belanja dan tangan kirinya membawa kotak berisi makanan.


Faza langsung meletakkan belanjaannya di bawah jendela rumah yang terletak tidak jauh dari tempat aku berdiri dan dia segera menahan koperku.


"Daisy kamu mau kemana?" sergahnya.


"Aku mau pulang ke rumah mama saja, mas" jawabku tanpa melihat ke arah Faza, aku masih sibuk menarik koperku yang terasa sangat berat.


"Daisy, kita selesaikan masalah ini secara baik-baik. Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu apa yang terjadi dan tidak ada satupun yang aku tutup-tutupi. Percayalah, Daisy. Anak yang dikandung Bintang saat ini bukanlah anakku" jelas Faza, sempat kupandang matanya, dia terlihat sangat bersungguh-sungguh.


"Mas, aku butuh waktu sendiri, lagipula aku tidak menyangka perselingkuhan kalian sudah sejauh ini, mas" jawabku pelan.


"Tolong kamu jangan pulang ya, bagaimana jika Mamamu sampai menanyakan hal ini, Daisy?" ucap Faza kebingungan.


"Cerita apa adanya saja kenapa aku harus menutupi masalah ini kepada Mama" jawabku sedikit sinis, entah mengapa kalimat yang dilontarkan Faza membuatku semakin merasa kesal.


"Daisy tapi orangtuamu akan sangat khawatir, aku pun tidak ingin hal itu semakin memperkeruh suasana" kata Faza masih terus menatapku.


"Mas, jangan bersikap egois dulu ya kali ini, aku butuh waktu untuk sendiri, terus bersamamu membuat luka dihatiku semakin dalam, adanya luka ini juga karena kamu, mas. Sekarang kamu malah melarangku untuk pulang? Apa ini adil?" tanyaku pasrah.


"Kamu harus turuti perintah suamimu, Daisy!" ucap Faza kesal.


"Kali ini aku engga peduli, mas. Kejadian ini saja sudah membuatku sangat terluka. Aku berhak untuk menenangkan pikiran dan diriku sendiri dengan caraku" kataku berusaha tetap tenang dan sabar.


"Engga bisa, kamu harus tetap bersamaku!" perintah Faza.


Tak lama mobil taksi berhenti di depan rumahku, taksi yang kupesan sudah datang. Aku tersenyum ke arah supir taksi dan tanganku memberi isyarat tunggu.


"Aku pamit, mas" ucapku sembari menarik koperku dan berlalu begitu saja.


Faza membalikkan badannya dan melihatku pergi, sepertinya dia ingin menghentikkan langkahku tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semenit kemudian taksi pun melaju dijalanan menuju rumah orangtuaku.