The Wedding

The Wedding
Bertemu kembali (2)



Tiinngg....ponselku berdering tanda pesan masuk. Aku terkejut saat nama yang kulihat dilayar ponselku. Faza?


Aku pelan-pelan membuka layar kunci ponselku lalu kubaca pesan dari Faza.


From : Faza


Daisy, masih di mall sekarang?


Aku mengerutkan keningku. Bingung. Faza tidak pernah menghubungiku lebih dulu dan sekarang dia mengirimku pesan hanya menanyakan apa aku masih disini atau tidak, kataku dalam hati. Aku menggigit pelan bibirku.


To : Faza


Iya, aku masih sama Reina disini. Ada apa?


From : Faza


Kita bisa nonton setelah kamu pulang jalan dengan Reina?


Aku semakin mengerutkan keningku. Ini pertama kalinya Faza mengajakku jalan setelah terakhir pertemuan kami saat berkenalan beberapa tahun yang lalu.


To : Faza


Boleh, sebentar lagi kita selesai jalan kok, nanti aku tunggu ya.


From : Faza


Okay, aku jalan sekarang ya.


Aku tidak membalasnya lagi, aku mencoba menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otakku saat ini.


Satu jam kemudian aku sudah bersama Faza. Akhirnya aku bisa menghindar dari kehebohan Reina saat dia tahu aku dan Faza akan nonton bersama. Untung saja kekasih Reina cepat menjemput dia, jadi aku tidak perlu terlalu lama mendengar ocehan Reina yang sangat girang melihat kami jalan berdua.


Memang Reina ingin sekali aku bisa menjalin hubungan asmara dengan pria yang sedang jalan bersamaku ini. Tapi aku tidak merasa bahwa Faza tertarik denganku, aku yakin dia hanya menganggapku teman saja tidak lebih dari itu. Walaupun, aku sempat menyukainya.Tapi kutepis perasaanku itu cepat-cepat.


Setelah acara nonton di bioskop selesai, aku dan Faza memutuskan untuk makan malam bersama. Faza memang asik untuk diajak bicara, banyak hal yang bisa dibahas dengannya. Tapi tetap saja aku bisa melihat sorot matanya tidak ada rasa suka denganku.


"Ini pertama kalinya ya kita jalan" katanya sambil menyuap makanan kedalam mulutnya.


Aku langsung mengedipkan mataku disaat sadar daritadi aku memperhatikannya.


"Aah..iyaa, pertama kali setelah beberapa tahun kenal denganku ya" jawabku asal. Entah kenapa aku sekarang malu karena daritadi aku seperti terhipnotis olehnya.


"Aku sibuk kerja terus, tidak sempat untuk mengajak Daisy jalan. Jangankan untuk ajak jalan, kita juga engga pernah berikirim pesan kan?" tanya nya


"Haha memang, cuma sama-sama simpan nomornya saja" kataku sambil sedikit tertawa


"Daisy saat ini punya pacar?" tanya Faza


"Hmm engga punya" kataku singkat, hampir satu tahun yang lalu sih aku masih punya pacar, aah..rindu sekali dengan Fariq, batinku.


Kami diam, sibuk untuk menghabiskan makan malam kami.


Setengah jam kemudian, kami sudah menyelesaikan makan malam. Aku melihat jam tangan berwarna maroon ditangan kiriku. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ya ampun sudah malam, bus sudsh tidak ada, mama papa pasti marah ini, kataku cemas dalam hati.


Seperti membaca pikiranku, Faza menawarkan tumpangan untukku.


"Yuk, aku antar pulangnya" kata Faza


"Engga usah, Faza. Ngerepotin kamu. Aku biar naik ojek online saja" kataku sambil tersenyum.


"Engga apa-apa, yuk" kata Faza, melangkahkan kaki nya menuju parkiran.


Aku mengikutinya berjalan berdamlingan dengannya.


"Terima kasih sebelumnya sudah antar aku pulang" kataku malu-malu


"Engga apa-apa santai saja" kata Faza datar, kini mobil Brio merah sudah menuju jalan utama ke rumahku.


Aku hanya diam memandang suasana kota dimalam hari, aku menikmati lampu-lampu jalanan, orang-orang yang masih menikmati dinginnya malam dipinggir jalan, entah mengapa pikiranku melayang ke seseorang yang kini sudah tidak bersamaku lagi, Fariq.


Aku merindukannya, batinku.