The Wedding

The Wedding
Happiness



Aku sengaja bangun sedikit lebih siang hari ini, karena kupikir ini hari libur jadi aku bisa bebas untuk bermalas-malasan. Aku duduk dipinggir tempat tidurku, berusaha menyadarkan diri. Ku raih ponsel yang berada didekatku, mengecek beberapa pesan yang masuk.


Saat aku sedang santai membaca pesan diponselku, lagi-lagi rasa mual itu datang kembali dan aku merasa pusing. Teringat kemarin saat aku ingin mengambil obat maag ku, Faza datang menghampiriku. Ku gigit bibir bawahku, memikirkan aku harus bersikap bagaimana jika bertemu Faza hari ini, dia juga pasti ada dirumah karena libur.


"Daisy, apa kamu sudah bangun?" suara pria yang ada dipikirkanku terdengar jelas.


Ya ampun aku sudah mulai berhalusinasi, memikirkan Faza sampai-sampai aku mendengar suaranya memanggilku, pikirku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menyadarkan diriku.


"Daisy sayang, kamu sudah bangun belum? Aku sudah buatkan sarapan untukmu" panggil Faza.


Ah sepertinya ini bukan halusinasiku, tapi memang suara Faza didepan pintu kamarku. Baru saja aku ingin membuka pintu kamarku, aku sudah tidak tahan menahan rasa mualku, akhirnya aku kembali muntah-muntah.


Ugh..aku tidak suka muntah tapi aku kenapa dari kemarin hmm..sebenarnya dari beberapa hari yang lalu aku merasa mual dan pusing.


Aku terdiam sesaat, aku teringat akan suatu hal, bulan ini aku telat datang bulan, buru-buru aku mengambil test pack alat untuk tes kehamilan yang kubeli beberapa bulan yang lalu setelah aku melakukan "malam pertama" dengan Faza.


Setelah masuk kedalam kamar mandi, aku berdiam diri, entah mengapa jantungku mulai berdebar, kubuka bungkus test pack itu dan mulai mengambil alatnya, lalu dengan urin, sesaat aku menunggu hasilnya. Tak lama garis merah pun muncul dan dua garis yang terlihat.


Aku menutup mulutku yang menganga lebar, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Kupu-kupu bertebangan didalam perutku. Aku benar-benar merasa sangat bahagia. Aku menangis haru, bersyukur akan hal yang terjadi saat ini. Akhirnya aku mengandung anak dari Faza.


Test pack yang kupakai, aku simpan baik-baik. Aku ingin memberi kejutan kepada Faza saat ini juga. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat bahwa aku sedang amat sangat bahagia.


Aku keluar kamar dengan wajah dingin, Faza yang sudah duduk dimeja makan langsung menyadari kehadiranku. Dia menarik kursi untuk aku duduk, lalu dia mengambil nasi goreng sambal roa dan ayam goreng, tidak tertinggal beberapa sayuran yang direbus. Lalu dia menuangkan air putih digelasku di sisi kanan, lalu dia mengambil gelas lain untuk menuangkan jus jeruk disisi lainnya.


Ternyata dia jago masak juga, batinku. Untuk ukuran Faza yang seperti ini, dia memang termasuk suami idaman, sudah tampan, baik juga sebenarnya, pintar masak, semangat mencari nafkah, pintar di ranj*ang pula, ya ampun apa yang kupikirkan, batinku.


"Yuk kita makan" ajak Faza mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Aku pun mulai menyuap makanan tanpa kata, hmm..rasanya enak sekali masakan Faza, batinku.


"Ini mas masak sendiri semuanya?" tanyaku sangsi.


"Iya aku siapin semuanya" jawab Faza tenang.


"Tapi mas sendiri kah yang masak?" tanyaku ulang.


"Iyaa doong, kamu engga percaya?" balas Faza.


Aku menatapnya penuh ragu.


"Bukan aku sih yang masak, aku beli di restoran tadi malam, jadi aku hangatkan untuk makan pagi, tapi makanannya masih enak kan? Engga basi kok" bela Faza.


Okay fix, aku coret bagian dia jago masak, ternyata dia dapat beli di restoran, pantas saja rasanya seenak ini, gerutuku dalam hati.


"Daisy" panggil Faza.


"Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian kemarin. Aku sama sekali sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Bintang. Setelah berjanji denganmu, aku benar-benar menepatinya" jelas Faza, dia menghentikkan aktifitas makannya.


Aku masih diam, aku masih terus mengunyah makananku yang terasa enak dimulutku.


"Aku bersungguh-sungguh Daisy" lanjut Faza, dia meremas pelan tanganku.


"Aku mencintaimu, istriku"


Aku mengambil gelas air putih dan mulai meminumnya sedikit. Aku hampir tersedak ayam goreng dan nasi goreng saat mendengar ucapan Faza.


Istriku? batinku senang. Aku mencoba mengontrol rasa senang saat ini karena mendengar panggilan istri yang baru saja diucapkan Faza.


"Aku sudah memaafkanmu, mas" ucapku masih dengan ekspresi yang dingin.


"Benarkah?" wajah Faza terlihat sangat ceria.


Aku menganggukkan kepala dan meminum sedikit jus jeruk.


"Bagaimana bisa sih aku tidak memaafkan calon ayah yang tampan?" ucapku santai lalu mulai menghabiskan sisa makananku dipiring.


Kulirik Faza yang mengernyitkan dahinya, tampak kebingungan yang tersirat disana.


"Maksudnya? Siapa calon ayah?" tanya Faza.


"Mas Faza Biantara" jawabku.


"Maksudnya..sebentar..maksudnya aku calon ayah?" tanya Faza semakin bingung.


Aku tidak menjawab pertanyaan Faza, aku masuk kedalam kamar dan keluar untuk menunjukkan sesuatu kepada Faza. Benar, test pack yang menunjukkan dua garis merah yang aku pakai untuk mengetes kehamilan, aku tunjukkan pada Faza.


Mata Faza terbelalak, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Daisy istriku kamu hamiil sayang, kamu mengandung anak kitaaa!!!" teriak Faza senang, dia langsung beranjak dari kursi makannya dan memelukku erat.


Aku tersenyum lebar, aku benar-benar merasa bahagia dan bersyukur, kehidupanku seperti sudah lengkap, suami yang mencintaiku dan sedang mengandung anaknya.


Faza menciumku berkali-kali. Aku hanya tertawa geli saat dia terus menciumku, pelukannya tak lepas, seakan-akan dia tidak ingin melepas pelukannya. Aku menikmati saat-saat kebahagiaan ini datang.


"Kita harus segera memberitahu keluarga kita ya" ucap Faza semangat lalu dia buru-buru mengambil ponselnya dan mulai sibuk mencari kontak di phone book nya.


Aku mengangguk, entah aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tak lama Faza sudah mulai sibuk dengan telponnya, dia menelpon kesana kemari menyebarkan kabar bahagia, tanggapan dari keluarga kami pun sangat baik dan bahagia. Semua bahagia, aku amat sangat bersyukur bisa membuat orang-orang disekitarku bahagia.