The Wedding

The Wedding
36. Finding You



( Flashback )


Tony berlari pelan menelusuri lorong rumah sakit. Ia menghentikan langkahnya didepan kamar VIP yang ditempati oleh Cora. Dengan nafas yang terengah-engah ia berdiri tepat di depan pintu berwarna putih itu. Setelah mendapat kabar dari ayah Cora, Tony langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit itu. Cora yang mengalami koma selama enam bulan, tiba-tiba saja terbangun dari komanya. Kabar itu membuat Tony bahagia dan ingin segera menemui wanita yang dicintainya itu.


"Doa kami sudah terkabul. . ." Charista berkata dengan terisak, "Kami masih diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menjagamu. Mama sangat mencemaskanmu sayang dan Tony tidak pernah berhenti menjengukmu dirumah sakit ini, dia selalu berada disampingmu selama enam bulan ini." Charista memeluk erat tubuh putrinya, ia mengelus-elus puncak kepala Cora.


"Siapa Tony?" Cora mengerutkan keningnya Charista melepaskan pelukannya dan menatap Cora dengan penuh tanya. Perkataan wanita itu membuat langkah Tony terhenti, ia berdiri terpaku di hadapan pintu rumah sakit itu dan ia menatap sendu wajah wanitanya itu melalui celah pintu yang sedikit terbuka.


"Apa maksudmu Cora? kamu tidak mengenal Tony, Anthony eul Collin?" Charley menatap heran putrinya yang melupakan tunangannya itu.


"Apa dia temanku? apa aku mengenal seseorang yang bernama Anthony eul Collin?" perkataan Cora seakan sebilah pisau yang menusuk jantung Tony. Ia merasakan sakit yang luar biasa dihatinya saat ini, iamenatap sedih wajah Cora yang kebingungan saat mendengar namanya. Wajah wanita itu yang terlihat berpikir keras saat mendengar namanya dan semua itu membuat hati Tony perih. Wanitanya itu telah melupakannya.


"Kepalaku sakit ma," Cora memijat-mijat kepalanya, "Cora tidak mengenal Anthony itu, Cora ingin tidur." Cora merebahkan tubuhnya, ia merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar nama itu. Hati maupun kepalanya menjadi begitu sakit, sakit yang tidak dapat ia mengerti alasannya.


Tony tersenyum miris saat mendengarkan perkataan wanitanya itu. Wanitanya itu begitu dekat, tetapi terasa begitu jauh. Nama wanita itu selalu ada di dalam setiap doanya, tetapi wanita itu tidak dapat mengingat namanya. Wanita itu selalu ada di dalam hati maupun benaknya, tetapi ia tidak tahu mengapa wanita itu bisa melupakannya begitu saja.


Ayah Cora yang melihat kehadiran Tony mulai berjalan menghampiri lelaki itu. Charley menutup rapat pintu di samping mereka dan menepuk pundak Tony dengan pelan. "Dia melupakanmu Tony, mungkin itu yang terbaik buat kalian. Papa mohon jauhi Cora, dia lebih baik tanpamu Tony. Papa tidak mau dia mengingat kejadian di masa lalu yang akan membuatnya terluka. Jika kamu mencintai Cora, kamu pasti ingin melihatnya bahagia bukan?" Charley menatap Tony dengan intens.


Tony tidak dapat berkata apapun, ia tahu bahwa selama ini ia selalu membuat Cora terluka, mungkin Cora berharap untuk melupakannya dan sekarang wanita itu benar-benar telah melupakannya.


"Cora butuh waktu. . . jika memang kalian ditakdirkan bersama, dia akan kembali padamu, tetapi sekarang bukanlah saatnya. Papa mohon dengarkan permintaan papa ini. . ." Charley berkata dengan lirih. Tony tersenyum lirih dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia melihat pintu di sampingnya yang telah tertutup rapat itu dengan tatapan sendu, lalu ia berjalan meninggalkan Charley.


Menyerahkan semuanya pada takdir? Bisakah ia berharap takdir akan mempersatukan mereka kembali? Bukankah takdir itu kejam. Takdir memperlakukannya dengan tidak adil. Bagaimana takdir yang kejam itu bisa menyatukan mereka kembali, bagaimana jika ia ingin melawan kehendak takdir dan merebut kembali satu-satunya wanita yang ia inginkan itu.


( End Of Flashback )


...***...


Tony merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa yang berada didalam kamarnya. Ia menatap kosong langit-langit kamarnya. Kamar itu terasa begitu sepi tanpa kehadiran wanitanya itu dan semua hidupnya terasa begitu sepi bagaikan kamar yang ditempatinya itu.


Tony memijat-mijat pelipisnya, sudah selama satu minggu ia tidak dapat memejamkan matanya. Saat ia ingin memejamkan matanya, ia teringat akan wajah Cora yang terlihat begitu terluka. Hatinya terasa begitu sesak dan perih saat mengingat wanita itu, wanita yang tidak pernah sedikitpun menghilang dari hati maupun pikirannya.


Wanita yang ia relakan untuk pergi meninggalkannya, wanita yang ia relakan untuk pergi dari sisinya. Walaupun jauh didalam hatinya ia tidak ingin kehilangan Cora untuk yang kedua kalinya, tetapi ia tidak bisa bertindak egois. Kebahagiaan Cora adalah mimpi terbesarnya, jika cintanya itu hanya menyakiti wanitanya itu, lebih baik ia memilih untuk mengalah dan membiarkan perasaannya sendiri yang tersakiti. Hidup tanpa Cora sama dengan kematian, tubuhnya masih bernyawa, tetapi tidak dengan hatinya. Wanita itu telah membawa hatinya pergi bersama dengan kepergian wanita itu.


"Tony, keluar kamu!!" Charley berteriak didepan kamar menantunya itu, Tony yang mendengar suara mertuanya dengan cepat membuka pintu kamarnya.


"Dukk. . ."


Charley melepaskan sebuah tinjuan tepat ke wajah Tony, Tony meringis kesakitan saat menerima pukulan dari mertuanya itu. Ia menatap heran kedua mertuanya yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.


"Kamu apakan Cora? kamu mengkhianati kepercayaan kami. . . kami memberikanmu kesempatan kedua untuk membuat Cora bahagia, bukan membuatnya terluka. Kemana Cora?" Charley berteriak kearah Tony, Tony terkejut saat mendengarkan pertanyaan dari mertuanya itu.


"Sudah pa. . . kita sambil duduk saja bicaranya. Mungkin nak Tony bisa menjelaskan sesuatu kepada kita." Charista menggenggam lengan suaminya dengan erat, Tony keluar dari kamar dan menuntun mertuanya untuk duduk di sebuah sofa yang terletak tidak jauh dari kamarnya.


Mereka bertiga duduk dan saling bertatapan, keheningan menjebak ketiganya sebelum Charista menyerahkan selembar kertas kepada Tony. "Ini surat dari Cora, surat ini baru tiba tadi pagi. Kamu punya penjelasan?" Tony mengambil kertas itu dari tangan Charista. Ia membaca surat yang dikirimkan Cora kepada kedua orangtuanya itu.


...***...


Dear mama dan papa,


Maafin Cora ya ma...pa...


Cora nggak bisa berpamitan langsung sama mama dan papa, Cora harus pergi kesuatu tempat. Cora ingin menemukan arti kehidupan disana. Tolong jangan mengkhawatirkan keadaan Cora, jangan mencari Cora. Cora mohon percaya kepada Cora, percayalah kalau putri kalian ini selalu hidup bahagia disana nanti, Cora akan selalu tersenyum bahagia. Cora janji suatu saat nanti jika Cora sudah menemukan arti kehidupan dan Cora sudah siap untuk kembali, Cora akan kembali kepada kalian. Tolong jangan salahkan Tony atas kepergian Cora, kepergian Cora tidak ada kaitannya dengan Tony. Mungkin dia juga tidak mengetahui kepergian Cora ini. Cora meninggalkan Tony karena Cora sangat mencintainya. Love you both. Semoga mama dan papa selalu dalam keadaan sehat sampai kita bertemu kembali.


From : Your daughter


.


...***...


🌷🌷🌷


.