The Wedding

The Wedding
40. Sebuah Kebenaran



Detik demi detik telah berlalu, menit demi menit telah berlalu, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Waktu berjalan begitu cepat, tanpa Cora sadari ia sudah satu tahun berada di desa Sukamandang. Semuanya berjalan dengan baik disana. Ia dapat tersenyum lebar walaupun hatinya menangis. Cora mengajar disalah satu sekolah dasar didaerah itu. Ia mengajar di sebuah sekolah yang sangat kecil dan jauh dari kata baik sebagai sebuah sekolah, keadaan sekolah itu membuat hati Cora perih saat pertama kali ia melihatnya. Hatinya terasa begitu sedih saat melihat bangunan yang tidak layak disebut sebagai sebuah sekolah itu. Semua orang didesa itu menyambut rombongan dari yayasan mereka dengan hangat. Cora sudah dekat dengan para warga maupun murid-muridnya, hampir seluruh orang di desa itu mengenal Cora dan para teman-teman dari yayasannya.


Saat ia tidak ada aktifitas apapun, ia suka duduk termenung memandang perkebunan kelapa sawit dan pepohonan yang masih banyak di desa itu. Udara desa itumemang tidak sesegar udara di pegunungan yang ditumbuhi dengan pepohonan berwarna hijau, tetapi udara di sana masih jauh lebih baik daripada udara di Jakarta yang sudah penuh dengan polusi. Kegiatannya di desa Sukamandang itu dapat membuat Cora bisa tersenyum kembali. Walaupun terkadang senyum yang ditunjukannya itu masih tersirat sedikit luka, tetapi Cora selalu berusaha untuk selalu tersenyum bahagia.


Walaupun ia bahagia dengan kegiatan barunya itu, tetapi entah mengapa jauh di lubukhatinya, ia merasakan sesuatu yang tidak benar. Ia merasakan kekurangan dan tidak lengkap,seakan ada yang menghilang dari dalam dirinya. Ia merasa masih ada sesuatu yang hatinya itu inginkan, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan di desa terpencil itu.


"Ini makanan buat kamu." Andri menepuk pelan pundak Cora dan membuat wanita cantik itu tersadar dari lamunan panjangnya. Andri mengulurkan sebuah kotak makan berwarna hijau kepada Cora, dengan segera Cora menyambut kotak makan yang diberikan Andri kepadanya itu.


"Thanks." Cora tersenyum manis.


"You are welcome." Andri tersenyum manis dan duduk di tempat kosong yang berada di sebelah Cora.


"Besok kita ke Papua, kamu sudah membereskan barang bawaan kamu?"


"Udah beres semuanya, tinggal berangkat aja. Sedih rasanya ninggalin desa ini. aku pasti bakalan rindu sama semua orang yang ada disini." Cora menatap kosong pepohonan dihadapannya. Ia sudah begitu dekat dengan semua orang yang ada di desa itu. Ia merasa sedih meninggalkan desa yang sudah ditinggalinya selama satu tahun lamanya itu. Tidak mudah untuk membiasakan diri di tempat baru, tetapi itu sudah menjadi kewajiban dari kegiataan barunya itu. Semua relawan di yayasan itu harus cepat beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.


"Aku nggak nyangka wanita cantik dan kaya raya seperti kamu betah tinggal ditempat terpencil seperti ini." Andri tersenyum manis kepada Cora.


"Siapa bilang aku kaya raya?" Cora menaikkan sebelah alisnya.


"Nggak ada yang bilang juga udah kelihatan dari wajah kamu, kamu juga penyumbang paling besar diyayasan ini." Andri terkekeh pelan saat melihat Cora yang mengerucutkan bibirnya saat mendengarkan perkataannya itu.


"Ciiieee. . . kak Andri godain kak Cora mulu. Naksir ya?" Intan berteriak dari jauh saat melihat Andri duduk bersama dengan Cora. Intan tahu kalau Andri menyukai Cora, tetapi Cora selalu menganggap Andri sama dengan teman-temannya yang lain. Cora terbilang dingin dengan semua lelaki disekitarnya. Andri yang selama satu tahun ini selalu menemani Cora di Sukamandang pun tidak pernah memiliki tempat khusus di hati Cora. Andri berharap hati Cora bisa terbuka untuknya, ia tidak tahu Cora telah menutup rapat hatinya untuk semua lelaki. Hatinya itu telah terisi dengan satu nama, satu nama yang tidak akan pernah tergantikan dengan nama lelaki lain.


"Hhuuss. . . anak kecil, sana jauh-jauh. . ." Andri menggerak-gerakkan tangannya di udara untuk mengusir Intan, Intan meleletkan lidahnya kepada Andri dan berjalan menjauhi mereka. Cora terkekeh pelan melihat kedua orang yang selama ini selalu bertengkar tidak jelas bila berdekatan.


"Maaf Cora, tuh anak memang hobinya ngeledek."


Keheningan melanda keduanya, tidak tahan berlama-lama saling terdiam , Andri mulai memberanikan dirinya untuk bertanya pada Cora.


"Hmm . . . kamu punya pacar?" Andri menundukkan kepalanya karena takut melhat reaksi Cora, ia bagaikan remaja puteri yang tengah dimabuk cinta. Tidak menerima jawaban atas pertanyaanya Andri pun mengatakan, "Maaf pertanyaanku bodoh, sudah pasti wanita secantik kamu punya seorang kekasih ya." Andri menyengir kuda dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Cora tersenyum tipis dan mengarahkan pandangannya ke arah pepohonan yang berada di hadapannya. "Aku sudah menikah."


Andri membulatkan kedua matanya saat mendengar pengakuan Cora, selama ini dia tidak mengetahui banyak hal tentang wanita itu. Mereka berdua larut dalam keheningan. Cora masih menghormati pernikahannya dengan Tony dan hanya lelaki itu yang ingin ia sebut sebagai suami. Ia baru sadar bahwa waktu tidak dapat menyembuhkan luka di hatinya, waktu tidak dapat menghapus rasa cintanya kepada Tony. Waktu yang selalu membuat kita melupakan hal-hal yang ingin kita ingatitu tidak dapat menghilangkan perasaan cintanya pada Tony. Cora menyadari cintanya kepada Tony sudah sangat besar, sehingga ia lupa bagaimana caranya melupakan satu-satunya lelaki yang dicintainya itu. Satu-satunya lelaki yang ingin ia lupakan walaupun ia tahu bahwa ia tidak sanggup untuk melupakan sosok lelaki yang selalu hadir di dalam pikiran maupun hatinya itu.


...***...


Cora tiba di Bandar udara Sentani, Jayapura, Indonesia. Sesampai dibandar udara rombongan Cora dari yayasan Permata Kasih harus menaiki pesawat lagi untuk sampai ke Bandar udara Moses Kilangan, Mimika.


Mereka akan ke daerah Mmika untuk membantu para pengidap HIV AIDS. Mereka akan memberikan pengetahuan mengenai bahayanya HIV AIDS pada warga Mimika dan memberikan bantuan fasilitas kesehatan warga disana. Perjalanan Cora selama ini membuat Cora mengerti arti kehidupan, kehidupan itu terlalu berharga untuk disia-siakan.


Kehidupan tidak selalu terasa manis, terkadang kita akan terpuruk di dalam kesedihan dan terkadang kita akan merasakan kebahagian. Semua rasa pahit dan manis di dalam sebuah kehidupan itu membuat kita lebih menghargai kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang tidak selalu berjalan mulus itu membuat kita semakin menikmati arti dari sebuah kehidupan. Satu tahun pengalaman Cora jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya membuatnya semakin menghargai makna dari kehidupan yang tidak selalu indah itu. Cora selalu bersyukur didalam hatinya karena ia terlahir di keluarga yang mencintainya dan tidak pernah merasa kekurangan sedikipim. Ia jauh lebih beruntung dibandingkan dengan anak-anak kecil yang selama ini ia temui.


Setelah sampai di Mimika, Cora dan rombongannya berkeliling daerah itu, mereka mendatangi kampung terpencil seperti Hoeya. Cora memperhatikan para dokter yang menjelaskan tentang bahayanya HIV AIDS itu dengan seksama. Mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada warga disana. Cora berjalan-jalan untuk melihat daerah Hoeya itu, langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya. Wanita itu tengah membagi-bagikan makanan kepada warga dan tersenyum bahagia pada orang disekitarnya, dengan langkah ragu Cora mendekati wanita itu.


.


...****...


🌷🌷🌷


.