
"Carol?" Cora menyentuh punggung wanita itu. Carol membalikkan tubuhnya, ia membulatkan kedua matanya saat melihat Cora. Mereka berdua seakan larut dalam pikiran mereka masing-masing dan hanya saling memandang. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata seakan mata mereka dapat berbicara banyak daripada mulut mereka. Setelah agak lama mereka berdua terdiam dan saling memandang, Carol tersenyum tipis kepada Cora.
"Cora, apa yang kamu lakukan disini? kamu bersama Tony?" Carol mencairkan keheningan di antara mereka, ia menuntun Cora untuk duduk dikursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku. . . hmm. . . berpetualang, aku tidak bersama Tony." Cora tersenyum tipis.
"Kamu berpetualang? aku nggak nyangka seorang Cora Dianthe bisa berada ditempat seperti ini. Kamu sendirian?" Carol memandang sekelilingnya mencoba mencari sosok Tony ataupun sahabat Cora yang ia kenal, tapi usahanya sia-sia ia tidak menemukan sosok yang ia kenal di sekitar Cora. "Maafkan aku Cora." Carol melanjutkan perkataannya, ia berkata dengan lirih. Ia sedikit mengerti dengan situasi canggung mereka saat ini, Cora telah meninggalkan Tony itulah yang terlintas di dalam benak Carol.
"Mengapa harus minta maaf? kamu nggak melakukan kesalahan apapun." Cora tersenyum manis, "Apa yang kamu lakukan disini?"
"Ceritanya panjang, maafkan aku Cora, aku yang membuat kalian berpisah." Carol berkata dengan lirih, ia menautkan jari-jarinya di tiap ruas sela jemarinya.
"Aku punya waktu yang banyak untuk mendengarkanmu." Cora tersenyum manis, "Cinta kami yang tidak cukup kuat Carol, Mungkin kami memang perlu waktu untuk belajar saling mencintai lagi." Cora melanjutkan perkataannya.
"Tony lelaki yang baik," Carol tersenyum miris, "Benar apa yang pernah kamu katakan padaku, Cora. Cinta itu tidak pernah menyakiti, cinta itu selalu memberi tanpa mengharapkan balasan dari orang yang kamu cintai, cinta itu perasaan yang tulus bukan perasaan yang harus dipaksakan, cinta itu seharusnya perasaan yang membuatmu bahagia, bukannya perasaan yang membuatmu merasa tersiksa." Carol melanjutkan perkataannya dengan lirih, Cora tersenyum manis dan menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat.
Carol mengadahkan wajahnya ke arah langit. "Aku adalah wanita bodoh yang baru menyadari perasaanku terhadap Tony adalah sebuah obsesi. Aku menyakitimu, aku sudah memisahkan kalian berdua. Aku menghancurkan kalian dan membuat kalian terpisah. Aku menghancurkan persahabatan kita. Maafkan aku Cora. Aku adalah orang yang bodoh, orang bodoh yang baru menyadari semuanya disaat aku telah kehilangan semua hal yang berharga bagiku. Menyadarinya di saat aku terkena penyakit ini." mata Carol berkaca-kaca, ia memeluk tubuh Cora dengan erat, air matanya mengalir dan membasahi pipinya.
"Tenang Carol, aku tidak pernah membencimu. Aku sudah memaafkan semuanya." Cora membalas pelukan Carol dan memeluk sahabatnya itu dengan erat, "Penyakit? kamu sakit? kamu sakit apa Carol?" Cora terlihat cemas. Ia melepaskan pelukan Carol dan menatap kedalam manik mata Carol.
Sahabatnya itu terlihat berbeda, jauh berbeda dengan Carol yang dulu. Tubuh wanita itu semakin kurus dan wajah wanita itu tida bersinar seperti biasanya. Tidak ada lagi tatapan sinis yang keluar dari mata Carol, pandangan matanya menjadi lembut dan terlihat begitu damai.
"HIV AIDS," Carol berkata dengan lirih. Ia tersenyum manis, ia berusaha mengeluarkan senyuman termanisnya untuk Cora.
"Apa? sejak kapan?" Cora tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Aku baru tahu tentang penyakit ini seminggu setelah aku memberikan Tony fotomu dan Jhon. You reap what you sow, itu perkataan yang cocok untukku." Carol tersenyum miris, "Aku mendapatkan balasan atas semua perbuatan jahatku, ini karma. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku ini untuk hal yang baik. Aku ingin memulai semua dari awal di desa ini." Carol menundukkan wajahnya, setelah ia dapat mengatur air matanya, ia mengadahkan wajahnya ke atas dan tersenyum manis. Iya, ini yang ia inginkan. Menghabiskan sisa hidup yang pastinya tidak akan lama lagi di tempat yang tenang seperti di tempat ia berada saat ini. Ia ingin membantu orang-orang yang bernasib sama dengannya, mencoba mencari kedamaian hatinya, kedamaian yang sudah lama tidak pernah ia rasakan lagi.
"Carol, kamu adalah sahabatku dan akan tetap selalu menjadi sahabatku." Cora memeluk tubuh Carol yang bergetar, ia merasakan hangat pada pundaknya karena airmata Carol yang sudah membasahi bahunya. Mereka saling berpelukan dan saling menyalurkan sedikit kekuatan yang mereka miliki.
"Aku ingin membuat pengakuan Cora. Apa yang kamu lihat di Inggris itu, diapartemen Tony itu semua adalah kebohongan. Aku membuat Tony mabuk di acara ulang tahun Peter, aku membawanya pulang. Dia tidak pernah menyentuhku, aku ingin membuat kalian berpisah dan bayiku yang telah meninggal itu bukan anak Tony. Aku melakukan banyak hal yang menyakitimu." Carol mengeratkan pelukannya pada tubuh Cora, "Maafkan aku Cora, aku tahu perkataan maaf saja tidak akan pernah cukup." Carol terisak.
Cora melepaskan pelukannya dan menataplembut ke dalam manik mata sahabatnya itu. Sepasang mata di hadapannya itu penuh dengan penyesalan, dadanya terasa sesak saat mendapati kebenaran atas semua hal yang sempat diragukannya itu. Ada perasaan perih dihatinya saat melihat keadaan sahabatnya itu. Takdir terasa begitu kejam, ia tidak tahu mengapa takdir membiarkannya bertemu dengan Carol jika mereka akan menjadi dua orang yang saling menyakiti. Memang tidak ada manusia yang akan mengerti rencana sang takdir, tetapi setidaknya ia tidak ingin takdir selalu mempermainkan hatinya dan membuat semua orang di sekitarnya tersakiti.
"Aku percaya bahwa Tony tidak akan melakukan hal apapun yang akan menyakitiku. Perasaan cinta itu sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, kita hanya perlu merasakan dengan hati. Jka kita mencintainya kita harus mempercayainya karena hubungan cinta tanpa kepercayaan akan gagal. Kata cinta mungkin terdengar sederhana dan singkat, tapi makna dari cinta itu sendiri terasa begitu besar dan sangat sulit untuk dijelaskan." Cora tersenyum tipis.
"Kembalilah pada Tony, aku yakin kamu dan dia sangat menderita dengan perpisahan ini. Kalian pantas untuk bahagia, bukan berpisah seperti ini." Carol berkata dengan lirih, ia menggenggam tangan Coradan mencoba meyakinkan Cora untuk kembali pada cintanya. Mungkin ia tidak dapat merasakan akhir kisah cinta yang bahagia seperti di dalam kisah dongeng, tetapi ia ingin sahabatnya itu mendapatkan akhir kisah yang bahagia.
"Tidak untuk saat ini Carol." Cora tersenyum tipis, "Jika kami memang diciptakan untuk bersama, biarlah takdir yang akan menuntun Tony kembali kepadaku."
"Kamu selalu pasrah dan percaya sama takdir. Kamu nggak bisa selalu mengandalkan takdir. Terkadang takdir itu terlalu kejam, Cora. Jika kita tidak berusaha mendapatkan kebahagian kita sendiri, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bahagia." Carol mendengus kesal, ia kesal melihat sifat Cora yang selalu pasrah dengan sang takdir.
Cora terkekeh pelan melihat wajah sebal sahabatnya itu. "Bukankah kita dipertemukan oleh takdir? wisata di Paris, lalu di Inggris dan kita bertemu kembali di sini. Takdir yang selalu mempertemukan kita." Cora tersenyum manis, "Saat kita berpisah selalu saja ada cara yang membuat kita bertemu kembali, apa kamu tidak percaya dengan yang namanya takdir? Bukankah semua itu berkat takdir? bukankah takdir yang selama ini selalu mempertemukan kita kembali?" Cora memandang Carol dengan lembut. Carol tampak berpikir sejenak, ia mencoba mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Cora itu. Ya, memang selama ini takdir yang mempertemukan mereka. Bagaimana ia tidak mau mempercayai takdir jika selama ini takdir yang selalu mempermainkan hidupnya.
"Percaya, takdir yang mempertemukan kita dan mempermainkan kita. Jika saja kita bisa kembali ke masa itu. Kembali kepertemuan pertama kita, aku tidak akan menyia-nyiakan persahabatanmu." Carol berkata dengan lirih. Ia tahu penyesalan itu hanya akan menyiksanya. Penyesalan akan selalu menghantuinya, tetapi ia benar-benar menyesal karena persahabatan indah yang pernah dirasakannya bersama Cora berakhir begitu saja. Seandainya takdir yang selalu dikatakan Cora itu dapat memutar waktu kembali, ia tidak ingin menyia-nyiakan satu-satunya sahabat terindah yang pernah ia miliki didunia ini pergi menjauh darinya.
Mereka saling berpandangan dan bertukar senyum, kali ini senyuman bahagia lah yang terukir pada wajah keduanya. Pada akhirnya Carol bisa merasakan ketulusan persahabatan Cora. Hatinya terasa begitu damai. Ia memang tidak dapat mengulang waktu kembali, tetapi setidaknya ia dapat memperbaiki semuanya secara perlahan. Mereka berdua mengarahkan pandangan mereka ke langit biru di atas mereka, mereka menatap langit yang begitu luas dan indah dan berharap mereka bisa mengulang waktu mereka yang begitu berharga, waktu yang selama ini mereka sia-sia kan begitu saja.
.
...****...
🌷🌷🌷
.