
Kuhentikan langkahku disaat aku melihat seseorang yang berdiri dihadapanku sekarang. Pria itu sangat kukenal dan kurindukan, siapa lagi kalau bukan Fariq, mantan kekasihku.
Seseorang yang sangat kucintai tapi meninggalkan aku begitu saja. Ada apa dia datang kemari, ke tempat kerjaku, batinku.
Kulihat senyuman manis diwajahnya, senyuman yang sangat kurindukan, senyuman yang mampu membuatku ikut tersenyum, tapi itu dulu, kini aku hanya diam menatapnya. Entah apa yang kurasakan saat ini. Ada rasa ingin sekali memeluknya erat. Rasa ingin kembali seperti dulu lagi terasa begitu kuat tetapi ada rasa benci karena meninggalkan aku begitu saja.
Aku memberanikan diri melangkah lebih dekat dan menghampirinya. Kulihat tangan kanannya membawa es krim matcha kesukaanku.
"Buat kamu, es krim kesukaan kamu" kata Fariq, senyumannya tak hilang dari wajahnya yang semakin tampan.
Hatiku bergetar, rasa sakit, rindu, senang, bersatu dalam hati dan diriku saat ini. Mataku pun terasa panas, airmata sudah menggenang siap untuk menumpahkannya dalam waktu seketika. Aku bergeming. Hanya bisa menatapnya.
"Maaf, Daisy. Maafkan aku" katanya lagi
"Aku datang kemari hanya untuk meminta maaf padamu secara langsung, maaf juga baru sekarang aku datang menemuimu setelah berbulan-bulan menghilang dari hidupmu" senyumannya kini sudah tak terlihat lagi diwajahnya, digantikan dengan penyesalan yang terlihat dari sorot matanya.
Aku masih diam. Kini airmataku sudah mengalir deras dipipi, mencoba untuk menahannya, tapi aku sudah tidak bisa.
"Maaf sudah menyakitimu seperti ini, Daisy. Maaf sudah membuatmu menangis" kini Fariq sudah terasa sangat dekat, tangan hangatnya menyentuh pipiku dan menghapus airmata yang terus mengalir.
Betapa aku sangat merindukannya, Tuhan. Ingin rasanya aku memeluknya sekarang. Entah untuk pertama atau terakhir kalinya. Tapi ku urungkan niatku. Tanganku terasa bergetar karena aku menahan tangis.
"Itulah kenapa aku tidak menemui saat memutuskanmu, karena aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu saat aku bertemu denganmu" kata Fariq, matanya berkaca-kaca, seketika dia memelukku. Erat, sangat erat.
Akhirnya tangisku pun pecah, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku hanya menangis, menumpahkan segala perasaan yang kutahan selama ini, hidupku terasa begitu hampa tanpanya, sakit hati yang kurasakan selama ini, rasa kecewa yang begitu terasa menyakitkan, tanganku terlalu lemah untuk balik memeluknya, sejujurnya aku seperti tidak sanggup untuk menopang tubuhku sendiri saat ini. Aku merasakan kenyamanan menjalar ditubuhku, benar..tidak berubah rasanya, pelukan Fariq masih terasa nyaman seperti dulu.
Beberapa saat aku masih menangis, tapi aku sudah mulai bisa mengendalikan diriku. Aku sedikit melonggarkan pelukan Fariq, menghapus airmataku. Tanpa sadar aku sudah membasahi baju Fariq karena airmata dan...sudah tahu bukan kalau menangis cairan apa yang keluar dari hidung. Aku merasa bersalah tapi aku memang tidak bisa mengontrol diriku beberapa saat yang lalu. Aku hanya memandang bagian basah dibaju Fariq sambil sesekali menggosok-gosok tanganku dibagian itu.
"Engga apa-apa kok" kata Fariq, seakan-akan dia bisa membaca pikiranku, suaranya terdengar lembut.
"Es krimnya leleh" kataku terbata-bata.
"Haha..engga apa-apa nanti aku belikan yang baru" tawanya terdengar menyenangkan.
"Engga usah" jawabku sambil mengeluarkan es krim lalu memakannya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya nya sambil mengelus pelan rambutku.
"Pulangnya aku antar ya" kata Fariq sambil mengambil bungkus eskrim dari tanganku.
"Iya" jawabku dengan suara yang lemah.
Perasaanku memang lega, tapi aku merasa lemas, menangis seperti tadi hampir menghabiskan sebagian energiku yang tersisa hari ini setelah sibuk bekerja.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Fariq sudah melaju dijalanan menuju rumahku. Kami hanya diam. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Otakku masih terus berpikir, apa ini mimpi aku bisa bersama Fariq lagi didalam mobil ini seperti yang dulu kami sering lakukan, dulu dia selalu berusaha menyempatkan untuk mengantarku pulang.
Tak lama, mobil X-trail sudah terparkir didepan rumahku.
"Daisy, aku boleh bicara sebentar?" kata Fariq sambil menahan tanganku saat aku akan turun.
Aku kembali menutup pintu mobil dan menatapnya.
"Ada apa?" kataku datar.
"Aku menemuimu hari ini benar-benar untuk meminta maaf. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja tanpaku, maaf aku tidak kembali padamu lagi, Daisy. Walaupun sejujirnya aku ingin kembali bersamamu, seperti dulu. Tapi sudah tidak bisa. Orangtuaku marah besar dan langsung mencarikan wanita untuk dijodohkan denganku, agar aku tidak kembali lagi denganmu. Aku sudah berusaha untuk mempertahankan kamu, tapi aku gagal, Daisy. Maafkan aku, semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari aku" kata Fariq, kata demi kata nya terasa sangat jelas ditelinga dan otakku.
Kreekkk, hatiku patah lagi. Tanpa sadar pertemuan ini menyisipkan harapan dihatiku yang kini terpatahkan lagi. Fariq sudah jelas bicara tidak bisa kembali bersama dan dia akan menikah, karena orangtuanya sudah mencarikan jodoh untuknya.
Aku kembali diam, hanya menatap wajahnya, mungkin untuk terakhir kalinya aku bisa melihat wajahnya sedekat ini.
"Aku baik-baik saja, Fariq" jawabku berusaha tenang.
"Syukurlah. Aku benar-benar mencintaimu, sangat mencintaimu, Daisy. Tapi aku gagal memperjuangkan kamu dihadapan orangtuaku" sorot mata Fariq terlihat sedih.
Aku memeluknya erat, pelukan terakhir sebelum kami benar-benar harus berpisah, perpisahan yang bukan karena keinginan kami, karena orangtuanya. Keegoisan orangtua terkadang membawa penderitaan tersendiri untuk anak-anaknya tanpa mereka sadari.
Aku melepas pelukanku dan mencium bibirnya lembut, tak terasa airmataku menetes.
"Akupun sama, Fariq. Masih sangat mencintaimu" kataku tersenyum, airmata masih menetes dipipiku.
Buru-buru aku keluar dari mobil, mencoba menguatkan hati dan diriku. Aku tidak ingin menoleh kebelakang, itu hanya akan membuatku semakin rapuh, jika aku melihat Fariq pergi dari rumahku.