
Setelah pertemuanku dengan Fariq beberapa waktu yang lalu, membuat hatiku kacau, di sisi lain ada rasa kecewa dan sedih karena dia tidak bilang padaku untuk menunggunya, dan sisi lainnya yang membuat hatiku sakit adalah sikap Faza yang benar-benar dingin dan tidak peduli denganku.
Aku duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Faza yang sedang fokus menghabisi makan malamnya.
"Mas, besok aku akan pergi ke rumah teman" ucapku.
"Iya" jawabnya singkat.
"Iya, mas. Mas, engga tanya aku pergi ke rumah temannya yang mana?" tanyaku.
"Memang perlu tahu ya?" tanya nya datar.
"Hmm baiklah" selesai menghabiskan makan malam aku langsung membereskan piring kotor dan meninggalkan Faza.
Setelah makan malam, aku duduk di sofa dan mukai membaca koran hari ini. Faza duduk disebelahku. Aku mengabaikannya. Entah mengapa ada rasa sedikit kesal, aku hanya ingin Faza sesekali mengkhawatirkan aku. Tapi dia sama sekali tidak peduli denganku.
Drrrttt drrtttt ponsel Faza yang diletakkan di meja yang berada didepan kami bergetar, aku sempat melirik layar ponsel Faza. Aku terkejut melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya, Bintang? batinku, rasa cemburu mulai menyelinap masuk ke dalam hati.
Faza terlihat sedikit bingung untuk menjawab panggilan telponnya. Tak lama akhirnya dia beranjak pergi dan menerima panggilan itu. Aku tidak bisa mendengar percakapannya, tapi hatiku mulai tidak tenang. Aku tidak menyangka bahwa Faza masih saja berkomunikasi dengan Bintang, mantan kekasihnya.
Sekitar lima belas menit Faza kembali duduk disampingku. Wajahnya terlihat canggung.
"Bintang yang telpon?" tanyaku to the point.
"Iya" Faza menganggukkan kepalanya pelan.
"Ada perlu apa?" tanyaku masih terdengar santai.
"Engga ada perlu apa-apa tapi ngapain telpon suami orang malam-malam begini? Apa dia engga tahu kalau mas Faza ini sudah punya istri? Atau memang sengaja karena tahu Mas masih mencintai dia gitu?" kata ku cemburu.
"Kamu ini ngomong apa sih" kata Faza mulai kesal.
"Loh mas aku berhak tahu juga engga sih apa yang dibicarakan suami dengan wanita lain? Apalagi itu mantan kekasih mas. Yang bikin aku makin cemburu, aku tahu mas masih mencintai Bintang, mas" kataku kesal.
"Berhenti urusi urusanku ya, Daisy. Sikap kamu yang seperti ini semakin membuatku muak. Bagaimana aku bisa mencintaimu kalau sikapmu saja begini. Aku saja tidak pernah mencari tahu kamu berkomunikasi dengan siapa saja?" jawab Faza kesal.
"Oh gitu ya, mas. Kamu engga pernah tanya ke aku ini itu karena kamu engga mau aku tanya-tanya juga kamu dekat atau komunikasi dengan siapa" kataku lalu pergi meninggalkan Faza dan masuk ke dalam kamar.
Faza menyusulku masuk ke dalam kamar. Dia menarik tanganku.
"Kalau memang hanya ada Bintang dihatiku, memang kenapa?" tanya Faza menantangku.
Aku hanya terdiam menatap mata Faza, sorot matanya terlihat kesal. Entah, hatiku terluka lagi untuk kesekian kalinya.
"Terus mau Mas Faza apa?" tanyaku, tak sadar mataku sudah berkaca-kaca.
"Kalau kamu sudah tidak ingin bersamaku lagi, kamu bisa gugat cerai aku. Kamu juga engga perlu ribet-ribet tahu dan ikut campur urusanku. Mengerti?" tegas Faza.
"Mas mau kita cerai, mas yakin?" tanyaku berharap bahwa aku salah dengar.
"Iya" jawab Faza yakin.
Aku tidak pernah menyangka Faza akan sampai mengatakan kalimat ini. Hanya karena Bintang dia mengorbankan pernikahannya. Tetapi pantas saja dia dengan mudahnya mengatakan hal itu, Faza tidak mencintaiku, bahkan dia tidak menyukaiku. Dia menikahi ku hanya karena orangtuanya.