The Wedding

The Wedding
Kenyataan Pahit



"Sebenarnya aku tidak mencintaimu sama sekali, Daisy. Maafkan aku..maaf" kata Faza, wajahnya terlihat ada penyesalan.


Aku tersentak mendengar pernyataan dari Faza. Tidak kusangka suamiku mengucapkan hal seperti itu.


"Maksudnya apa, mas?" tanyaku


"Aku sama sekali tidak mencintaimu, Daisy, bahkan aku tidak menyukaimu. Kamu tidak seperti apa yang aku bayangkan" jelas Faza.


"Mas tidak mencintaiku sejak kapan? Apa salahku?" tanyaku lagi


"Sejak awal aku tidak mencintaimu. Aku berusaha mencintaimu, tapi sulit untukku. Aku selalu tidak berhasil mencapai hal itu. Selama kita menikah aku berusaha Daisy untuk menyukaimu. Tapi tidak bisa. Kamu engga salah apa-apa, ini salahku. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Maafkan aku"ucap Faza, tangannya menggenggam tanganku erat.


Kali pertama Faza memegang tanganku erat tanpa aku yang melakukannya lebih dulu. Mataku terasa panas, airmata sudah siap tumpah sebentar lagi, sepertinya hatiku merasa sakit.


"Kenapa, mas? Kalau aku engga punya salah apa-apa kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu menikahi aku?" tanyaku, bulir-bulir airmata turun dipipi ku.


"Aku boleh jujur?" tanya nya hati-hati


"Jujur aja semuanya, mas. Jika itu membuat semuanya lebih baik. Aku lebih menghargai mas Faza jujur kok" terangku sembari mengahapus airmataku berusaha menguatkan hati.


"Sebenarnya di hatiku masih mencintai mantan kekasihku, Bintang namanya. Aku benar-benar mencintainya. Hanya saja orangtuaku tidak menyukainya. Kalau saja aku boleh merengek, aku hanya ingin menikah dengan Bintang, dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku merasa nyaman dan mengerti aku. Itulah mengapa aku benar-benar jatuh cinta padanya" jelas Faza, lalu dia tiba-tiba memelukku.


Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Faza, pandanganku kosong, aku tidak berpikir apa-apa, semua kenyataan ini terlalu pahit, terlalu membuatku bingung. Pelukan Faza tidak terasa berarti untukku. Kenyataan ini terlalu membuat hatiku terluka.


"Apakah Bintang sudah menikah?" tanyaku


"Belum" Faza menggelengkan kepalanya


"Kenapa mas tidak memperjuangkan Bintang?" tanyaku


"Kenapa mas menikahi aku?" tanyaku sedikit merasa kesal, aku melepaskan pelukannya.


"Orangtuaku menyukaimu, mereka yakin bahwa kamu bisa menjadi istri yang baik untukku, tapi maaf, aku tidak bisa mencintaimu, Daisy. Kamu adalah wanita yang memang sangat baik sekali, tapi kamu tidak seperti apa yang aku harapkan. Aku sudah berusaha mencintaimu, tapi tidak bisa" jelas Faza.


"Mas tidak ingin mengecewakan orangtua mas tapi sadar atau tidak, mas menyeretku ke dalam kehidupan pernikahan yang menyedihkan. Mas menyakiti aku, istrimu mas" kataku sedih.


Faza tidak menjawab, dia memelukku lagi, pelukannya sangat erat, aku bisa merasakan pelukan ini seperti bentuk penyesalan Faza karena telah mengungkapkan ini semua.


"Maafkan aku Daisy, maaf" ucap Faza lirih, dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas, tidak seharusnya mas melakukan ini kepadaku. Jika mas tidak menyukaiku dari awal, seharusnya mas tidak menikahiku. Mas menikahi aku karena apa?" tanyaku


"Orangtuaku mendesak agar aku cepat menikahimu, Daisy. Aku tidak ingin mengecewakan mereka jadi aku mengikuti kemauan mereka, aku tidak peduli dengan perasaanku" katanya


"Tidak ingin mengecewakan orangtua tapi menyakiti orang lain, apa itu tindakan yang bijak?" tanyaku lagi


"Bukan" kata Faza sedih.


"Sampai sekarang masih mencintai Bintang?" tanyaku, saat menyebut nama Bintang entah ada rasa sakit lebih yang kurasakan.


Faza mengangguk lalu menjawabnya dengan pelan.


"Aku masih sangat mencintai Bintang sampai sekarang dan ini sulit untukku melupakan Bintang, dia benar-benar ada dihatiku, Daisy" jawab Faza.


Aku hanya bisa diam, memandang wajah suamiku yang terlihat sedih dan tertekan, aku mengelus pipinya dengan lembut, aku tahu bahwa aku mencintai suamiku, tapi suamiku tidak mencintaiku.


Dulu aku pernah mencintai seseorang, sangat mencintainya, bahkan mungkin saat ini pun masih ada dihatiku, tapi aku berusaha untuk menyimpan dan mengunci memori tentangnya rapi didalam ingatanku bukan hatiku. Saat ini fokus utamaku adalah suamiku, aku melakukan semuanya total untuk suamiku, hatiku sepenuhnya untuk suamiku. Tapi suamiku mencintai wanita lain.