
Tiga minggu lagi adalah hari pernikahanku. Sudah lebih dari enam bulan aku dan Faza menyiapkan pernikahan kami. Setelah Faza menyatakan untuk menikah denganku, orangtuaku setuju dan akhirnya kami memutuskan untuk mempercepat pernikahan.
Masih seperti mimpi aku akan menikah. Menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku akan menjadi suamiku nanti, karena sebenanrnya impian aku untuk menikah hanya dengan Fariq saja, aku hanya menginginkan dia yang menjadi suamiku nanti, tapi takdir berkata lain, Faza yang datang melamarku bukan Fariq. Jujur saja aku belum mengenal Faza sama sekali. Selama enam bulan persiapan menikah, kami pun jarang sekali bertemu, karena memang kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bertukar pesanpun hanya sesekali saja.
Semakin mendekati pernikahan, aku mulai banyak membaca dan mencari tahu tentang apa saja yang harus dilakukan suami dan istri demi menciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Aku mencari tahu banyak tentang pernikahan dari berbagai sumber, baik itu melalui buku, internet, bahkan aku mulai banyak bertanya pada orang-orang yang lebih dulu menikah, karena bagiku pernikahan bukanlah untuk main-main, tidak hanya untuk setahun atau dua tahun, tapi pernikahan untuk seumur hidup.
Tapi hatiku mulai merasa resah, entah mengapa aku merasa bahwa Faza sebenarnya tidak menyukaiku. Aku bisa melihat dari sikapnya, dia memang terlihat ramah didepanku, tapi aku tidak melihat sorot matanya bahwa dia menyukaiku. Buru-buru kutepis pikiran burukku, kalau dia tidak menyukaiku mana mungkin dia mengajakku menikah, kataku dalam hati. Berusaha selalu memasukkan pikiran-pikiran positif dalam pikiran dan diriku.
Aku mengajak Faza makan siang bersama, kami menyempatkan untuk bertemu disaat jam istirahat.
Sudah sepuluh menit aku menunggu Faza datang menjemputku dikantor. Tak lama mobil Brio miliknya sudah menepi dipinggir jalan, buru-buru aku masuk kedalam mobilnya.
Faza terlihat sangat tampan, tanpa sadar aku tersenyum melihat wajah calon suamiku, perasaan senang menjalar dihatiku, beruntung sekali aku mendapatkan Faza, sudah tampan, baik sekali, ramah juga, batinku.
Lima belas menit kemudian mobil milik Faza sudah terparkir rapi disalah satu tempat makan yang menyediakan masakan khas Padang.
Kami duduk saling berhadapan dan sudah memesan makanan yang akan menjadi menu makan siang kami.
Faza sibuk dengan ponselnya, aku hanya diam, mataku ke kiri dan ke kanan, bingung apa yang harus dilakukan saat Faza sibuk membalas pesan diponselnya. Menyebalkan sekali, jika ada waktu bertemu denganku malah sibuk dengan ponselnya, gerutuku dalam hati.
"WO (Wedding organizer) nya sudah siap, undangan sudah siap, semua sudah siap, kira-kira ada yang terlewat engga ya?" kataku membuka pembicaraan.
"Hmm iya ya, sepertinya sudah tidak ada" jawab Faza, meletakkan ponselnya diatas meja. Tak lama ponselnya sudah bergetar lagi menandakan pesan masuk.
"Sebentar lagi kita menikah, ada yang mau kamu tanya tentang aku?" tanyaku
Akhirnya pesanan kami pun datang, kulihat Faza yang sudah mulai menyantap makan siang miliknya.
"Kamu suka sama aku?" tanyaku terang.
Faza hanya diam saja, aku melihat senyuman tipis diwajahnya. Dia tidak memberiku jawaban.
"Faza, kamu suka sama aku?" tanyaku ulang
"Memang harus diungkapkan ya?" jawabnya datar.
Aku menarik mafas dan menghembuskannya dengan kasar. Entah kenapa aku merasa kesal dengan jawaban dan sikap Faza.
"Masih ada urusan yang belum selesai?" tanyaku lagi
"Dikantor?" tanya Faza polos
"Bukan, tentang hati. Apa ada yang belum selesai? Misalnya kamu dengan mantan kamu atau sebelum melamarku, ada yang menyukaimu atau kamu menyukai orang lain. Jika ada urusan yang belum selesai, selesaikan dulu. Aku engga mau setelah kita menikah, ada masalah datang cuma karena masa lalu atau urusan yang belum selesai" jelasku panjang lebar.
"Ooh..engga ada kok" jawab Faza singkat.
Aku hanya mencoba untuk bersabar dan cepat-cepat menghabiskan makan siangku.