The Wedding

The Wedding
37. Penyesalan Tony



Tangan Tony bergetar memegangi surat yang telah dibacanya itu, Cora mencintaiku? Tony bergumam di dalam hatinya. Ia tidak tahu jika selama ini Cora mencintainya, ia adalah lelaki yang kurang sensitive terhadap perasaan seseorang. Ia tidak pernah melihat tatapan cinta dimata Cora dan itu membuatnya yakin bahwa Cora tidak mencintainya. Sekarang ia sangat membenci dirinya sendiri, Bagaimana bisa ia tidak mengetahui perasaan istrinya itu?


"Surat ini. . ." Tony tidak dapat melanjutkan perkataannya, mungkin lebih tepatnya lagi ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini. Lidahnya terasa kelu, otaknya tidak dapat digunakannya untuk berpikir. Saat ini ia hanya ingin bertemu dengan Cora. Ia ingin memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, menggenggam tangan wanita itu dan tidak akan pernah melepaskannya lagi.


"Kamu sudah mengerti maksud kedatangan kami bukan? apa yang terjadi?" Charley sudah terlihat lebih tenang saat ini. Ia melihat kecemasan dan kesedihan dimata Tony sehingga ia mengerti bahwa Tony juga terluka akan kepergian putrinya itu.


"Maaf pa. . . aku yang menyebabkan Cora pergi. Aku berjanji akan mencari Cora, aku akan menemukannya dan membawanya kembali. Aku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi."


"Sudah cukup kesempatan yang kami berikan padamu." Charley mengeraskan rahangnya.


"Apa yang terjadi Tony?" Charista memecahkan keheningan diantara mereka.


"Aku meragukan Cora ma. . ." Tony berkata dengan lirih.


"Mengapa kamu meragukan Cora? Cora mencintaimu Tony. Mama bisa melihat jelas di dalam pandangan matanya padamu. Kamu tidak merasakan cinta Cora? kemana cinta kalian yang dulu begitu kuat. Dulu kalian saling mencintai dan mempercayai." Charista menatap Tony dengan sendu, "Mama mohon bawa Cora kembali." Charista terisak, ia menggenggam tangan Tony dengan erat dan menatap Tony penuh harap. Charley yang melihat istrinya menangis segera menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.


"Aku berjanji kepada mama dan papa, aku akan membawa Cora kembali, tolong berikan aku satu kesempatan lagi." Tony menatap dalam manik mata Charley. Charley mencoba untuk mempercayai menantunya itu, ia mengangguk dan membawa Charista pergi meninggalkan Tony.


...***...


Tony mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk menemukan Cora. Ia tidak dapat menemukan Cora di semua tempat yang telah ia kunjungi. Aktifitas terakhir perbankan wanita itu berhenti semenjak dua minggu yang lalu. Cora menarik beberapa ratus juta dari tabungannya dan setelah itu ia tidak pernah menggunakan kartu debit maupun kartu kreditnya. Nomer ponsel Cora sudah lama tidak aktif.


Hanya sedikit info yang dapat ia temukan. Ia tahu bahwa Cora telah membeli sebuah apartemen dikawasan Sunter, Jakarta utara. Tony membawa tukang kunci untuk membukakan pintu apartemen Cora untuknya. Saat Tony tiba apartemen itu, harapannya untuk bertemu Cora langsung hancur begitu saja. Ia tidak dapat menemukan Cora disana. Semua perabotan diapartemen itu telah ditutupi dengan kain putih. Apartemen Cora tampak sudah lama tidak dihuni.


Tony merasakan hatinya hancur saat tidak bisa menemukan sosok Cora di apartemen itu. Hatinya terasa kosong seperti apartemen kecil itu. Penghuni apartemen itu telah meninggalkan tempat itu dan juga Tony. Wanita itu telah pergi, entah kemana.


Tony berjalan memasuki kamar yang ia yakini ditempati oleh Cora selama ia tinggal di apartemen itu. Ia membulatkan kedua matanya saat melihat foto yang terpasang didinding kamar itu. Foto dirinya yang tengah memandang tembok cinta pada saat bulan madu mereka di Paris itu membuat rasa sesak menyerang dadanya secara tiba-tiba. Di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidur yang satu-satunya menghiasi kamar itu terdapat foto Tony yang tengah cemberut. Ia berjalan menuju tempat tidur itu. Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur berukuran king itu dan mengusap-usap bagian kosong disebelahnya.


"Kemana kamu pergi Cora? kenapa kita harus berpisah?" Tony berkata dengan lirih, ia sangat merindukan sosok wanita yang dicintainya itu. Ia meringkuk di atas tempat tidur yang kosong dan sedikit berdebu itu, ia memeluk lututnya bagaikan anak kecil yang ditinggalkan oleh dunianya dan terjebak di dalam kesendirian dan kesedihan yang mendalam. Ia telah kehilangan dunia dan juga hatinya, Cora Dianthe.


...***...


( Flashback )


Cora berjalan memasuki sebuah apartemen mewah itu dengan senyuman yang terlukis jelas pada wajahnya. Ia mengendap-endap bagaikan seorang pencuri saat berjalan ke arah kamar lelaki yang selama ini mengisi hatinya.


Tony memberikan Cora kunci apartemennya untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti Tony sedang tidak di Inggris, Cora dapat memeriksa apartemen pria itu. Cora membuka pintu kamar Tony dengan perlahan, ia ingin membuat kejutan untuk Tony pagi ini.


Cora membuka kedua matanya lebar-lebar saat ia melihat kekasihnya dan Carol tengah tertidur pulas dengan posisi Carol yang memeluk erat tubuh lelaki itu. Baju mereka terlihat berantakan diatas lantai. Mata Cora mulai berkaca-kaca saat melihat pemandangan dihadapannya. Tony yang saat itu terbangun terlihat terkejut saat melihat Carol yang tertidur pulas dan memeluknya. Ia melihat tubuhnya dibalik selimut yang hanya mengenakan boxer. Ia mengalihkan pandangannya kesekitar mereka, Tony membulatkan kedua matanya saat melihat Cora yang terpaku dan menangis. Dengan cepat, ia berdiri menjauhi Carol dan berlari kearah Cora. Carol yang terbangun langsung tersenyum manis kepada kedua orang yang tengah berdiri dihadapannya itu.


"Apa yang kamu lakukan Carol?" Tony meninggikan suaranya pada Carol, ia memeluk tubuh Cora dengan erat, ia ingin Cora mempercayainya.


"Apa kamu lupa apa yang terjadi tadi malam?kita berdua menikmatinya." Carol tersenyum menggoda kearah Tony, ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan mendekat kearah Tony.


"Apa ini semua terlihat seperti aku telah berbohong padamu?" Carol memandang Tony dengan pandangan yang terluka.


"Aku percaya pada Tony, dia tidak mungkin melakukan apapun padamu. Aku percaya Tony, dia tidak akan melakukan hal yang akan membuatku terluka. Kami saling mencintai dan cinta itu butuh kepercayaan untuk menguatkannya, aku mempercayai Tony." walaupun Cora terluka dengan apa yang disaksikannya, didalam hatinya ia percaya akan cinta Tony kepadanya. Ia tahu Carol selalu melakukan segala cara untuk membuat mereka berpisah.


"Terima kasih sayang." Tony mengecup kening Cora dan memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. Carol yang melihat pasangan dihadapannya tidak terjebak oleh jebakkannya hanya bisa tersenyum sinis dan meninggalkan mereka berdua yang masih berpelukkan.


( End Of flashback )


🍃


Tony mengenang kembali bagaimana saat cinta mereka diuji. Saat itu Cora tidak langsung mempercayai jebakan Carol yang terlihat sebagai sebuah pengkhianatan yang jelas-jelas terlihat dihadapannya. Tony merasa bodoh bisa terkecoh oleh Carol. Ia hanya melihat Cora dan Jhon di foto saat itu, tetapi Cora harus melihatnya dengan Carol secara langsung. Tony tidak menyangka ketakutan akan rasa cintanya yang tak berbalas oleh Cora malah membuat wanita yang dicintainya itu pergi meninggalkannya.


...***...


Jhon yang saat itu tengah tertawa dengan Michael yang duduk dihadapannya langsung terdiam dan mengeraskan rahangnya saat melihat sosok Tony yang masuk ke dalam caf tempat biasa mereka berkumpul.


Jhon berdiri untuk meninggalkan Michael, ia tidak ingin berurusan dengan Tony yang sudah menyakiti Cora. Baginya, sahabatnya itu tidak menghargai wanita yang ia cintai. Seberapa kuat ia ingin meraih hati Cora, ia tidak akan pernah bisa meraih hati wanita itu. Cinta wanita itu hanya untuk satu orang, yaitu Tony. Sahabatnya yang mendapatkan cinta wanita yang sangat diinginkannya itu malah menyia-nyiakan cinta wanita itu dan semua itu membuat Jhon marah dan kecewa.


"Tunggu Jhon." Michael menarik tangan Jhon untuk kembali duduk dihadapannya.


"Aku malas ketemu Tony." Jhon mendengus kesal, Tony berjalan ke arah kedua sahabatnya itu. Ia tersenyum pada Michael dan duduk disebelahnya.


Keheningan menjebak mereka bertiga. Jhon dan Tony saling berpandangan dengan pandangan yang tidak dapat mereka artinya. Akhirnya Tony hanya bisa mengalah dan mengakui kesalahannya. "Maafkan aku Jhon, aku salah paham pada kalian. . ." Tony berkata dengan lirih.


"Sampaikan maafmu pada Cora, bukan padaku!"


"Jika dia ada disini aku akan langsung meminta maaf padanya dan menerima segala hukuman yang akan diberikannya padaku," ujar Tony dengan lirih. "Aku ingin meminta bantuanmu Jhon. Kamu tahu dimana Cora berada?" Tony menatap sahabatnya itu dengan tatapan memelas.


"Maaf Tony aku tidak tahu dimana Cora saat ini dan jika aku tahu, aku tidak akan memberi tahukannya padamu. Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku akan merebut Cora darimu jika kamu membuatnya terluka lagi?" Jhon menatap tajam kearah Tony. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menahan amarahnya yang sudah memuncak.


"Aku tahu kalau aku bodoh karena sudah tidak mempercayai kalian."


"Bagus jika kamu tahu kalau kamu adalah lelaki bodoh. Bukan hanya bodoh, kamu juga adalah lelaki br*ngsek. Kamu pecundang. Bagaimana kamu bisa menyia-nyiakan Cora yang mencintaimu? apa kamu lupa bagaimana Cora terluka disaat melihatmu dan Carol, dia tetap memilih untuk mempercayaimu. Bukan sepertimu yang tidak mempercayainya." Jhon menatap tajam ke arah Tony, sedangkan Tony hanya terdiam, "Malam itu setelah Cora berlari dari kantormu aku bertemu dengannya, dia menangis semalaman sampai tertidur di pundakku. Aku tidak mengantarnya pulang karena aku tahu satu-satunya hal yang bisa membuatnya menangis adalah kamu. Saat aku membaringkan tubuhnya dikasur, dia menarik tanganku dan menyebut namamu. Walaupun dalam tidur dia tetap memanggil namamu. Kamu tidak menyadari kalau kamu adalah satu-satunya lelaki yang dicintainya." Jhon melanjutkan perkataannya, ia mengeraskan rahangnya. Hatinya terasa begitu perih dan sesak saat mengatakan Tony adalah satu-satunya lelaki yang Cora cintai, satu-satunya lelaki yang mengisi hati Cora.


Mereka kembali terjebak di dalam keheningan. Tony mengucapkan kata maaf, tetapi ia tahu kata maaf tidak akan pernah cukup untuk memperbaiki semuanya. "Kita cari Cora sama-sama ya." Michael mencairkan ketegangan diantara kedua sahabatnya itu. Tony dan Jhon menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


...****...


🌷🌷🌷


.