The Wedding

The Wedding
42. I Found you



Tony memeriksa dokumen yang sudah menumpuk diatas meja kerjanya, ia menarik nafas panjang dan menghelanya saat melihat tumpukan dokumen itu. Melihat setumpuk dokumen berada di atas meja kerjanya adalah sarapan pagi baginya. Selama satu tahun ini Tony terus mencari sosok Cora yang menghilang bagaikan ditelan bumi. Segala penjuru kota sudah Tony telusuri, tetapi ia tidak dapat menemukan sosok wanita yang dicintainya itu. Tony mengalihkan segala perhatiannya pada pekerjaannya, ia terlihat seperti robot selama satu tahun ini. Hari-harinya, ia habiskan dengan bekerja dan mencari wanitanya itu. Semakin hari rasa cinta dan rindunya terasa begitu menyiksanya. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya. Ia merasa hampa didalam hatinya, hatinya bagaikan gurun pasir yang gersang tanpa cinta Cora. Ia tidak pernah menyangka ia telah menjadi lelaki bodoh yang membiarkan satu-satunya wanita yang ia cintai itu pergi dari hidupnya.


"Tok. . . tok..."


"Masuk." Tony menyuruh seseorang yang mengetuk pintunya itu masuk ke dalam ruangannya. Ia tidak mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sudah berdiri dihadapannya saat ini.


"Hari ini jadwal melihat presentasi untuk yayasan Permata Kasih pak, kita sudah buat janji dengan yayasan itu untuk melihat presentasi mereka dalam aksi penggalangan dana. Bapak tidak akan menghadiri presentasinya lagi?" Anita mengingatkan jadwal Tony hari ini.


Sudah selama satu tahun ini Perusahaan Tony menyumbang untuk sebuah yayasan dan dalam setiap bulan yayasan itu selalu melakukan presentasi diperusahaannya.


"Saya akan hadir, saya ingin melihat apa yang sudah yayasan itu lakukan. Saya tidak ingin yayasan itu menggunakan sumbangan dari kita untuk hal yang tidak jelas." Tony berkata dengan datar tanpa mengalihkan pandangannya kearah sekertarisnya yang tengah berdiri di hadapannya. Hari ini Tony ingin melihat secara langsung presentasi dari yayasan yang selama ini menerima sumbangan dana dari perusahaannya. Selama ini ia tidak berminat melihat presentasi mereka secara langsung, tetapi kali ini entah mengapa ia ingin melihat presentasi itu. Mungkin ia hanya ingin mengalihkan pikirannya yang penuh dengan bayangan Cora kepada hal lain.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya pak. Saya mau mempersiapkan ruangan yang akan digunakan nanti." Anita tersenyum manis dan berjalan meninggalkan Tony yang masih sibuk membolak-balikkan dokumen dihadapannya.


...***...


Ruangan yang tadinya kosong itu saat ini sudah dipenuhi oleh beberapa pimpinan perusahaan. Tony duduk dibangku paling depan, ia memperhatikan orang-orang yang sedang mempersiapkan presentasi mereka, kebanyakan orang dari yayasan itu adalah muda-mudi yang baru saja lulus kuliah.


"Terima kasih atas kehadiran bapak dan ibu sekalian. Kenalkan nama saya Andrian Susanto, saya selaku ketua yayasan ini ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran bapak dan ibu pada hari ini.Kami juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami terima hingga saat ini.Hari ini saya ingin menjelaskan tentang kegiatan kami dan menampilkan beberapa gambar tentang kegiatan kami selama ini." Andri memberikan beberapa kata sambutan.


Ia mulai menjelaskan beberapa kegiatan mereka. Kegiatan mengajar di daerah terpencil dan juga memberikan fasilitas kesehatan untuk daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas kesehatan yang baik.


Andri menyalakan sebuah proyektor dan menampilkan beberapa gambar laporan keuangan mereka, kemana dana yang selama ini mereka terima telah disalurkan. Saat ini layar yang berada dihadapan para pimpinan perusahaan yang hadir itu tengah memperlihatkan kegiatan mereka saat membantu korban banjir di Jakarta, selanjutnya layar itu menampilkan kegiatan mereka saat membantukorban gunung meletus di Sinabung, Sumatera Utara. Tidak lama gambar pada layar itu berganti lagi, kali ini layar itu menampilkan foto-foto kegiatan mengajar mereka didaerah Sukamandang, Kalimantan tengah.


Pandangan tony terfokus pada gambar-gambar yang saat ini tengah ditampilkan. Terlihat beberapa anak kecil yang tampak tengah tersenyum bahagia difoto itu. Tony tersenyum kecil memperhatikan senyuman anak-anak kecil itu, senyuman mereka terlihat begitu polos dan bahagia dan senyuman mereka mengingatkannya pada senyuman wanitanya itu.


Saat ini layar di hadapan Tony tengah menampilkan kegiatan yayasan itu pada saat membangun taman membaca didaerah Sukamandang. Terlihat beberapa orang tengah tersenyum lebar dan bekerjasama mengangkat kayu-kayu untuk membangun sebuah bangunan kecil yang nantinya akan dijadikan sebuah taman membaca. Setelah gambar itu, tampak gambar para pengurus yayasan yang terlihat tengah membawa beberapa buku dan menyusunnya di rak yang tersedia di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu itu. Tempat itu bagaikan sebuah perpustakaan kecil yang terlihat sangat natural dan nyaman. Banyak tanaman hidup yang diletakkan pada setiap sudut ruangan itu. Pandangan Tony terfokus pada satu orang wanita cantik yang sedang merangkul bahu seorang anak lelaki di sampingnya, digambar itu mereka terlihat tengah membaca sebuah buku dan tersenyum bahagia. Wanita itu mengarahkan jemarinya ke arah sebuah buku yang tengah mereka pegang dan mata anak lelaki itu mengikuti kemana tangan wanita itu menunjuk, anak lelaki itu tampak tersenyum bahagia begitupun sebaliknya.


"STOP!!" Tony berteriak.


Seisi ruangan itu tampak terkejut karena teriakan Tony. Mereka semua mengalihkan pandangannya kepada Tony, sedangkanTony berjalan ke arah layar besar yang saat ini tengah menampilkan wajah Cora yang tengah tersenyum bahagia saat mengajar beberapa anak kecil. Mereka semua tampak tengah memegang sebuah buku.Ia tersenyum lirih melihat senyuman yang sangat dirindukannya itu.Iamenyentuh layar yang masih menampilkan wajah Cora itu dengan tangan yang bergetar. Ia ingin memandang wajah wanitanya itu dari dekat, seakan wanita itu tengah berada di hadapannya.


"Wanita ini . . . di mana dia? dimana Cora?" Tony mengalihkan pandangannya ke arah Andri. Ia bertanya dengan setengah berteriak, ia mengguncang-guncangkan bahu Andri.


"Anda kenal Cora?" Andri menaikkan sebelah alisnya.


"Dia istriku." Tony mengeraskan rahangnya.


Andri menatap Tony dengan pandangan yang tidak percaya. Ia tidak percaya dengan lelaki yang saat ini mengaku sebagai suami Cora. Anita yang melihat bahwa bosnya itu memerlukan waktu untuk berbicara dengan Andri dengan sigap ia segera meminta maaf dan meminta semua yang ada diruangan itu untuk keluar. Andri tersenyum tipis melihat kejujuran dimata Tony saat ia berkata Cora adalah istrinya. Andri merasakan sakit yang luar biasa, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Cora benar-benar sudah menikah. Andri menganggap perkataan Cora adalah sebuah kebohongan untuk menolaknya, ia tidak pernah menyangka Cora sudah menjadi milik lelaki lain.


"Katakan dimana istriku saat ini?" Tony mengeraskan suaranya. Ia menatap tajam ke arah Andri. Ia tidak ingin sedetik pun waktunya terbuang, ia ingin segera menemukan istrinya itu. Ia ingin memeluk erat tubuh wanita itu dan membawa istrinya itu kembali ke sisinya. Sudah cukup rindu itu menyiksanya, ia tidak ingin terpisah lebih lama dari wanita yang dicintainya itu.


"Mengapa dia meninggalkan anda?" Andri menatap ke dalam manik mata Tony. "Saya merasa tidak berhak untuk memberitahu keberadaannya, saya tidak ingin Cora sedih. Pasti ada alasan yang membuat Cora sakit dan meninggalkan anda bukan?" Andri melanjutkan perkataannya, ia mengeraskan rahangnya. Ia tahu bawa Cora menyembunyikan sesuatu selama ini. Wanita itu terlihat begitu terluka, ia terlihat menyimpan dengan baik luka yang tidak ingin diketahui oleh orang yang berada di sekitarnya.Andri dapat melihat rasa sakit itu dari pandangan mata Cora jika wanita itu membicarakan masa lalunya.


"Aku melakukan kesalahan, bukankah setiap orang berhak untuk diberikan kesempatan kedua?" Tony tersenyum lirih, "Aku berjanji jika kamu memberitahuku keberadaan Cora, aku tidak akan pernah menyakitinya lagi. Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi, tidak sampai aku menutup mata ini." Tony berkata dengan lirih.


Ia berjanji di dalam hatinya, jika ia masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Cora lagi, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia akan selalu menjaga Cora dengan baik dan tidak akan pernah melepaskan wanita itu, ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu meninggalkannya lagi.


Andri melihat kesedihan dan kerinduan yang besar dimata lelaki itu, terlihat jelas bahwa Tony sangat mencintai Cora. Jauh di dalam lubuk hatinya Andri tahu bahwa hati Cora adalah milik lelaki yang tengah terlihat rapuh di hadapannya ini.


"Cora berada di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur." Andri berkata dengan datar. Andri sadar bahwa Tony adalah segalanya bagi Cora. Ia tidak bisa bertindak egois.Selama ini, walaupun Cora tersenyum Andri tahu wanita itu menyimpan rasa sakit dan rindu didalam hatinya. Ia tahu wanita itu telah menutup pintu hatinya untuk lelaki di sekitarnya dan ia tahu wanita itu tidak bahagia.


.


...***...


🌷🌷🌷


.