
Perang besar itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Setelah kematian Charles, para penyihir pengikutnya pun satu per satu berhasil dikalahkan. Pasukan orge turut melemah setelah kehilangan bantuan sihir gelap. Pada akhirnya kemenangan pun semakin jelas berpihak pada kaum elf yang bertempur bersama Arael.
Seluruh kota di Luteria berhasil diselamatkan dari kepungan orge. Kini bangsa manusia pun terbebas dari cengkeraman raja mereka yang lalim. Para makhluk sihir lain seperti centaur, peri, dryad, kurcaci dan sebagainya bisa hidup bebas lagi tanpa takut diburu. Kedamaian kembali ke tanah itu.
Arael keluar dari kastil setelah tiga hari berdiam diri bersama tubuh Iolas dan Bryen. Kedatangannya disambut oleh Ratu Arendel yang begitu sedih melihat kondisi Arael. Sang ratu membawa mencoba mengobati seluruh luka Arael dan menghiburnya. Tampaknya, meskipun sudah menang, tetapi pasukan elf juga telah kehilangan banyak nyawa.
Ratu Arendel bahkan mengatakan dengan jujur bahwa dua belas utusan dari dua belas suku elf telah tewas dalam perang. Selain Iolas dan Bryen, Rangwe juga meregang nyawa saat membunuh penyihir berjubah merah. Hakaris, Mordesh, Icaris, Haldir, Quenya, Enna, Elaith, Finn dan Skylar telah dinyatakan meninggal.
Meski telah mengetahui hal itu sebagai bagian dari ramalan, tetapi hati Arael tetap merasa kelu. Bagaimana bisa ia menjadi satu-satunya yang masih hidup? Arael lantas melirik ke kristal Ephestus yang dia bawa.
“Aku akan membangunkan mereka lagi,” gumam Arael menggenggam kristalnya dengan erat.
Sang ratu tidak tampak terkejut. Alih-alih ia justru menggenggam tangan Arael dengan lembut. “Pasti berat bagimu untuk melakukannya. Meski begitu bertahanlah, Arael,” hibur sang ratu. Ia lantas menerawang ke kejauan. “Iolas. Aku mengenalnya sebagai pemuda yang penuh semangat. Dengan sifatnya itu, dia tidak akan keberatan menjadi pelindung Luteria. Iolas selalu menyukai petualangan,” lanjut Ratu Arendel sembari tersenyum kecil.
Arael ikut tersenyum. Kata-kata sang ratu membuatnya merindukan Iolas.
“Setelah keadaanmu membaik, kita adakan upacara penobatan di istanamu. Pada saat itu kau bisa memanggil keduabelas jiwa para utusan dan memecah kristal ephestus,” jelas Ratu Arendel dengan lembut.
“Bagaimana caraku melakukannya, Yang Mulia?” tanya Arael kemudian.
“Kau akan mengetahuinya sendiri nanti.”
Tepat satu bulan setelah perang berakhir, kehidupan di Luteria kembali berjalan dengan normal. Kota-kota yang rusak sudah diperbaiki dengan bantuan para kurcaci. Orang-orang terluka telah disembuhkan oleh para driad. Kaum elf memiliki andil yang sangat besar untuk memperbaiki keadaan seluruh benua pasca perang.
Setelah semuanya siap, akhirnya upacara penobatan sang Ratu yang baru pun tiba. Arael diarak mengelilingi Leopolis. Seluruh rakyat Luteria, termasuk para makhluk sihir terus mengelu-elukan pengangkatan Ratu Arael sebagai penguasa benua tersebut. Para elf mendampigi acara penobatan Arael hingga mereka tiba kembali di aula kerajaan.
Pohon hitam tempat segel kekuatan gelap itu masih berdiri tepat di tengah aula kerajaan. Arael berjalan melewatinya dan menuju ke singgasana. Ratu Arendel telah menunggunya di atas altar singgasananya.
“Dengan ini, aku, Arendel penguasa Or-Tel-Quassir, mengangkatmu, Arael sang Putri Sion, untuk menjadi Ratu bagi bangsa manusia di Luteria. Apa kau menerima sumpahmu untuk selalu melindungi rakyatmu dan memimpin mereka dengan kebijaksanaan?” tanya Ratu Arendel mengucapkan sumpah penobatan.
“Saya menerima posisi tersebut, menjadi Ratu Luteria, dan bersumpah untuk selalu melindungi seluruh rakyat Luteria dan memimpin dengan kebijaksanaan,” jawab Arael kemdian.
Ratu Arendel lantas menyuruh Arael bangkit berdiri. Ia menyerahkan Attila kembali kepada Arael lalu mundur dari altar penobatan lantas duduk di sebelah singgasana, tempat bagi para tamu kehormatan.
Arael berbalik menghadapi khalayak ramai yang sudah berkumpul di aula kerajaan. Gadis itu lantas mengeluarkan kristal Ephestus dari balik jubahnya.
“Perjuangan kita untuk mencapai kebebasan akhirnya terlaksana. Pohon yang ada di depan kita saat ini, adalah bukti bahwa kegelapan terlah berhasil dikalahkan. Aku akan menamai pohon ini Kohor, yang artinya ingatan. Setiap kita melihat pohon ini, kita harus selalu mengingat untuk tetap berpegang pada cahaya dalam diri dan melawan kegelapan. Itulah makna dari pohon ini,” ucap Arael memulai pidato penobatannya.
“Selain itu, aku juga akan memilih dua belas orang untuk membantuku memimpin kerajaan ini. Dua belas orang pilihanku ini adalah sahabat-sahabat lama yang telah berjuang bersama-sama untuk mewujudkan kedamaian di Luteria. Mereka tidak lagi bersama kita, tetapi melalui batu kristal ini, aku akan memanggil mereka kembali untuk menjadi pelindung tanah ini,” lanjut Arael sembari mengangkat kristal Ephestus di tangannya.
Mendadak kristal tersebut mengeluarkan cahaya menyilaukan. Sangat menyilaukan sampai membutakan pandangan seluruh hadirin termasuk Arael sendiri. Secara perlahan batu di tangan Arael itu melayang ke udara, lantas dengan suara krak keras, batu itu terpecah menjadi dua belas keping dengan warna yang berbeda-beda. Kedua belas kepingan batu itu kemudian melesat ke segala arah, seiring dengan menghilangnya cahaya yang menyilaukan.
Arael akhirnya bisa membuka matanya. Di hadapannya kini berlutut dua belas orang dengan wajah-wajah yang dia kenal. Arael mendesah penuh haru. Ia bisa bertemu lagi dengan para sahabatnya yang telah gugur. Iolas, Bryen, Rangwe, Hakaris, Mordesh, Icaris, Haldir, Quenya, Ragwe, Enna, Elaith, Finn dan Skylark. Mereka semua kini berlutut hormat di hadapan Arael degan tubuh berdarah dan daging.
Bahkan Haldir yang sebelumnya hanya berupa cahaya, kini memiliki wajah yang bisa dikenali. Mereka semua kembali, tetapi bukan lagi sebagai elf. Keduabelas jiwa tersebut telah berubah menjadi manusia. Tubuh mereka tidak lagi berumur sepanjang para elf. Telinga runcingnya pun menghilang, dan kulit berwarna biru milik Quenya kini berubah menjadi putih pucat.
“Terima kasih sudah menjawab panggilanku, wahai dua belas Jiwa Penjaga. Dengan Kristal Ephestus yang telah terbagi menjadi dua belas keping itu, aku memberikan kalian kekuatan dan wewenang untuk menjaga tanah ini hingga akhir waktu.
“Aku akan menyebut kalian sebagai Dua Belas Pejuang Zodiak. seluruh informasi kekuatan dan kehidupan kalian akan tersimpan dalam batu zodiak masing-masing. Dengan batu itu, setiap kelahiran kalian lagi, seluruh ingatan dan kekuatan kalian akan dikembalikan. Terimalah batu-batu zodiak itu,” ucap Arael memberi perintah.
Dua belas orang yang terlahir kembali itu pun meraih batu zodiak aneka warna yang melayang di hadapan mereka.
“Saya menerima perintah, Anda, Ratu Arael,” jawab salah satu dari mereka sembari mendongak menatap Arael dengan senyuman penuh kerinduan. Iolas.