The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Pertemuan Para Raja



Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba. Saat itu tepat tanggal 22 Mesha, waktu titik balik matahari terjadi. Konstelasi bintang di langit malam itu tepat menyerupai yang tergambar dalam peta bintang. Ratu Arendel mengumpulkan kedua belas perwakilan suku dan juga Arael di sebuah altar batu yang ada di atas sebuah bukit.


Altar batu itu berbentuk melingkar dengan dua belas titik yang untuk dua belas suku elf yang ada di sana. Iolas, Bryen dan Rangwe termasuk dala elf yang berjajar melingkari alter tersebut. Namun di sudut tempat suku matahari seharusnya berdiri, tempat itu kosong karena Enna harus menghilang saat malam.


Di sisi lain, Arael dan Ratu Arendel berdiri tepat di tengah altar batu tersebut. mereka berdua menyatukan peta bintang dan peta sihir dalam keadaan bertumpuk menjadi satu. Setelah itu, keduanya pun melangkah mundur dan menunggu peta tersebut bereaksi dengan sihir cahaya bintang.


Tak lama setelahnya, peta bintang itu mulai mengeluarkan cahaya berwarna biru terang. Titik-titik konstelasinya bersinar hingga menerangi seluruh area altar. Cahaya tersebut bersinar semakin meluas hingga akhirnya melingkupi semua orang yang berdiri di sana. Arael memejamkan matanya selama cahaya tersebut terus menerpa tubuhnya. Ia bahkan sampai harus memalingkan wajah dan menutupnya dengan satu tangannya. Namun cahaya menyilaukan itu seperti menembus kulit Arael.


Selama beberapa menit, kejadian tersebut terus berlangsung, hingga akhirnya cahaya terang itu pun menyurut. Arael merasakan kelopak matanya tidak lagi kemerahan karena diterpa cahaya. Alih-alih suasana malam yang normal kini sudah kembali. Gadis itu pun membuka matanya secara perlahan. Tidak ada yang berubah dari altar batu itu. Peta bintang dan peta sihir juga tidak mengeluarkan cahaya terang benderang. Akan tetapi sesuatu yang menarik kini muncul di tengah-tengah altar tersebut: kemunculan para penguasa suku elf.


Para pimpinan suku elf kini masing-masing duduk di singgasana mereka di atas altar batu. Wujud mereka tidak solid, melainkan hanya berupa tubuh cahaya semi transparan yang tidak bisa disentuh. Selain Ratu Arendel yang masih berdiri di sebelah Arael juga Raja Varis dari suku elf matahari yang harus menghilang saat malam, sembilan pimpinan suku elf lain duduk di singgasana mereka yang ada di sisi para utusan.


Hanya Skylark yang berdiri sendirian di altar batu itu. Para dark elf telah dikutuk hingga terpencar di seluruh benua. Karena itu mereka tidak bisa melakukan kontak menggunakan peta bintang. Kesepuluh pimpinan suku yang hadir melalui sihir peta bintang di antaranya adalah: Raja Aegis dari suku elf air; Raja Zidalor dari suu elf salju; Raja Blakvon dari suku elf bayangan; Ratu Esthaenie dari suku elf bersayap; Raja Glóredhel dari suku elf cahaya; Ratu Amarië dari suku elf bintang; Phyrra, elf liar yang menggantikan Rangwe sebagai pimpinan suku; Ratu Valaera dari suku elf Bulan; dan terakhir Luell pimpinan para Lythari, elf pengubah wujud.


“Selamat datang di Or-Tel-Quassir wahai para pimpinan suku elf. Sudah lebih dari seratus tahun sejak kita terakhir kali berkumpul dengan peta bintang,” sambut Ratu Arendel kemudian. “Semua penguasa yang hadir saat ini tentunya sudah bertemu dengan Putri Arael, penerus Sion yang bertugas membebaskan Luteria dari kegelapan. Ramalan telah bergulir, dan kini waktunya bagi kita untuk bergerak. Putri Sion telah menunjukkan pada kita kemampuannya untuk mengatasi rintangan dan mengumpulkan semua suku elf menjadi satu kembali. Atas kemampuannya itu, kita semua percaya bahwa dia akan berhasil mengembalikan Luteria pada kejayaannya lagi.”


Kata-kata Ratu Arendel memancing komentar dari para pimpinan suku elf. Mereka saling berceletuk hingga menimbulkan suara dengung yang memenuhi altar.


“Aku sudah mengirimkan orang-orangku untuk melindungi warga kota. Kapanpun Putri Arael ingin memulai perang, para penduduk manusia itu sudah aman,” ucap Luell mengalahkan suara-suara yang lainnya.


“Aku dan Varis juga sudah mengirimkan prajuritnya di garis depan. Para orge yang menjaga kota-kota bangsa manusia sudah kami kepung diam-diam. Prajurit kami menunggu perintah penggempuran,” ujar Ratu Valeara yang duduk dengan anggun di singgasananya yang berbentuk bulan sabit.


“Terima kasih Ratu Valeara, mohon sampaikan juga rasa terima kasih saya kepada Raja Varis,” ucap Arael sembari membungkuk hormat.


“Aku tidak bisa ikut campur dalam pertempuran terbuka, Putri Sion. Tapi aku mengirimkan Haldir untuk membantumu. Berkatku selalu menyertaimu.” Raja Glóredhel menimpali.


“Bantuan Anda sudah lebih dari cukup, Yang Mulia. Terima kasih banyak.” Sekali lagi Arael membungkuk hormat.


Setelah percakapan para pimpinan itu, sembilan dari dua belas suku elf akan ikut melawan para orge dan penyihir gelap dalam perang terbuka. Tiga suku yang tidak bisa membantu dalam perang akan memberikan berkat kesembuhan bagi para prajurit yang terluka. Mereka adalah suku elf cahaya yang sudah bersumpah untuk tidak ikut campur dalam kehidupan para manusia; para elf bintang yang membenci kekerasan, mereka akan membantu menyembuhkan orang-orang yang terluka dengan musik mereka; dan yang terakhir adalah para dark elf yang dikutuk hingga terpecah belah.


Meski begitu, prajurit dari sembilan suku elf itu saja sudah cukup besar untuk bisa melawan kekuatan para orge dan penyihir gelap. Arael merasa lebih percaya diri setelah mendapat begitu banyak dukungan. Para elf tersebut kini bersatu untuk mewujudkan kedamaian di tanah Luteria, tempat kelahirannya.


“Hari ini, pada tanggal dua belas Mesha, saya akan menentukan tanggal dimulainya peperangan. Tujuh hari dari sekarang, tepat saat fajar menyingsing pada hari pertama bulan Rishabha, serangan pertama untuk menggempur istana kerajaan Luteria akan dimulai. Bersamaan dengan itu, seluruh wilayah yang dijaga oleh para orge juga akan digempur,” ucap Arael pada akhir pertemuan tersebut.


Tidak ada lagi yang membantah waktu yang sudah ditetapkan. Sampai saat ini, semuanya sudah berjalan sesuai dengan ramalan.