The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Elf Bintang



Perjalanan menuruni bukit berlangsung singkat. Para elf liar ini mampu berlari sangat cepat meskipun mereka bertelanjang kaki. Batuan terjal digilas begitu saja seolah kaki mereka sudah mengeras sedemikian rupa hingga tidak bisa merasa sakit. Iolas dan Bryen mengimbangi kecepatan para elf liar itu dengan mudah. Arael mungkin tidak bisa berlari secepat itu kalau tidak menunggangi Luca. Namun spirit saljunya melaju sama kencangnya dengan para elf.


Tidak berselang lama, mereka pun sampi di lembah. Sungai kecil mengalir di bawah kaki Luca dan membuat bulu-bulunya basah. Gemericik air mewarnai suasana indah lembah tersebut dengan udara yang begitu jernih. Tidak ada bau busuk dari para orge yang tercium. Para elf bintang pasti membuat perlindungan berlapis agar area tersebut bersih dari gangguan siapa pun, termasuk orge.


Rangwe berdiri di tengah sungai lantas membuat pola sihir yang sudah dikenali oleh Arael. Sihir pembuka gerbang dimensi. Begitu lingkaran sihir tersebut selesai dibuat, cahaya putih bersinar di hadapan Rangwe. Air sungai terangkat dari dasarnya dan membentuk pusaran serupa portal bening.


“Silakan masuk, Putri Sion,” ucap Rangwe sembari mundur selangkah dari depan portal, memberikan jalan bagi Arael untuk lewat.


Arael turun dari tunggangannya, lantas memerintahkan Luca untuk kembali ke dimensi spirit. Gadis itu lalu melangkah melewati gerbang tanpa ragu. Air dingin menyentuh kulit Arael. Anehnya, bajunya sama sekali tidak basah. Arael melanjutkan langkahnya hingga seluruh tubuhnya keluar dari pusaran air yang berputar lembut.


Sebuah jalan setapak menyambut gadis itu. Kanan kirinya ditumbuhi pepohonan lebat yang tumbuh dengan rapat. Pepohonan itu sangat tinggi hingga Arael tidak bisa melihat ujungnya. Batang pohonnya sangat besar hingga mencapai diameter dua ratus inci. Meski begitu, cahaya matahari masih bisa masuk melalui celah-celah dedaunan dan menerangi jalan setapak. Arael terus melangkah dan kini di belakangnya menyusul Iolas dan Bryen serta para elf liar yang mengawalnya.


“Para elf bintang tinggal di istana pohon di atas sana. Anda bisa memanjat?” tanya Rangwe yang muncul belakangan.


Arael berpikir sambil menengadah. Dahan terendah berada sekitar setengah mil di atasnya. Jarak yang cukup tinggi. Arael tidak yakin ia bisa melompat setinggi itu. Situasi ini berbeda dengan saat ia melompati dahan-dahan pohon bersama Iolas. Pohon normal di luar sana tidak berukuran sebesar ini. Arael yakin bahwa hutan ini pasti sudah berusia ribuan tahun.


“Aku belum pernah mencobanya. Tapi aku tidak yakin bisa melompat setinggi itu,” ujar Arael terus terang.


“Aku akan membawamu ke atas,” sela Iolas sembari berjalan mendekat.


“Bagaimana … ?” Belum selesai Arael bertanya, Iolas sudah membopongnya dengan sigap. Pemuda elf itu mengangkat tubuh Arael tanpa bertanya lebih dulu.


Arael sudah hendak mengajukan protes, tetapi toh ia juga tidak punya jalan keluar lain yang lebih efisien daripada memanjat dalam dekapan Iolas. Akhirnya, dengan pasrah Arael pun mengalungkan kedua lengannya ke bahu Iolas sambil menelan rasa malu. Namun para elf di sekitar mereka tidak menunjukkan ketertarikan terhadap situasi tersebut, seolah-olah mengangkat gadis manusia adalah hal yang paling normal dilakukan oleh seorang pemuda elf.


“Apa kita naik dari sini?” tanya Iolas.


Iolas, Bryen dan para elf lain pun turut memanjat mengikuti jejak Rangwe. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan bangsa elf memang jauh lebih unggul dibanding ras mana pun di Luteria. Seandainya Arael berhasil menyatukan kedua belas suku elf dan membuat mereka bersedia membantu menggulingkan Charles, maka tujuan Arael bisa tercapai dengan mudah. Elf cenderung bijaksana dan membenci peperangan. Karena itu kedamaian di Luteria bisa kembali setelah bangsa manusia dan elf bisa hidup berdampingan lagi seperti dulu.


“Apa kau tidak lelah, Iolas?” tanya Arael di tengah-tengah perjalanan mereka memanjat pohon purba. Wajah Iolas begitu dekat dengan wajahnya sendiri. Rasanya ia kembali bernostalgia, mengingat saat-saat pertamanya bertemu Iolas dulu. Pemuda elf itu juga menggendongnya seperti ini, menyelamatkan Arael dari sergapan orge.


“Aku baik-baik saja. Apa kau lelah?” tanya Iolas yang rambut emasnya berkibar-kibar diterpa angin. Arael menyukai warna rambut emas yang berkilau itu. Terlihat cantik dan elegan.


“Sedikit,” gumam Arael pendek.


“Beristirahatlah setelah ini. kau menggunakan energi sihir terlalu banyak dengan memanggil Luca dan bayanganmu sekaligus,” ujar Iolas.


“Tentu saja,” jawab Arael sambil tersenyum.


Rasanya menenangkan setiap kali Iolas berada di dekatnya. Entah sejak kapan Arael menumbuhkan perasaan bergantung itu. Sosok Iolas selalu bersama dengannya sejak ia keluar dari penjara. Iolas membantunya menemukan kemampuan berpedang, mengembangkan bakat Arael, hingga menemaninya sampai di tempat ini. Semula Arael tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi begitu terbiasa pada Iolas. Namun di momen itu, Arael mulai merasakan ikatan kuat pada Iolas. Tentu saja dia juga sangat menyukai Bryen. Akan tetapi sosok Iolas memiliki peran yang berbeda. Iolas menyaksikan Arael sejak gadis itu masih sangat lemah.


“Terima kasih, Iolas,” bisik Arael pelan.


Iolas mendengkus pendek. “Kebiasaan burukmu muncul lagi. Kau gemar berterima kasih tanpa sebab,” sahutnya sambil tersenyum.


“Aku punya banyak alasan bagus untuk berterima kasih padamu,” timpal Arael.


Iolas tak menjawab lagi. Wajah pemuda elf itu hanya bersemu merah dan tersipu. Beruntung perhatian Arael segera teralih karena kini mereka sudah sampai di pemukiman para elf bintang.