The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Rencana



“Apa kau benar-benar akan kembali ke istana terkutuk itu sekarang?” tanya Iolas saat mereka berdua tengah berlajar memasang dudukan di atas punggung Kaladrius versi besar.


“Kau dengar sendiri syarat dari Ratu Esthaenie. Kita membutuhkan Cassandra untuk menemui para elf cahaya,” jawab Arael tanpa berpikir.


“Putri, terlalu berbahaya jika kita menyerbu ke kastil tanpa rencana. Selain itu, jika Anda tertangkap lagi, maka seluruh ramalan mungkin tidak akan terjadi,” imbuh Bryen turut berusaha mencegah keputusan Arael yang terkesan impulsif.


“Kita bisa mencari peri lain. Tidak harus peri pelindungmu. Kau bisa menyelamatkannya setelah kekuatan kita cukup,” kata Iolas menambahi.


Arael menarik napas panjang lalu berbalik menghadapi Iolas secara langsung. “Apa kau tidak khawatir pada Ylyndar, gurumu? Ia mungkin juga tertangkap bersama Cassandra. Penjara tanpa sihir melemahkan kemampuan makhluk sihir seperti peri dan elf. Jika terlalu lama berada di tempat itu, mereka tidak akan tertolong lagi,” kata Arael serius.


Iolas tercekat ketika Arael menyebut nama gurunya. Tentu saja Iolas memikirkan Ylyndar jauh lebih sering daripada yang dipikirkan Arael. Meski begitu, ia ingin percaya bahwa Ylyndar mungkin hanya sedang bersembunyi di suatu tempat, alih-alih tertangkap para orge. Ylyndar adalah elf yang kuat. Meski begitu, kata-kata Arael membangkitkan ketakutan Iolas. Jika benar Ylyndar tertangkap, maka ia harus segera menyelamatkan gurunya itu sebelum semuanya terlambat.


“Apa rencanamu?” tanya Iolas kemudian.


Bryen menatap Iolas tak percaya. Bagaimana bisa pendapat pemuda elf itu dipatahkan dengan mudah. Baru beberapa detik yang lalu mereka sependapat, tetapi kini Iolas sudah sama nekatnya dengan Arael.


“Kita menyelundup,” jawab Arael singkat.


“Semudah itu?” tanya Iolas.


“Tidak juga. Kita akan bertemu banyak penjaga. Terlebih setelah aku kabur. Jumlah orge penjaga pasti meningkat drastis,” sahut Arael sambil mengencangkan ikatan di bawah perut Kaladrius.


“Jadi bagaimana?” Iolas kembali memastikan rencana Arael yang tampak impulsif.


“Tolong berhenti, kalian berdua. Putri, saya tahu anda khawatir, tapi Anda harus mengutamakan keselamatan. Dan Iolas, bisa-bisanya kau kehilangan kendali juga. Bersikaplah dengan tenang.” Mendadak Bryen mengomel.


Arael menghentikan kegiatannya. “Apa kau punya usul yang bagus, Bryen,” tantangnya kemudian.


Bryen menatap Arael dan Iolas secara bergantian sembari menelan ludah. Kedua rekannya itu kini sudah menatap Bryen dengan penuh tekanan, seolah keputusan mereka untuk menyelamatkan orang-orang terdekat mereka tidak dapat tergoyahkan. Bryen terdesak dan menyadari kalau pendapatnya mungkin tidak akan mengubah keinginan mereka berdua.


“Kita hancurkan kastilnya dengan gelombang air,” kata Bryen sambil meringis.


Arael dan Iolas menghela napas panjang sambil memutar mata dan menepuk kening mereka.


“Sepertinya kau juga tidak punya ide bagus, Bryen. Jadi kita kembali ke rencana semula. Terbang dengan Kaladrius sampai di dekat hutan kastil. Setelah itu kita cari sudut dengan penjaga paling sedikit. Tumbangkan mereka satu-per satu. Masuk ke dalam penjara. Keluarkan Cassandra dan Ylyndar. Kembali melalui rute yang sama. Jika terpaksa, kita bisa terbang dengan Kaladrius dari halaman istana. Tidak usah pakai dudukan. Pegangan saja pada bulu-bulunya,” terang Arael meringkas rencananya yang begitu gamblang.


“Tidakkah lebih mudah untuk menenggelamkan merka, Putri?” ujar Bryen menyangsikan rencana Arael.


Arael memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut pening. “Tidak, Bryen. Kalau kastil tenggelam, para tahanan ikut mati,” jawabnya lelah.


Kaladrius membumbung tinggi dengan Arael, Iolas dan Bryen duduk di atas punggungnya. Tempat dudukan yang sudah mereka pasang terasa nyaman karena terbuat dari bulu angsa berlapis sutra lembut. Barang-barang buatan para elf selalu saja berkualitas sempurna. Kaladrius pun terbang dengan halus dan tenang. Angin menerpa wajah Arael membuatnya merasa hidup lagi. Ternyata terbang memang sangat menyenangkan.


Pemandangan di bawah sana juga menarik meski kebanyakan tertutup awan. Kaladrius membumbung sangat tinggi hingga awan-awan menutupi keberadaannya dari pandangan orang-orang di bawah mereka. Arael melihat kota-kota bangsa manusia yang terbagi dalam wilayah-wilayah. Populasi manusia sepertinya mendominasi Luteria. Meski begitu, sesekali mata Arael yang awas juga menemukan sesosok dwarf atau centaur yang berlarian di padang gersang, menyelinap di balik perbukitan. Arael mengerti sekarang, kenapa para elf bersayap ini bisa mengetahui banyak informasi rahasia. Melihat dari sudut pandang ini, membuat Arael mengetahui lebih banyak hal.


“Kita hampir sampai,” celetuk Iolas yang sudah hafal betul denah hutan tempat tinggalnya.


Para elf hutan memang berada paling dekat dengan istana kerajaan Luteria. Arael telah memberi perintah pada Kaladrius untuk terbang menuju Leopolis, ibukota kerajaan Luteria. Tampaknya burung itu sudah tahu kemana arah lokasi yang dituju karena kini Arael sudah bisa melihat kastil megah tempatnya


“Kita harus mendarat tanpa menarik perhatian,” kata Arael kemudian.


“Hutan sebelah sana jauh dari pemukiman,” ujar Bryen menunjuk ke arah selatan, perbatasan dengan pegunungan berkabut.


Arael sepakat dengan lokasi yang dipilih Bryen. Diperintahkannya Kaladrius untuk mendarat di balik perbukitan. Kabut akan menyamarkan kedatangan mereka, dan daerah itu juga jarang didatangi siapa pun karena lahannya yang tandus dan gersang.


Kaladrius melakukan perintah majikannya dan menukik pelan ke arah pegunungan. Dengan lembut ia mendarat tanpa menimbulkan suara. Arael benar-benar menyukai cara terbang Kaladrius yang elegan. Begitu turun dari punggung Kaladrius, gadis itu segera menyuruh burungnya untuk kembali ke wujud semula. Dudukan punggung sudah dilipat menjadi ukuran yang ringkas. Iolas yang bertugas menyimpannya.


Mereka pun akhirnya melesat menuju kastil yang jaraknya sekitar 10 mil dari sana. Arael menunggangi Luca agar dapat mengimbangi kecepatan Iolas dan Bryen. Dalam waktu tiga puluh menit, ketiganya sudah memasuki kawasan hutan yang berbatasan dengan kastil.


“Aku mencium bau orge di mana-mana,” kata Iolas memicingkan hidungnya.


Arael juga merasakan hal yang sama. Aroma busuk yang khas menyeruak sejak mereka memasuki hutan. Tampaknya penjagaan diperketat hingga berkali lipat, bahkan sebelum mereka memasuki halaman kastil.


“Setidaknya ada sembilan orge yang ada di sekitar sini. Saya bisa merasakan keberadaan mereka melalui cairan tubuhnya,” ujar Bryen menerka.


“Apa kau tahu arah posisi mereka, Bryen?” tanya Arael kemudian.


Bryen mengangguk menanggapi lalu memberi tahu sembilan lokasi yang tempat orge-orge itu. Arael memahaminya lantas membagi tim mereka menjadi tiga.


“Kita berpencar. Masing-masing dari kita harus menumbangkan tiga orge secara diam-diam. Jangan membuat banyak keributan. Iolas kau bisa memanah mereka dari jauh, Bryen gunakan kemampuan air mu untuk membunuh mereka. Aku akan menggunakan kekuatan bayangan,” kata Arael kemudian.


Iolas dan Bryen sontak tidak setuju.


“Itu akan menghabiskan banyak energi sihirmu. Di dalam sana mungkin masih banyak orge yang harus dihadapi. Kau bisa kelelahan,” ujar Iolas memperingatkan.


“Aku hanya menggunakannya sebentar, Iolas. Pertarungan terbuka hanya akan menimbulkan keributan dan memanggil lebih banyak orge,” ucap Arael tegas.