The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Kekalahan



“Tak kusangka sampai juga saat di mana kita harus berhadapan, Arael. Sepertinya aku sudah terlalu meremehkan ramalan itu dan membiarkanmu tetap hidup sampai saat ini. Seharusnya aku membunuhmu sejak kecil,” ujar Charles dengan wajah arogan di atas singgasana. “Walaupun begitu, tidak akan ada yang berubah, Gadis Kecil. Kau tetap akan mati di tempat ini,” lanjutnya sembari menyeringai bengis.


“Tidak akan kubiarkan kau bertindak sesukamu lagi. Hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini, Charles,” balas Arael sembari mencabut kedua pedangnya.


Detik berikutnya, para orge pun mulai menyerang. Arael, Iolas dan Bryen segera bergerak untuk melawan mereka. Setidaknya ada dua puluh orge di tempat itu. Meski begitu, mereka tidak lagi kewalahan. Iolas dan Bryen membunuh para orge dengan sangat baik. Sementara Arael langsung melesat ke arah Charles yang masih duduk di atas singgasana dengan sikap pongah.


Arael tinggal beberapa langkah lagi sampai di hadapan Charles. Namun sang penyihir wanita berjubah hijau itu melambaikan tangannya lantas melontarkan gelombang angin yang sangat kuat. Tubuh Arael terlempar ke belakang. Gadis itu berhasil menyeimbangkan diri. Namun kini ia harus mencari cara untuk bisa melawan sang penyihir berjubah hijau tersebut. Jika ia terus-terusan melontarkan gelombang angin, Arael sama sekali tidak bisa mendekatinya.


Mendadak sebuah anak panah perak melesat ke arah sang peyihir hijau itu. Ia mencoba menghalaunya tetapi lesatan anak panah Iolas itu tidak bisa dihentikan. Anak panah tersebut sudah nyaris menembus kepala sang penyihir ketika akhirnya Charles berdiri dan menangkisnya dengan sebilah pedang besar miliknya.


Pria lalim itu lantas tertawa keras. “Baiklah. Kurasa memang sudah saatnya aku turun tangan. Aku akan melawanmu sebagai Raja, Arael, bukan sebagai seorang penyihir,” ujar Charles sembari menghunus pedangnya. “Lytha, urus elf-elf kecil itu,” lanjutnya memberi perintah.


“Baik, Yang Mulia,” sahut sang penyihir berjubah hijau. Ia kemudian menghilang dari sisi Charles, lantas muncul lagi di hadapan Iolas.


Pemuda elf itu secara otomatis mengayunkan belatinya untuk menyerang. Namun Lytha berhasil menangkis dengan sebuah tongkat kayu besar bertatahkan batu sapphire. Bryen muncul tak lama kemudian untuk membantu Iolas melawan sang penyihir hijau.


“Apa kita tidak akan memulai pertarungannya?” tanya Charles mengembalikan perhatian Arael.


Gadis itu segera menggenggam kedua pedangnya dan kembali mengalihkan fokusnya pada sang raja lalim yang kini sudah turun dari singgasananya.


Charles berdiri di hadapan Arael, mengenakan jubah kebesarannya serta mahkota kerajaan bertatahkan batu mulia. Arael benar-benar muak dengan penampilan tersebut. bagaimana pun caranya, Arael harus bisa mengalahkan orang itu.


Tanpa membalas kata-kata Charles, Arael langsung menerjang begitu saja. Kedua pedangnya terhunus ke arah Charles. Sang raja lalim itu pun menangkis serangan Arael dengan pedang besarnya. Pertarungan pedang pun terjadi di antara mereka berdua.


Arael tampak terdesak. Meski gadis itu melakukan lebih banyak serangan, tetapi Charles memiliki teknik berpedang yang lebih baik. Tak bisa dipungkiri tentu saja, karena Charles sudah memiliki pengalaman berpedang yang jauh lebih lama. Selain itu, dulunya Charles merupakan komandan ksatria kerajaan pada saat ayah Arael, Raja Peter, memerintah.


“Bagaimana kau bisa mengalahkanku dengan kemampuan seperti ini, Gadis Kecil? Kau seperti hanya bermain-main dengan dua pedang tak bergunamu itu,” ejek Charles di tengah desing besi yang beradu.


Arael menolak menyerah. Setidaknya ia harus melakukan segala cara agar bisa menang. Gadis itu lantas memanggil spirit saljunya, Luca, untuk membantunya melawan Charles. Serigala putih itu muncul sembari mendesis marah ke arah sang raja lalim itu. Hewan buas itu lantas menerkam Charles dengan satu lompatan.


Charles menahan serangan Luca denga pungung pedangnya. Seekor spirit tidak bisa dilukai dengan pedang biasa. Karena itu ia pun mulai merapal mantra dan mengeluarkan api di sekujur bilah pedang besar tersebut. Luca melompat mundur dengan bulu-bulu yang sedikit terbakar.


Charles bangkit berdiri sembari mendengkus pelan. “Sudah kukatakan aku akan melawanmu sebagai raja. Pedang melawan pedang. Tapi kau justru mulai menggunakan sihir. Dengan begini, aku tidak akan segan-segan lagi,” ujarnya sembari mengumpulkan seluruh kekuatan sihirnya.


Tubuh Charles kini dilingkupi aura gelap yang sangat pekat. Udara sontak dipenuhi tekanan yang sangat berat. Tubuh Arael mendadak sulit bergerak. Bahkan untuk berdiri saja ia nyaris tidak sanggup. Arael jatuh berlutut dengan satu kaki karena tekanan udara gelap itu.


Ini adalah energi sihir gelap yang dibicarakan oleh Skylar. Pikir Arael sembari menggenggam Scimitar dengan lebih erat.


Pedang hitamnya itu bisa merasakan kekuatan sihir gelap yang sangat kuat. Rasanya ia ingin merobek-robek aliran energi tersebut, termasuk seluruh tubuh Charles. Meski begitu Arael masih bersabar. Ia harus menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.


Saat tengah mengumpulkan seluruh energi gelap tersebut, Arael memanfaatkan momen tersebut untuk mengirim Skiroff. Bayangannya itu menyelinap di antara aura gelap yang melingkupi Charles. Dengan segera Arael pun menangkap bayangan Charles dan mulai mengambil kendali. Awalnya Charles belum menyadarinya, hingga ketika ia mencoba mengayunkan pedangnya yang berapi-api ke arah Arael, tangannya ternyata sudah tidak bisa bergerak.


“Apa yang … ,” geramnya terkejut. “Kau … ,” lanjut Charles sembari menatap Arael dengan mata nyalang.


“Sudah waktunya kesombonganmu berakhir, Charles. Kau manusia lalim yang telah menyengsarakan seluruh ras di tanah Luteria. Aku akan menghentikan seluruh kejahatanmu,” ujar Arael sembari berjalan mendekat ke arah tubuh Charles yang sudah kaku tak bisa bergerak.


“Kau pikir kegelapa bisa berhenti hanya dengan membunuhku? Kekuatan ini akan terus menguasai Luteria. Kau tidak akan pernah bisa menghentikannya,” geram Charles dengan suara penuh ancaman. Meski hidupnya sudah diujung tandung, tetapi Charles sama sekali tidak ketakutan. Alih-alih ia justru terus menatap Arael dengan tajam, seolah bisa mengutuk gadis itu dengan tatapannya.


Arael tidak peduli. gadis itu tetap mengangkat kedua pedangnya ke udara, lantas mengayunkannya menyilang hingga menebas tubuh Charles menjadi empat bagiann. Charles mengerang keras. Raja itu terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa. Darah menyembur dari seluruh tubuhnya, dan aura gelap yang dia keluarkan pun terserap kembali ke dalam tubuhnya, membuat kulit Charles berubah menjadi hitam legam.


“Kau … akan menyesalinya … . Kekuatan gelap ini tidak akan pernah hilang … meskipun aku mati … ,” ujar Charles dengan sisa-sisa tenaganya.


Arael hanya menyaksikan musuh bebuyutannya itu mati dengan mengenaskan. Di bawah kakinya, tubuh Charles yang bersimbah darah kini lambat laun berubah menjadi debu. Tak ada lagi yang tersisa dari sang raja Lalim penguasa kegelapan. Scimitar melakukan tugasnya dengan baik untuk mematahkan kutukan dan menghancurkan sihir gelap. Arael benar-benar tidak percaya karena akhirnya ia berhasil menunaikan tugasnya. Ia sudah membunuh Charles.


“Arael! Kau berasil!” Tergopoh-gopoh Iolas menghampirinya. Bryen pun turut berlari mendekat. Rasa haru memenuhi dada Arael. Air mata menggenang di wajahnya. “Sudah selesai, Iolas,” gumamnya pelan.


Tiba-tiba beberapa lecutan energi gelap muncul dari bekas mayat Charles. Wujudnya seperti ratusan cambuk yang sangat tajam, menyerang sekaligs ke arag gadis itu. Arael sama sekali tidak siap dengan serangan mendadak tersebut. Ia mencoba mengelak, tetapi waktunya sama sekali tidak cukup. Lecutan energi itu akan segera menusuk seluruh tubuhnya.


Di detik yang sama ketika Arael merasakan momen-nyaris-mati itu, Iolas dan Bryen sudah melompat ke hadapan Arael. Mereka berdua berusaha melindungi gadis itu dengan tubuh mereka. Puluhan lecutan energi gelap itu pun menusuk tubuh Iolas dan Bryen hingga  tak berwujud lagi. Arael memekik keras, dan berusaha menyelamatkan mereka berdua. Namun semua sudah terlambat.