
Arael tersenyum tipis. Hatinya kembali hangat karena kalimat-kalimat tersebut. Sejenak ia merasa bodoh karena telah berpikiran buruk terhadap mereka. Selama melalui perjalan bersama-sama, ikatan di antara mereka berempat telah menjadi begitu kuat.
Setelah melihat bagaimana ketiga rekan elfnya itu membela Arael dengan segenap hati, gadis itu pun memutuskan untuk menghadapi Finn. Ia menyeruak maju di antara Iolas dan Rangwe yang masih berdiri dengan sikap waspada.
“Finn, aku mungkin hanya manusia biasa bagimu. Tapi di atas segalanya, semua ras yang tinggal di tanah Luteria memiliki perannya masing-masing. Sikapmu yang sekarang justru merendahkan martabat kaummu sendiri,” tukas Arael tajam.
Finn tidak lantas menjawab. Ia hanya mengamati Arael yang berdiri di hadapannya tanpa rasa takut. Pria itu lantas tersenyum simpul dan tampak puas.
“Tuan Luell sepertinya akan menyukaimu. Dia senang bergaul dengan manusia yang memiliki banyak energi sepertimu,” tandasnya. Ekspresi Finn melembut. Ia tidak lagi bersikap terlalu ofensif kali ini. “Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan,” lanjutnya sembari berbalik pergi.
Arael menoleh ke arah rekan-rekannya. Rangwe mengangguk pelan, mengisyaratkan agar mereka kembali mengikuti Finn.
Lima menit kemudian rombongan itu pun sampai di sebuah taman luas yang ada di tengah-tengah mansion. Taman bunga mawar yang dibangun menyerupai labirin. Finn memandu mereka melewati banyak tikungan hingga sampai di pusat labirin tersebut.
Seorang pemuda berambut panjang tampak sedang bermain-main dengan seekor serigala besar yang berbulu perak. Rambut pemuda itu memiliki warna yang sama dengan bulu serigalanya, diikat longgar di belakang punggung dengan beberapa helai menjuntai lembut ke depan tubuhnya.
“Tuan Luell, saya membawa para tamu,” ujar Finn begitu mereka berada cukup dekat dengan sang pemilik mansion.
Luell berpaling ke arah rombongan tersebut. Sebuah kacamata bulat tersemat di matanya, berkilat-kilat terkena cahaya bulan.
“Kalian sudah tiba?” sapa Luell terlihat ramah. Sepasang telinga runcing mencuat dari balik rambut panjangnya, memberi informasi bahwa orang tersebut adalah bangsa elf. Luell lantas berjalan mendekat dan menyadari situasi tegang di antara mereka berlima.
“Melihat suasananya, sepertinya Finn sudah berbuat kesalahan. Dia memang teman perjalanan yang menyebalkan. Tolong jangan terlalu memikirkan kata-katanya. Finn selalu keterlaluan saat memperlakukan orang yang baru dikenalnya,” tambah Luell sembari tersenyum.
Arael balas tersenyum. “Finn sudah memandu kami dengan baik,” ujarnya rendah hati.
“Saya hanya mengetes mereka sedikit,” kilah Finn.
“Melihat kau akhirnya membawa mereka ke sini, artinya Putri Sion telah lulus dari tesmu itu, kan, Finn?” tanya Luell.
“Yah, energinya bagus. Cocok untuk menjadi mangsa kita,” sahut Finn sembari melirik ke arah Arael.
Sontak Iolas kembali maju melindungi gadis itu. “Jangan coba-coba menyentuhnya,” geram pemuda elf itu penuh amarah.
Luell segera mengambil alih keadaan. Ia menengahi pertikaian antara Iolas dan Finn, anak buahnya yang bermulut ringan itu.
“Tolong jangan salah paham. Mangsa mungkin bukan istilah yang tepat untuk digunakan saat ini. Meski aku tidak bisa menyanggah kalau di masa lalu, nenek moyang kami memang sesekali melukai manusia. Tapi sekarang kaum Lythari hanya sedikit menyerap energi manusia untuk mempertahankan wujud ini. Tidak secara harafiah menerkam mereka,” terang Luell sembari masih tersenyum sabar.
“Sebaiknya kau kembali ke tempatmu berjaga, Finn. Ucapanmu itu benar-benar bisa membuat orang lain salah paham,” tegur Luell mengusir bawahannya.
Finn hanya mendengkus pelan sembari tersenyum geli. Ia pun membungkuk singkat lantas meninggalkan taman labirin.
Arael dan rekan-rekannya yang lain pun duduk mengitari meja persegi yang penuh berisi kue-kue dan manisan. Lima cangkir teh yang masih mengepul sudah berada di hadapan mereka seolah Luell sudah mempersiapkan segalanya sebelum kedatangan Arael.
“Kau sudah tahu kami akan datang?” celetuk Arael sembari mengamati semua sajian lezat itu.
“Tidak lama setelah kalian memasuki kota. Kaum kami sensitif terhadap energi manusia, seperti yang kau tahu. Ditambah lagi tiga energi elf asing yang jelas berasal dari suku lain. Kalau saja penciuman kalian seperti kami, kau akan tahu kalau kalian bertiga punya aroma khas yang sangat menyengat,” jelas Luell tenang.
“Aroma?” Arael bertanya sembari mengendus bau tubuhnya sendiri. Apa bau mereka seburuk itu.
“Bukan aroma yang seperti itu, Putri. Maksudnya adalah aroma energi kita.” Bryen ikut membantu menjelaskan.
“Elf liar punya bau seperti bunga, katanya. Benar-benar tidak cocok dengan penampilan kami. Mungkin ada yang salah dengan penciuman kalian,” ujar Rangwe sembari menyeruput teh nya yang masih mengepul.
Arael setuju dengan komentar Rangwe. Bahkan saat ini, melihat Rangwe memegang cangkir kecil yang cantik itu rasanya sangat tidak sesuai. Meski begitu Arael menyimpan isi pikirannya itu untuk dirinya sendiri.
“Bunga Adas lebih tepatnya. Aromanya sedikit pedas.” Loell mengoreksi sembari menatap Rangwe yang kini mulai menyantap kue makaron merah jambu.
“Itu lebih baik,” sahut Rangwe pendek.
“Elf air beraroma laut yang asin, sementara elf hutan baunya seperti pohon pinus. Itu adalah beberapa aroma energi yang bisa kami cium saat kalian memasuki kota,” terang Luell merujuk pada Iolas dan Bryen. “Sementara aromamu sedikit unik, Putri. Seperti perpaduan banyak kekuatan. Kuduga para suku elf lain sudah memberimu banyak hal.”
Iolas berdecih pelan. “Jadi karena itu anak buahmu berkata kalau kau akan menyukai energinya. Meski begitu, aku tidak akan tinggal diam kalau kau berani menyentuh Arael,” kecam Iolas tidak senang.
Luell tersenyum ramah menghadapi sikap protektif Iolas. Ia sepertinya tidak berniat untuk berdebat. “Ngomong-ngomong aku belum tahu nama kalian, selain Putri Arael,” ujarnya mengalihkan topik.
“Ah, Anda bisa memanggilku Bryen, sementara yang duduk di sebelah Putri Arael adalah Iolas. Elf beraroma bunga ini bernama Rangwe,” ujar Bryen segera memperkenalkan diri.
“Apa kau memang perlu menggarisbawahi masalah bunga ini?” tukas Rangwe berpura-pura gusar.
Bryen tertawa kecil menanggapi. “Itu benar-benar fakta yang menarik, Rangwe. Aku tidak pernah tahu kalau kau berbau seperti bunga … Adas,” sahut Bryen.
Baru sekarang Arael menyadari hubungan Bryen dan Rangwe yang sudah menjadi begitu akrab. Sebelumnya, saat hanya bersama Iolas, Bryen biasanya jarang bicara. Mungkin karena Iolas selalu memancarkan aura yang sulit didekati.
Perbincangan ringan mereka pun terus berlangsung hingga jatuh malam. Kaum Lythari rupanya tidak terlalu tertarik pada ramalan. Meski begitu, setelah Rangwe menjelaskan semua hal, Luell pun setuju untuk membantu Arael.
Luell menjelaskan bahwa dengan kemampuan para Lythari, ia bisa memasuki kota-kota manusia yang lain dan mencoba melindungi para penduduk dari dalam kota. Bantuan itu tentu saja sangat berguna. Selama ini Arael terus memikirkan cara agar bisa meminimalisir jatuhnya korban yang tidak bersalah. Jika para Lythari bisa membuat orang-orang di dalam kota tetap terlindung, maka kekhawatiran Arael tersebut bisa teratasi.
“Sebenarnya kami memiliki kemampuan persona. Dengan memanfaatkan itu, kami akan membantu untuk membawa para penduduk ke tempat yang aman saat perang berlangsung. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan sebesar apa perang itu akan terjadi,” kata Luell seolah bisa membaca kekhawatiran Arael.
Satu bebannya akhirnya terangkat. Perjalanan Arael sudah semakin mendekati akhir. Malam itu, Arael tidur dengan nyenyak di salah satu kamar di mansion milik Luell.