
Arael, Iolas dan Bryen akhirnya melanjutkan perjalanan mereka menuju Pegunungan Aegor, daerah yang konon merupakan tempat tinggal Avariel Elves atau elf bersayap. Mereka bertiga bergerak dengan cepat dan karena Arael sudah bertambah kuat sejak menerima Kristal Ephestus, maka perjalanan mereka pun menjadi lebih singkat.
Kekuatan Kristal tersebut juga berimbas pada Luca yang menjadi spirit Arael. Serigala itu kini menjadi tunggangan Arael untuk mendaki. Kecepatan Luca meningkat hingga beberapa kali lipat hingga terkadang Iolas dan Bryen pun kesulitan mengikutinya. Sesekali kedua elf itu terpaksa menggunakan sihir mereka untuk meringankan tubuh dan berlari lebih cepat.
Perjalanan tiga hari penuh sudah mereka lalui. Namun puncak gunung Aegor yang sering disebut Aril-Tel-Quassir, sama sekali belum terlihat. Puncak-puncak pegunungan itu diliputi awan karena ketinggiannya yang tidak masuk akal. Lokasinya yang sulit dijangkau membuat para elf bersayap ini tidak perlu repot-repot menyembunyikan diri. Bahkan sekalipun para manusia atau ras-ras lain mengetahui tempat mereka tinggal, tidak ada yang mau berepot-repot datang ke sana.
“Apa kau tidak kelelahan?” tanya Iolas tampak sedikit pucat.
“Aku baik-baik saja. Sepertinya kalian berdua yang terlalu banyak menggunakan sihir. Kalau begitu kita beristirahat dulu,” kata Arael sembari turun dari punggung Luca.
Sebenarnya pinggang dan punggung Arael juga sudah menjadi kebas. Tiga hari berturut-turut mereka menempuh perjalanan tanpa istrirahat berarti. Meski energi sihir Arael sudah bertambah secara signifikan, tetapi tubuh manusianya tetap bisa merasa pegal dan nyeri akibat terlalu lama duduk di punggung Luca.
Begitulah akhirnya Arael, Iolas dan Bryen beristirahat saat petang di hari keempat. Mereka berkumpul di sebuah tebing curam yang menjorok ke luar. Sebuah gua dangkal berada di sisi lain tebing tersebut. Tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk melindungi mereka dari angin kencang pegunungan.
Luca sudah kembali ke dunia spirit, sementara Iolas dan Bryen merebah di atas tanah bebatuan. Elf jarang merasa lelah. Namun kali itu Iolas dan Bryen tampak kepayahan. Bahkan bagi sesama bangsa elf, rute perjalanan tersebut terasa berat. Beruntung Arael telah mendapat kekuatan Kristal. Tanpanya, mungkin ia tidak akan bisa melakukan perjalanan ini tanpa kewalahan.
“Seperti apa bangsa elf bersayap ini?” tanya Arael kemudian. Ide mengenai sayap membuat Arael tertarik. Terbang selalu identik dengan kebebasan. Arael menyukainya.
“Aril-Tel-Quassir terkenal sangat eksklusif, Putri. Bahkan di antara semua suku elf, Aril-Tel-Quassir sangat tertutup dan pemilih. Mereka juga sedikit angkuh,” terang Bryen.
“Mereka tidak berbahaya, tapi sangat menyebalkan. Untung saja mereka tinggal di tempat yang jauh, jadi kami tidak perlu sering-sering bertemu,” ungkap Iolas sembari menerawang, seolah mengenang masa lalu yang tidak ingin dia ingat.
“Meski begitu, mereka akan sangat berguna jika bersedia membantu kita dalam perang. Tidak banyak makhluk sihir yang setangkas para elf bersayap itu dalam pertarungan terbuka. Kaum elf bersayap terkenal cekatan dalam membasmi banyak musuh sekaligus,” jelas Bryen menambahi.
Arael sudah mendapat sedikit gambaran tentang para elf bersayap itu. Mereka tahu bahwa mereka kuat, karena itu kewaspadaan mereka tidak akan setinggi kaum elf lainnya. Dan hal itulah yang akan dimanfaatkan oleh Arael. menghadapi lawan yang kuat namun sombong jauh lebih mudah daripada jenis orang yang lemah namun perhitungan. Kekuatan seharusnya selaras dengan kebijaksanaan. Tanpa kedua hal tersebut berjalan bersama, maka kekuatan hanya akan menjadi sia-sia.
Setelah beberapa cukup beristirahat, Arael dan yang lainnya pun melanjutkan perjalanan mereka. Semakin ke atas, angin dingin semakin terasa menusuk. Tekanan udara juga semakin rendah dan membuat Arael bernapas pendek-pendek.
“Mulai dari sini, kita harus melambat,” seru Iolas yang menyusul ke sebelah Arael.
Arael segera menyetujuinya. Selain karena kabut tebal yang memperpendek jarak pandang, tekanan udara yang rendah membuat mereka mudah terengah-engah. Maka, demi menyimpan energinya, Arael pun mengembalikan Luca ke dimensi spirit. Ia, Iolas dan Bryen pun mulai berjalan dengan santai. Setelah melakukannya, tubuh Arael tidak lagi terlalu cepat lelah. Alih-alih ia menjadi segar karena udara gunung yang jernih.
Perjalanan mereka ternyata tidak membutuhkan waktu lama. Hanya berselang beberapa jam saja, kabut tebal mulai menipis hingga tersibak sepenuhnya. Puncak pegunungan Aegor pun sudah terlihat di kejauhan. Bahkan dari tempat Arael berdiri, hiruk pikuk kehidupan para elf bersayap itu tampak riuh.
Arael sudah banyak bertemu elf yang memiliki penampilan cantik, rupawan dan sempurna. Namun elf bersayap ternyata memiliki tingkat kecantikan yang lebih tinggi dari elf yang lain. Arael sepakat kalau kaum elf bersayap ini disebut sebagai makhluk dengan wujud yang paling indah. Mereka memiliki rambut pirang yang berkilauan. Rambut mereka yang panjang bergelombang berkibar dengan lembut saat mereka terbang. Wajah mereka tirus dengan tulang pipi yang proporsional serta dagu runcing dan hidung yang sempurna. Arael tidak bisa melihat dengan jelas warna mata para elf bersayap itu, tetapi ia menduga warnanya mungkin biru laut yang menawan.
Dari semua hal tersebut, bagian paling memukau adalah sayap-sayap para elf itu. Mereka rata-rata memiliki dua sayap yang terbentang megah dengan bulu-bulu putih bersih dan berkilauan. Bulu yang tampak halus jika disentuh. Namun, beberapa dari para elf itu memiliki empat bahkan enam sayap yang bertumpuk. Mereka beterbangan di udara, sekedar bermain-main dengan sesamanya, sementara kebanyakan hanya menikmati waktu santai mereka di taman indah yang terbentang luas di puncak pegunungan Aegor. Di bawah kaki mereka, gumpalan awan yang sedari tadi menutupi puncak pegunungan ini tampak seperti permen kapas yang lembut dan menyempurnakan pemandangan surgawi tersebut.
“Aku mengerti kenapa mereka sulit dihadapi.,” gumam Arael sembari mendengkus pelan.
Iolas menghela napas panjang yang berat. “Begitulah,” ujarnya pendek.
Para elf bersayap ini sudah sangat puas dengan hidup mereka hingga berada dalam titik dimana tidak ada hal yang perlu mereka pedulikan lagi, termasuk kehidupan para manusia. Sikap yang baik sebenarnya, karena pada akhirnya mereka juga tidak berminat untuk mengganggu ras lain. Namun ketidakpedulian para elf bersayap ini bisa menimbulkan rasa congkak dan meremehkan ras di luar kaum mereka. Kelemahan itu bisa menghancurkan diri mereka sendiri suatu saat nanti.
“Ayo kita segera menyapa mereka, Iolas, Bryen,” ajak Arael mantap. Senyuman tipis sudah terlukis di wajahnya. Arael punya rencana.