The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Finn



Arael melanjutkan perjalanan mereka mengikuti peta sihir yang diberikan oleh bangsa elf cahaya. Tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah kota bernama Brithombar. Menurut cerita Iolas, Bryen dan Rangwe, Brithombar pada dasarnya adalah kota bangsa manusia. Dua ras elf yang tersisa rupanya hidup bersama para manusia dengan menyamar sebagai bagian dari mereka.


Lythari, elf pengubah wujud, bisa melakukan penyamaran hingga tidak bisa disadari oleh siapa pun. Sementara dark elf, yang juga termasuk ras elf kegelapan, hidup di bawah bayang-bayang tanpa terdeteksi. Karena itu, meski tinggal bersama manusia, atau orge sekalipun, keberadaan mereka tidak akan terendus.


Perjalanan mereka kali ini memakan waktu dua hari satu malam. Kota tujuan mereka berada di ujung benua yang terjauh. Karena itu, sekalipun terbang menggunakan Kaladrius, perjalanan tetap memakan waktu yang lama.


Mereka pun tiba saat hari sudah gelap. Dari atas langit, Arael melihat kerlap-kerlip lampu yang menunjukkan sebuah kota besar. Kota tersebut tak ubahnya kota bangsa manusia biasa yang dipenuhi bangunan-bangunan beton dengan arsitektur yang beragam. Kota tersebut terlihat cukup makmur, dilihat dari berbagai aktiivitas penduduknya yang masih ramai hingga larut malam.


Kaladrius mendarat tak jauh dari sana. Arael, Iolas, Bryen dan Rangwe berencana menyusup ke dalam kota melalui perbatasan yang tidak dijaga oleh kawanan orge. Keempatnya mengenakan jubah hitam yang menutupi wajah, berlagak seperti pengembara biasa.


Mereka menyusup dengan sukses. Sejauh ini tidak ada yang menyadari kedatangan mereka yang diam-diam itu. Iolas membawa rombongan itu menyusuri jalanan kota yang dihiasi lampu gantung kekuningan. Beberapa orang tampak masih berjalan-jalan di sekitar kota. Sepertinya ada festival di alun-alun.


“Bagaimana kita akan menemukan para elf di antara banyak manusia ini?” tanya Arael sembari berjalan di jalanan batu yang megah.


“Mereka yang mungkin akan mendatangi kita. Para elf sensitive pada sesamanya,” ucap Iolas merujuk pada dirinya dan Bryen serta Rangwe.


Dan benar saja, ketika perjalanan mereka sudah hampir mencapai alun-alun utama kota, seorang pria jangkung berdiri menghadang.


“Siapa kalian?” ucap pria itu sembari mengamati mereka berempat.


Secara instingtif Arael tahu bahwa pria yang menghampirinya itu adalah salah satu elf yang dimaksud oleh Iolas.


“Aku Arael, Putri Sion. Kami datang kemari untuk bertemu dengan kaum Lythari dan Ssri-Tel –Quassir.” Arael maju ke hadapan pria jangkung tersebut dan menjawab pertanyaannya tanpa ragu-ragu. Pria itu sepertinya berasal dari kaum Lythari, sang elf pengubah wujud karena penampilannya saat ini benar-benar menyerupai manusia biasa. Sementara Ssri-Tel-Quassir, elf kegelapan, mugkin punya wujud yang berbeda.


“Putri Sion?” Pria itu balik bertanya. “Dan kenapa kau datang kemari wahai Putri Sion?”


“Menggenapi ramalan,” kata Arael.


Pria itu awalnya tampak ragu. Namun kehadiran tiga elf lain yang datang bersama Arael sepertinya berhasil menepis keraguannya. Akhirnya, dengan bantuan Iolas dan Rangwe, pria elf itu pun setuju untuk membawa rombongan Arael menemui kepala suku mereka. Dia memperkenalkan diri dengan nama Finn, seorang elf pengubah wujud yang bertugas sebagai penjaga daerah tersebut. Finn membawa mereka ke sebuah rumah sederhana yang ada di tengah kota. Tidak ada yang istimewa dari rumah itu. Sama seperti rumah-rumah lain yang ada di kota dengan bangunan rendah berdinding kayu.


Interior di dalam rumah juga sangat sederhana. Hanya ada beberapa perabot usang di sudut ruangan. Namun segalanya berubah ketika Finn akhirnya membuat pola sihir khas bangsa elf. Arael menjadi sangat terbiasa melihat pola sihir tersebut. Itu adalah ligkaran transmutasi untuk membuka gerbang sihir.Finn membuat pola tersebut di depan sebuah pintu kayu yang terlihat sudah sangat tua. Seketika setelah Finn menyelesaikan sihirnya, pintu kayu itu sekonyong-konyong berubah menjadi emas. Batu-batu permata menhiasi pintu tersebut, membuatnya tampak mencolok di tengah-tengah ruangan tua yang sudah dimakan usia.


“Masuklah,” perintah Finn sembari membuka pintu tersebut.


“Lewat sini.” Finn kembali memandu jalan.


Arael mengikuti elf tersebut menyusuri lorong yang ada di sisi lain ruangan. Rupanya mereka sekarang berada di sebuah mansion yang sangat besar, seperti istana megah dari dunia lain. Ia tidak melihat adanya elf lain di tempat yang lengang ini. Bahkan tidak ada pelayan yang jamak berada di sebuah istana.


“Di mana yang lainnya?” tanya Arael penasaran.


Finn mendengkus pendek. “Kau melihatku berada di kota. Bukankah seharusnya kau bias mengambil kesimpulan, Putri?” ucapnya dengan nada sombong.


“Kaum Lythari tinggal di tengah-tengah manusia. Mereka memiliki rumahnya sendiri di luar sana. Kuduga setiap keluarga Lytari menyihir kediaman mereka menjadi seperti rumah tua yang tidak terawat,”sahut Iolas menjelaskan. Nadanya juga mengandung sindiran pada sang Lythari yang memandu mereka.


“Tempat ini adalah kediaman pimpinan kami, Tuan Luell.” Finn melembutkan nadanya setelah Iolas berbicara dengan sinis.


“Kenapa kalian tinggal bersama manusia?” tanya Arael lagi, sama sekali tidak gentar meski Finn memperlakukannya dengan tidak sopan. Tampaknya Finn hanya bersedia menaruh respek kepada sesama kaum elf saja.


Mendengar pertanyaan itu Finn sekali lagi mendengkus keras. Kali ini ia terang-terangan mencela Arael. “Lythari adalah nama lain kami, dalam bahasa kaum elf, kami disebut Ly-Tell-Quessir. Ly dari kata Lycan – manusia serigala –. Perubahan wujud kami yang paling alami adalah menjadi setengah serigala. Kenapa kami tinggal bersama para manusia? Jawabannya hanya satu, kami memangsa kaum Anda, Putri. Manusia adalah makanan bagi kami,” sahut Finn lantas menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Arael dengan seringai buas.


Iolas, Bryen dan Rangwe secara otomatis maju melindungi Arael. Ketiga rekan elfnya itu langsung bersikap waspada kepada Finn yang menunjukkan sikap penuh ancaman. Finn tertawa kecil melihat reaksi para elf penjaga Arael tersebut. Ia menghela napas pendek sembari tersenyum seolah menertawakan rekan-rekan Arael yang sudah bersikap sangat defensif.


“Tiga elf menjaga seorang manusia biasa yang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya kalian menaruh harga diri kaum elf di mana? Kenapa kalian bertingkah seolah manusia itu adalah pemimpin kalian?” ejek Finn sembari melipat tangan.


“Kaum kalian memang tidak pernah berubah. Penipu yang gemar memprovokasi,” geram Iolas tampak marah.


“Tidak ada yang salah dengan kata-kataku. Manusia itu layaknya bayi yang mudah layu. Mereka mati bahkan sebelum anak-anak elf beranjak dewasa,” cela Finn.


“Lebih baik kita hentikan perdebatan ini. Kami tidak datang untuk membuat masalah. Dan hubungan kami dengan Arael sama sekali tidak seperti yang kau bicarakan. Kami menjaga Putri Sion agar ramalan bisa terlaksana. Kita adalah kaum yang menjaga setiap ramalan. Sebagai seorang elf seharusnya kau juga memahaminya,” ujar Rangwe tetap bersikap tenang.


Hati Arael sedikit terluka ketika Rangwe mengatakan bahwa para elf itu menjaganya semata-mata untuk menuntaskan ramalan. Tentu saja itu bukanlah hal yang salah. Akan tetapi sesuatu di sudut hatinya seperti direnggut begitu saja. Hubungan manusia dan elf mungkin memang hanya bisa sebatas itu saja.


“Lebih dari itu, Arael adalah sahabat kami. Aku yakin Iolas dan Bryen juga merasakan hal yang sama. Termasuk sepuluh suku elf lain yang telah bertemu dengan Putri Sion. Terlepas dari ramalan itu, kami menghormati Arael pemimpin bangsa manusia di masa depan,” lanjut Rangwe.


“Benar. Kata-katamu sangat tidak pantas, Finn. Putri sudah seperti keluarga bagi kami. Menghinanya sama saja menghina kami,” timpal Bryen sungguh-sungguh.