The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Kegelapan



Raja Blakvon tertegun sejenak. Ia tidak menyangka kalau Arael akan seberani itu menentangnya. Tentu saja hal itu tidak membuatnya senang. Seorang manusia fana mencoba menginterupsi caranya melindungi Kristal. Meski begitu, sebagai kaum elf, sang raja tidak ingin amarahnya menguasai. Mereka punya cara aneh untuk menjaga martabatnya.


“Kalau kau merasa mampu bertanggung jawab atas kebebasan bangsa kami dan Kristal-kristal ini, maka buktikanlah. Aku tidak punya waktu untuk mendengar rengekan anak manusia,” kata sang Raja kemudian.


“Apa yang Baginda kehendaki saya lakukan untuk membuat Anda percaya?” tanya Arael kemudian.


Raja Blakvon mendengus puas karena Arael memakan umpannya. “Aku hanya akan mengakui orang yang mampu menguasai kegelapan. Barangsiapa bisa menguasai kegelapan jiwanya, ia tidak akan termakan oleh keserakahan, ketamakan akan kekuatan. Setelah kau bisa melampaui kegelapan, maka satu Kristal ini akan memilihmu. Saat itulah aku bisa mengakuimu,” ujar sang raja tampak puas.


Menguasai kegelapan adalah makna tersirat dari kemampuan pengendalian bayangan. Untuk bisa melakukannya, seorang elf saja harus berlatih selama bertahun-tahun. Mereka harus memasuki sebuah dimensi tanpa cahaya dimana jiwa dan raganya akan terjebak selama waktu yang tidak ditentukan. Setelah mengalami rasa takut dalam ketidakpastian, para elf yang berhasil akan membuka kunci jiwa mereka dan menerima Kristal sebagai bagian dari kekuatan mereka. Masa penantian tersebutlah yang merupakan siksaan. Neraka bagi setiap jiwa yang dipenuhi nafsu dan ketakutan.


“Putri, itu terlalu berbahaya,” bisik Bryen di sebelah Arael.


“Lebih baik kita berhenti membujuk kaum elf bayangan ini. Masih banyak suku lain yang mungkin bisa membantu,” kata Iolas menimpali.


Akan tetapi Arael bersikukuh. Gadis itu menatap tajam sang raja tanpa gentar.


“Saya akan melakukannya,” ucap Arael tegas.


***


Keputusan Arael menimbulkan perdebatan dengan Iolas dan Bryen. Kedua elf itu menolak dengan keras ide untuk menguasai kemampuan pengendali bayangan. Hal berbahaya itu terlalu beresiko untuk dilakukan.


“Putri, setelah memasuki dimensi kegelapan, tidak ada yang tahu kapan Anda bisa keluar lagi. Bahkan beberapa orang tidak pernah muncul lagi selamanya. Membutuhkan latihan yang tidak sebentar untuk menaklukkan dimensi tersebut,” bujuk Bryen mencoba mencegah Arael.


“Apa kau tidak berpikir berapa banyak waktu kita untuk membujuk satu suku ini saja? Kita masih bisa mendatangi yang lain kalau mereka tidak mau bekerja sama,” protes  Iolas tanpa henti.


“Kalau kita menyerah sekarang, tidak ada jaminan aku bisa melalui ujian dari bangsa elf yang lain, Iolas. Dan, Bryen, aku yakin bisa menaklukkan kegelapan itu, juga kegelapan dalam jiwaku. Aku sudah pernah dikurung selama lebih dari sepuluh tahun. Kalau aku harus terjebak di tempat yang kurang lebih sama, kurasa aku bisa melaluinya,” kata Arael kemudian.


Arael benar-benar tak terbantahkan. Apa pun yang dilakukan atau dikatakan Iolas dan Bryen sama sekali tidak mengubah pendiriannya. Mereka bertiga kini sudah berjalan menuju sebuah gerbang dimensi lain yang ada di pusat Dru-Tel-Quassir. Mordesh sendiri yang mengantar Arael menuju lokasi tersebut.


“Dengar, aku akan baik-baik saja. Tolong jangan terlalu khawatir. Tunggulah di sini tanpa menyebabkan keributan, Iolas. Dan Bryen, tolong awasi Iolas agar tidak melakukan hal-hal yang buruk,” ucap Arael setelah mereka sampai di tempat yang dimaksud.


Sebuah altar batu besar menyambut mereka. Di atasnya terdapat pusaran sihir berwana ungu gelap pusaran itu berputar melingkar secara perlahan dan sesekali berkilat-kilat kemerahan.


“Anda bisa naik ke atas altar dan masuk ke dalam,” kata Mordesh memotong ungkapan protes dari Iolas dan Bryen.


Arael mengangguk paham. Ia pun berbalik hendak menaiki undakan batu menuju atas altar.


“Tunggu sebentar,” kata Mordesh tiba-tiba. “Mungkin ini terdengar ironis, tapi saya berharap Anda berhasil. Kalau Anda memang merupakan keturunan Sion yang ada dalam ramalan para centaur, maka saya ingin percaya bahwa Anda benar-benar akan membawa perdamaian dan kebebasan. Anda benar, kaum kami terjebak di tempat ini tanpa bisa berinteraksi dengan dunia luar. Kami hidup dalam kegelapan dan kekosngan yang lambat laun menggerogoti jiwa kami.


Arael mendengarkan dengan seksama kata-kata Mordesh itu. Ia berusaha mengingatnya dengan baik sebelum akhirnya tersenyum samar.


“Terima kasih, Mordesh,” bisik Arael pelan.


Mordes membungkuk sopan, mempersilakan Arael melanjutkan langkahnya menuju altar batu. Iolas dan Bryen tidak bisa berhenti merasa cemas. Namun kedua elf itu hanya bisa menatap punggung Arael yang semakin lama semakin menjauh.


Arael pun tiba di hadapan pusaran sihir gerbang dimensi. Setelah dilihat dari dekat, pusaran itu ternyata begitu besar, menganga lebar seolah akan menelan bulat-bulat siapa pun yang mencoba masuk. Arael menarik napas panjang dengan perlahan. Ia kuatkan hatinya untuk yang terakhir kali, lalu melangkah masuk.


Hawa dingin menyapa Arael begitu tubuhnya melewati pusaran sihir tersebut. Kegelapan melingkupi dirinya hingga membuat Arael tidak bisa melihat apa pun selain warna hitam. Arael mencoba melangkah, tapi ia lantas menyadari bahwa kakinya tidak menjejak di mana pun. Tubuhnya telah melayang-layang di tengah kegelapan.


Tidak ada apa-apa di tempat itu. Dan Arael hanya tegak mematung tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Segalanya hening, gelap dan hampa. Selama beberapa waktu Arael hanya terdiam. Ia juga tidak berusaha melakukan apa pun. Itu adalah keahliannya tentu saja. Arael sudah punya pengalaman dipenjara di tempat yang lebih buruk dari itu. Selama sepuluh tahun!


Anehnya ia justru merasa damai berada dalam kehampaan itu. Semesta tanpa wujud itu entah mengapa membuat Arael begitu tenang. Sejak awal ia tidak pernah punya hasrat untuk sesuatu. Arael hanya hidup untuk hidup. Ada karena ada. Eksistensinya sama sekali tidak memiliki ego. Arael adalah orang yang seperti itu.


Ketenangan Arael itulah yang mungkin membuatnya lulus dari ujian pertama di dimensi gelap. Mendadak semesta itu mewujud secara perlahan. Arael yang sedari tadi terpejam, akhirnya membuka matanya dan mendapati diri tengah berdiri di sebuah lorong serba putih. Warna putih yang mencolok, seperti bercahaya samar-samar. Lorong itu tidak terlalu panjang, dan hanya memiliki dua sudut. Arael berdiri di satu sudut, sementara di ujung sana, sebuah sosok berjubah hitam berdiri dengan wajah tertutup.


“Apa yang akan kau lakukan terhadapku?” sebuah suara serak yang parau mendadak terdengar dari sosok berjubah tersebut.


“Aku mendoakanmu bahagia,” jawab Arael begitu saja, entah bagaimana mulutnya ingin mengatakan hal tersebut.


“Kebahagiaanku adalah saat aku bisa menelanmu, menenggelamkanmu dalam kehelapanku.” Sosok tersebut tiba-tiba melayang ke arah Arael sambil berkata demikian.


Arael mengikuti gerakan sosok berjubah itu yang kini sudah berada persis di depan mukanya. Sosok itu menyeringai. Arael tidak bisa menduga apakah ia seorang laki-laki atau perempuan. Wajah sosok itu hitam legam, seperti kegelapan malam yang pekat, siap memangsanya. Tidak ada mata atau hidung. Hanya sebuah seringai mengerikan yang jelas tampak jahat dan bengis.


Sepotong pemahaman mendadak muncul di benak Arael. Ia kini mengenali siapa sosok berjubah itu.


“Tidak,” kata Arael kemudian. “Kalau aku tenggelam dalam kegelapanmu, kau tidak akan bahagia. Aku menerimamu, menyayangimu sebagai bagian dari diriku. Karena itu berbahagialah dalam kedamaian,” ujar Arael kemudian.


Sosok itu lantas mundur, berpikir.


“Apa yang harus kulakukan?” tanya sosok itu.


“Jadilah pengingat untukku. Pertanda bahaya yang membantuku waspada dan lebih bijak. Namun tidak termakan ketakutan,” jawab Arael tanpa sedikit pun keraguan.


Dan begitulah akhirnya Arael berhasil menguasai bayangannya. Gadis itu seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi penguasa, sesuai dengan ramalan tentangnya.