The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Aril-Tel-Quassir



Kedatangan rombongan Arael disambut dengan tatapan sinis dari para elf bersayap. Mereka melihat Arael, Iolas dan Bryen dengan tajam, seolah mereka adalah tamu yang tak diundang. Beberapa saat kemudian, seorang elf bersayap empat datang menghampiri mereka.


“Salam, Manusia dan dua Efl tanah, apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian tersesat?”tanya elf cantik itu. Arael tidak bisa menerka apakah ia pria atau wanita. Semua elf di tempat itu tampak sama cantiknya, tanpa bisa dibedakan jenis kelaminnya.


Iolas tampak tidak suka. Ekspresinya menunjukkan rasa kesal yang tertahan. Sebutan elf tanah terdengar merendahkan bagi mereka. Pada dasarnya elf tidak berasal dari tanah ini, mereka muncul dari semesta yang berbeda. Hanya saja karena para elf bersayap tinggal di atas awan-awan, mereka selalu merasa diri lebih baik dari suku elf lainnya.


“Salam elf langit. Saya Arael, Keturunan Sion yang terakhir. Saya kemari untuk meminta bantuan kepada para elf bersayap yang agung,” jawab Arael mengabaikan ekspresi buruk Iolas dan Bryen yang nyaris terpancing emosi.


Sang elf bersayap itu mendengkus lantas tertawa. Ia melirik ke arah teman-temannya yang ada di sana dan mereka semua turut tertawa geli seolah kata-kata Arael adalah hal terkonyol yang pernah mereka dengar.


“Apa kalian bersusah payah mendaki puncak Aegor karena ingin meminta bantuan kami? Sangat menyentuh,” komentar elf bersayap itu dengan nada yang dibuat-buat, jelas terdengar mengejek.


“Tunggu, sepertinya aku mengenal namamu. Sion itu bukankah raja para manusia di masa lalu? Alau kau adalah keturunannya berarti kau adalah putri dalam ramalan itu?” celetuk seorang elf bersayap lain yang tengah duduk di atas tempat duduk dari batu yang berukiran cantik.


Arael menunduk sopan. “Benar. Sayalah anak dalam ramalan itu. Seperti yang sudah diduga, elf bersayap memang memiliki wawasan yang luas,” puji Arael kemudian.


Sang elf bersayap yang mengenali Arael itu pun tampak bangga. Ia mengangkat dagunya sambil tersenyum puas.


“Kalau begitu apa yang dilakukan Putri Sion ini dengan suku kami? Sebagai informasi, kami tidak tertarik dengan masalah di dunia bawah. Para manusia atau pun ras lainnya tidak ada hubungannya dengan kami. Kita tidak pernah saling mengusik satu sama lain, bukankah begitu?” sang elf bersayap empat kembali bertanya.


Arael tahu, cepat atau lambat kata-kata itu akan keluar. Seperti perkiraannya, mereka pasti tidak suka repot-repot membantu kaum lain yang menurut mereka tidak penting. Arael sudah memutar otak dan menyiapkan strategi untuk menghadapi hal tersebut tentu saja.


“Jika berkenan, saya kemari untuk mengajukan duel dengan petarung terkuat suku elf bersayap. Anda adalah suku yang terkenal kuat. Kemampuan anda dalam pertarungan terbuka sudah tersohor sejak dulu kala. Karena itu saya ingin mendapat kehormatan untuk menghadapi petarung terkuat suku elf bersayap,” kata Arael kemudian, mulai melancarkan strateginya.


Para elf bersayap itu tampak tertegun sejenak. Beberapa detik kemudian ledakan tawa terdengar dari mereka semua, seolah mendapat aba-aba untuk tertawa secara serempak.


“Sekalipun kau adalah putri dalam ramalan, apakah kau tidak bisa mengukur kemampuanmu sendiri? Atau kau ingin menjadikan duel dengan kami untuk mengetahui batas kekuatanmu?” ledek elf bersayap empat tersebut.


“Kenapa kami harus membuang waktu untuk berduel denganmu?” timpal yang lainnya turut tertawa.


“Benar-benar makhluk tidak tahu diri,” seru yang lainnya tak kalah menusuk.


Iolas sudah nyaris kehilangan kendali karena ejekan-ejekan itu. Namun Arael menahan pemuda elf itu agar tidak bereaksi. Bryen di sisi lain, tetap berusaha tenang walaupun raut wajahnya sudah sangat buruk. Meski begitu Bryen tampaknya memilih untuk mempercayai apa pun rencana Arael.


“Saya percaya kemampuan kalian dalam mendapatkan informasi juga sangat cepat dan akurat. Karena itu, bila petarung suku elf bersayap yang terkemuka merasa bisa menang melawan saya, maka saya tidak akan mengganggu kalian lagi. Tapi jika saya bisa menang, mohon penuhi permintaan saya,” tantang Arael penuh percaya diri.


Sang elf bersayap empat yang berdiri dihadapannya hanya mendengkus singkat sembari melipat tangan. “Dari mana kepercayaan dirimu itu berasal? Terakhir kali kau nyaris mati karena racun suku bayangan. Kami tidak akan terperdaya pada muslihatmu. Suku lain mungkin bisa kau bujuk. Tapi kami tidak suka melakukan hal-hal yang merepotkan. Jadi sekarang pergilah. Kalian tidak diterima di sini,” ucapnya angkuh.


“Kalau begitu, saya ingin membuktikannya. Bukankah rumor tentang kehebatan kalian sudah terlalu lama berselang. Kekuatan itu bisa menumpul karena waktu. Karena itu, manusia fana seperti saya bisa merasa penasaran untuk mencoba membuktikan rumor tersebut,” kata Arael memprovokasi.


Wajah sang elf bersayap itu mengeras. Senyuman lenyap dari bibirnya, digantikan ekspresi sinis yang mengintimidasi. Para elf bersayap lainnya juga telah berubah menjadi tegang. Tampaknya provokasi Arael berjalan dengan semestinya.


“Apa kau bilang?” geram elf bersayap tersebut jelas tampak terganggu.


“Lakukanlah duel dengan saya. Cukup satu kali, dan kita bisa mulai pertaruhannya. Apakah rumor itu benar atau tidak,” ucap Arael tersenyum simpul.


“Biarkan dia melakukannya.” Seorang elf bersayap yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan itu dalam diam mendadak menyeruak muncul. Elf itu luar biasa cantik, bahkan melebihi kecantikan yang lainnya. Wajah, tubuh dan sayapnya berwarna putih bersih dan sekilas tampak bercahaya keperakan. Elf  itu memiliki enam sayap yang megah dan besar. Di atas kepalanya tersemat sebuah mahkota keperakan bertatahkan batu mulia.


“Yang Mulia Esthaenie,” ucap elf yang ada di hadapan Arael itu seraya menunduk hormat. Gerakan tersebut diikuti para elf yang lain. Tampaknya beliau adalah ratu yang memimpin kerajaan elf ini.


“Namamu, Arael, wahai Putri Sion. Selamat datang di kerajaan kami, Aril-Tel-Quassir. Sudah lama sejak manusia datang kemari. Usahamu patut dihargai. Seperti yang sudah kau ketahui, kami tidak pernah senang berurusan dengan dunia di bawah. Meski begitu, karena kau sudah sampai di sini, maka akan kubiarkan kau menunjukkan kemampuanmu. Icaris adalah tangan kananku. Dia petarung terkuat setelahku. Dia mungkin bukan lawan yang sepadan untukmu, tapi karena kepercayaan dirimu itu, kurasa Icaris tidak akan merasa bosan. Karena itu, silakan lakukan sesuai yang kau mau. Jika kau kalah, maka kalian harus pergi dari sini. Tetapi kalau kau bisa bertahan selama satu hari penuh melawan Icaris, maka aku akan mengabulkan permintaanmu,” kata Ratu Esthaenie kemudian.


Arael tersenyum tipis, lalu menunduk hormat. “Sebuah kehormatan bagi saya, Yang Mulia,” ujarnya kemudian.


Dengung panjang terdengar di sekitar. Para elf bersayap yang ada di tempat itu saling berbisik membicarakan kenekatan Arael melawan jenderal perang Ratu mereka, Icaris yang legendaris. Icaris juga memiliki enam sayap. Tubuhnya lebih tinggi dibanding elf lainnya dan memiliki rambut pendek yang dipangkas rapi. Armor perak menutupi seluruh tubuhnya yang terlihat gagah perkasa. Meski begitu, tampilan Icaris tersebut justru membuat Arael lebih mudah mengidentifikasi jenis kelaminnya. Icaris adalah seorang elf perempuan. Armor besinya menonjolkan bagian dada yang jelas terlihat seperti tubuh seorang wanita.


“Ikut aku,” kata Icaris dengan suara tegas.