
Arael sontak menghindar dari serangan Iolas. Bryen dengan sigap menahan serangan Iolas dengan lengannya. Belati Iolas melukai lengan Bryen, tetapi pemuda elf itu tidak juga berhenti. Iolas melancarkan serangan selanjutnya yang dihalau Bryen dengan sebuah tendangan yang mengenai rusuk Iolas.
“Iolas! Sadarlah! Kenapa kau menyerang kami?” seru Bryen melangkah mundur untuk melindungi Arael.
Kondisi Arael tidak terlalu bagus. Ia masih sedikit lemas karena kehilangan banyak darah. Meski begitu gadis tersebut tetap menyambar Attila dari tanah dan menghunuskannya.
“Mundurlah, Bryen. Kau bukan elf petarung,” kata Arael dengan suara rendah.
“Tapi Putri, tubuh Anda masih lemah. Iolas bukan lawan yang mudah,” kata Bryen cemas.
“Jangan khawatir, Bryen. Aku sudah melawan Iolas berkali-kali. Tanpa busurnya, Iolas sama sekali bukan lawanku. Biarpun tubuhku belum pulih sepenuhnya, tapi aku masih bisa menanganinya. Lagipula kondisi Iolas juga tidak terlalu baik. Amati Iolas dari sini Bryen. Cari tahu masalahnya,” perintah Arael kemudian.
Belum sempat Bryen menjawab, Iolas sudah kembali menerjang ke arah Arael. Arael bersiap dengan Attila untuk menahan serangan Iolas. Keduanya lantas berkelahi selama beberapa waktu. Arael mengamati bahwa ada yang ganjil dari Iolas. Pemuda itu sama sekali tidak menjawab saat diajak berbicara. Sorot matanya juga kosong dan hanya terus menatap ke arah Arael.
Selama beberapa menit mengalau serangan Iolas, Arael mulai kehabisan tenaga. Ia tidak berniat melukai Iolas karena secara akal sehat, pemuda elf itu tidak mungkin menyerangnya begitu saja tanpa sebab. Terlebih baru beberapa saat yang lalu Iolas begitu mengkhawatirkannya.
“Bryen, apa kau menemukan sesuatu?” seru Arael yang hampir mencapai batasnya.
Akan tetapi Bryen tidak menjawab. Arael melihat sekilas ke sekeliling dan Bryen tidak ada di mana-mana. Keadaan Arael semakin terdesak. Iolas nyaris berhasil melukai Arael ketika mendadak gerakannya terhenti. Iolas terdiam selama beberapa detik, lalu jatuh berlutut di atas tanah dengan lemas. Arael masih sedikit waspada. Namun melihat Iolas yang terengah-engah dan mencoba kembali menguasai diri membuat Arael kembali menyarungkan pedangnya. Gadis itu lantas berlutut di hadapan Iolas dan memeriksa keadaannya.
“Iolas, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya Arael cemas.
Iolas mendongak dengan ekspresi kelelahan. “Maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tubuhku bergerak sendiri untuk terus menyerangmu, seolah ada yang mengendalikanku,” kata Iolas masih setengah tersengal. Pemuda elf itu sepertinya juga mengalami waktu yang sulit untuk melawan tubuhnya yang bergerak di luar kendali.
“Putri, saya menangkap orang yang membuat Iolas menyerang Anda.” Tiba-tiba Bryen muncul dengan gelembung air raksasa berisi sesosok pria berpenampilan unik.
Arael dan Iolas bangkit berdiri lantas mendekat ke arah Bryen. Sosok itu menggeliat-geliat di dalam gelembung air Bryen. Jelas ia kehabisan udara karena tenggelam dalam kekuatan pengendalian air Bryen. Arael mengamatinya sejenak. Dari telinganya yang runcing, bisa dipastikan sosok itu adalah seorang elf. Namun elf itu memiliki kulit yang gelap sedikit berwarna biru tua. Kedua matanya tidak memiliki pupil dan hanya berwarna hitam legam. Pakaian elf tersebut juga serba hitam dengan sudut-sudut runcing menyerupai bilah pisau.
“Dia seorang elf,” komentar Arael kemudian.
“Elf bayangan lebih tepatnya. Saya menemukannya bersembunyi di balik kegelapan dan mengendalikan Iolas dengan kemampuannya,” terang Bryen kemudian.
“Beruntung dia memilih untuk mengendalikan Iolas. Aku bisa menangani serangan jarak dekat Iolas, tapi aku tidak yakin bisa melawanmu dengan gelembung air sebesar ini,” kata Arael kemudian.
“Pengendalian bayangan tidak bisa membuat orang yang dia kendalikan menggunakan kemampuan sihir, Putri. Mereka hanya membuat korbanya melakukan kegiatan atau serangan sederhana,” lanjut Bryen menjelaskan.
“Baiklah. Aku mengerti. Sekarang sebaiknya kau lepaskan dulu elf ini. Kita harus bicara padanya dalam keadaan hidup,” pinta Arael.
Bryen pun patuh dan melepaskan elf itu hingga jatuh ke tanah dan tersengal kehabisan napas. Iolas lekas meringkus elf tersebut agar tidak berulah lagi. Dengan sigap Iolas memitingnya dan membuat efl bayangan itu terhimpit di bawah lutut Iolas dengan kedua tangan di belakang punggung.
“Kenapa kau menyerang kami?” tanya Arael sembari menunduk mendekatkan wajahnya pada sang elf bayangan.
Elf itu tidak menjawab dan hanya menatap Arael dengan sinis.
“Apa kau berpikir kami adalah penyusup? Aku datang bersama dua orang elf dari suku lain. Bukankah itu artinya aku tidak berniat mengusik kalian?” Arael kembali bertanya.
“Luca,” panggil Arael kemudian.
Serigala putihnya muncul dari udara kosong di sebelah Arael. Luca lantas mengusapkan kepalanya ke wajah Arael dengan penuh kasih sayang. Arael mengelusnya sejenak untuk menyambut kedatangan Luca.
“Luca, tolong telusuri jejak elf ini dan cari pintu masuk menuju tempat tinggalnya,” perintah Arael kemudian.
Sang elf bayangan segera meronta begitu mengerti rencana Arael. Ia berusaha membebaskan diri agar Arael tidak menyuruh serigalanya mencari jejak gerbang ke kerajaan elf bayangan.
“Apa ada yang mau kau katakana sebelum serigalaku menemukan tempat persembunyian kalian?” tanya Arael sekali lagi.
“Kalian tidak akan selamat kalau masuk tanpa izin. Aku adalah pengintai. Aku sudah melaporkan tentang kalian yang berusaha menyusup sejak pagi tadi,” sergah elf bayangan itu dengan suara sedikit tercekat. Iolas menekan tubuhnya sedemikian rupa hingga ia tidak bisa berbicara dengan benar.
“Kami membawa pesan dari Raja Zidalor. Apa kau tidak melihat spirit salju ini. Luca adalah pemberian beliau sebagai tanda bahwa kami adalah utusan dari penguasa Blarani,” gertak Arael mendesak negosiasi sepihak itu.
Sang elf bayangan mengamati Luca dengan seksama, lantas menyadari bahwa kata-kata Arael memang benar. Elf tersebut lantas tertunduk malu dan meminta maaf.
“Maafkan ketidaksopanan saya, wahai utusan Blarani. Saya akan mengantar Anda untuk bertemu dengan Raja kami,” ucap elf bayangan tersebut.
Arael mengangguk pada Iolas, menyuruh pemuda elf itu melepaskan pitingannya. Iolas tampak ragu, namun kemudian menuruti perintah Arael.
“Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja. Kemampuanmu sangat berbahaya dan baru-baru ini kau membuatku nyaris terbunuh di tangan rekanku sendiri. Karena itu aku harap kau tidak keberatan kalau Bryen mengikat kedua tanganmu dengan gelembung air,” kata Arael kemudian.
Bryen segera bersiap untuk melakukan sesuai keinginan Arael. Sang elf bayangan segera mengangkat kedua tangannya bersedia untuk diikat.
“Saya tidak masalah. Tapi sebagai informasi, saya bisa mengendalikan bayangan dengan seluruh tubuh saya, tidak hanya tangan,” ujar elf berkulit gelap itu.
“Jadi apa yang harus kulakukan padamu?” tanya Arael kemudian.
“Sebagai gantinya, saya akan memberi tahu nama bayangan saya untuk mematahkan kekuatannya,” ucap elf itu.
“Nama bayangan?” Arael kembali bertanya.
“Itu adalah nama rahasia bayangan para elf. Mereka mendapatkan kemampuan itu saat berlatih mengendalikan bayangan mereka. Dengan cara itu mereka bisa memerintah sisi gelap mereka. Mengetahui nama bayangan seorang elf sama saja dengan membuat mereka tidak berdaya,” terang Iolas.
Arael menimbang-nimbang keputusannya sejenak. “Apa kau mempercayai kami begitu saja sampai berniat memberikan nyawamu seperti itu?”
“Bila Anda adalah utusan Blarani, meski anda bukan kaum elf, saya akan mempercayai Anda. Terutama jika Anda membawa sendiri spirit salju milik Yang Mulia Raja Zidalor,” jawab sang elf bayangan itu.
“Kau tidak perlu melakukannya. Cukup beri tahu namamu saja,” tandas Arael kemudian.
Iolas dan bahkan Bryen tampak hendak memprotes. Tapi Arael tidak mengubah keputusannya. Dia datang bersama dua elf kuat. Sementara elf bayangan ini hanya sendirian. Ia mungkin hanya bisa mengendalikan salah satu di antara mereka bertiga. Secara jumlah Arael sudah unggul.
“Terima kasih atas pengertian Anda. Anda bisa memanggil saya Mordesh,” kata elf bayangan itu. “Saya akan mengantar anda ke kerajaan kami,” lanjutnya sopan.