
Ramalan itu terdengar menggelisahkan. Arael mengerti kini, kenapa para elf tampak muram setelah mendengar ramalan terakhir tersebut. Dua belas jiwa elf akan menjadi bayaran untuk perjuangannya. Kenapa harus para elf? Bukankah urusan ini adalah ranah para manusia?
Arael menjadi ragu akan perjalanan tersebut. Ia tidak ingin membuat siapa pun terluka, yang mana sebenarnya mustahil, mengingat peperangan pasti memakan banyak korban jiwa. Namun ramalan itu sepertinya jauh lebih berbahaya dari sekedar kematian. Ia merenungi makna tentang jiwa dua belas elf yang akan terikat dengan tanah ini.
“Apa artinya jika jiwa seseorang terikat dengan tanah ini?” tanya Arael.
“Itu artinya kita tidak bisa pergi ke tempat cahaya setelah meninggal. Jiwa kita akan terus berada di sini, lahir kembali menjadi sosok yang berbeda-beda. Hingga waktu yang tidak terbatas,” terang Rangwe, satu-satunya yang tidak terlihat resah.
“Aku … tidak ingin membiarkan hal semacam itu terjadi,” desah Arael masih terpukul.
“Ada hal-hal yang bisa kita cegah, ada pula yang tidak, Putri. Hidup setiap makhluk tidak semata-mata ditentukan oleh takdir yang kosong. Kita semua sudah setuju menjalani tanggung jawab tersebut sebelum turun ke dunia. Jadi kau tidak perlu khawatir. Siapa pun kandidat dua belas elf itu, yang akan menjadi pelindung tanah ini, pasti sudah setuju untuk melakukannya. Jauh sebelum jiwanya dilahirkan,” ujar Rangwe bijaksana. Elf liar itu lantas membuka keranjang buah yang mereka bawa, lalu mencomot salah satu apel merah yang terlihat lezat.
“Kata-kata Rangwe benar, Putri. Sejak dulu bangsa elf selalu hidup dengan memisahkan diri dari ras lainnya. Kami tidak suka ikut campur pada urusan para manusia. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, kita hidup di tanah yang sama. Bahkan sebenarnya, tanah ini adalah sumber penghidupan manusia, sementara kami berasal dari cahaya yang ada di dimensi berbeda. Tidak selamanya bangsa elf bisa menutup mata, terlebih jika kaum manusia tanpa sengaja membawa kegelapan di tanah ini.” Bryen turut menenangkan Arael.
Arael masih merenung. Lagi-lagi dirinya membuat semua orang yang membantunya harus berada dalam bahaya. Mendadak Arael merasa lemah. Sejujurnya ia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain. Jadi sebenarnya apa guna perjuangannya selama ini?
“Jangan terlalu dipikirkan. Kau sudah melakukan bagianmu dengan baik, Arael. Setiap orang punya bagiannya masing-masing. Tanpa keberadaanmu, mungkin kedua belas suku elf tidak akan bisa disatukan lagi. Kau juga sudah membuktikan kualitasmu sebagai pemimpin bangsa manusia di masa depan. Jangan meragukan dirimu. Perjalanan ini masih panjang, dan ada banyak hal yang harus kau lakukan setelah ini.” Iolas tersenyum sembari menggenggam jemari Arael.
Ini kali pertama Iolas memanggil nama Arael setelah sekian lama. Dan berkat itu, Arael menjadi lebih tenang. Sepercik harapan seperti dikobarkan kembali di hatinya.
Perjalanan mereka pun berlanjut. Suasana tidak lagi semuram sebelumnya. Rangwe menceritakan banyak hal mengenai kehidupan mereka bersama elf bintang. Iolas dan Bryen juga tampak lebih rileks sekaran. Mereka bertiga bercengkerama dengan akrab seperti teman lama yang baru bertemu.
Arael memperhatikan perjalanan mereka. Langit begitu cerah hari itu. Awan-awan tersibak setiap kali Kaladrius melewatinya. Ia menengadah ke atas, melihat matahari yang begitu terik, tapi tidak membuatnya terbakar. Arael meresapi seluruh sensasi alam yang dia rasakan. Angin yang menerpa wajahnya membuat gadis itu merasa bebas. Ya. Kebebasan. Hanya itu yang didambakan Arael. Hal itu pula yang tengah dia perjuangkan bagi seluruh makhluk di Luteria. Kehidupan penuh harmoni tanpa menimbulkan penderitaan.
Arael merasa bahwa pemikiran tersebut lahir karena pengalamannya yang terkurung di dalam penjara selama bertahun-tahun. Ia memikirkan cara untuk mengalahkan Charles dan seluruh anteknya dari kegelapan. Para orge bisa dikalahkan dengan mudah oleh kaum elf, tentu saja. Tetapi Charles punya banyak kaki tangan penyihir gelap yang tidak segan-segan membunuh orang yang tidak bersalah. Mereka cukup kuat hingga mampu mengimbangi kemampuan para elf. Sihir gelap pada dasarnya merupakan lawan dari elemen cahaya yang dimiliki para elf.
“Apa kita akan segera sampai? Dari peta sihir ini, seharusnya lokasi elf matahari dan bulan ada di padang gurun itu,” ujar Iolas memecah lamunan Arael.
“Daripada dikatakan begitu, lebih tepat kalau mereka mendiami oasis secara bergantian. Elf matahari muncul saat siang, sementara elf bulan terbangun setiap malam purnama di gurun. Mereka tinggal di dekat perkemahan manusia. Karena itu kita harus berhati-hati saat memasuki oasis,” terang Rangwe sambil menatap padang gurun luas di kejauhan.
Arael mengamati hamparan pasir itu. Seluruhnya berwarna emas kecoklatan. Angin gurun membawa butiran pasir hingga membuat gundukan-gundukannya berubah dari waktu ke waktu. Ini pertama kalinya Arael melihat gurun. Ia mengagumi dataran luas tersebut hanya dipenuhi oleh pasir tanpa hutan yang lebat. Bagaimana orang bisa hidup di tempat yang keras seperti itu?
Kaladrius membumbung tinggi menghindari sapuan angin gurun. Ia berputar-putar sejenak hingga menemukan sebuah perkemahan manusia di tengah gurun, tepatnya di dekat sebuah oasis besar. Perkemahan itu terlihat ramai. Pohon palem dan kurma tumbuh subur di area tersebut, seolah tidak mempedulikan kenyataan bahwa di sekitarnya hanya ada padang pasir.
Barisan orge berjaga di pintu masuk perkemahan. Ada juga yang berlalu lalang tanpa arah di sekitar gurun. Sepertinya mereka sedang berburu ular gurun atau burung elang yang sesekali terbang berkaok. Arael segera merasakan tanda bahaya. Tempat ini tidak aman untuk pendaratan mereka.
“Bagaimana kita melewati itu?” tanya Iolas menunjuk para orge yang berkeliaran di sekitar gurun.
Bryen juga tampak ragu. Daerah tersebut jelas jauh dari perairan. Arael menduga elf air tersebut mungkin gelisah jika berada di tempat yang kering. Botol air minum tempat ia menyimpan senjata airnya juga hanya mampu menampung sedikit saja.
Rangwe di sisi lain, mendengkus pelan. “Kita tinggal membasmi mereka saja, kan,” ujarnya ringan.
“Tidakkah itu akan memancing perhatian orang-orang? Penguasa oasis itu sudah pasti kaki tangan Charles. Dia mungkin juga penyihir hitam,” komentar Arael waspada.
“Justru karena itu kau bisa berlatih untuk melawan penyihir hitam, Putri. Bukankah itu kesempatan bagus untuk mengasah kemampuanmu?” sahut Rangwe terkekeh.
Sifat Rangwe tercermin dari caranya menghadapi situasi. Elf liar itu selalu santai dalam kondisi seperti apa pun. Mungkin karena ia percaya pada kemampuannya. Semangat Rangwe itu pun menular pada Arael.
“Kau benar, Rangwe,” ujarnya tersenyum simpul.
“Kalau begitu ayo kita bebaskan oasis itu dari tangan para orge,” desis Rangwe dengan seringai buas. Baru kali ini Arael menyaksikan seorang elf bisa terlihat begitu bengis. Namun hal itu justru semakin membuat Arael bersemangat.