
Urusan dengan para elf bulan ternyata selesai lebih cepat dari yang diduga. Meski mereka tampak dingin dan tidak bersahabat, tetapi nyatanya para elf bulan ini justru merupakan ahli memberi solusi dan strategi perang.
Setelah menerima restu dari Ratu Valaera, beberapa elf bulan berkumpul di bawah komando Elaith. Dari sekian banyak suku elf, hanya elf bulan dan mataharilah yang bisa mengatur strategi perang. Mungkin karena tempat tinggal mereka di gurun yang keras sehingga peperangan memang tidak terhindarkan.
Pada masa sebelum ini, kerajaan elf bulan dan matahari ini kabarnya sering mendapat serangan dari makhluk sihir lain seperti goblin, orc, bahkan naga. Karena itu mereka bisa memimpin pasukan untuk menyerbu dan meleburkan kerajaan lawan.
Eliath menjelaskan bahwa elf bulan ahli dalam pertempuran gerilya yang diam-diam menginvasi kerajaan musuh. Sementara elf matahari selalu membawa kemenangan di pertempuran terbuka. Sayangnya kedua suku tersebut tidak bisa bertemu secara langsung karena mereka punya jangka waktu masing-masing untuk berada di dunia.
Maka dari itu, setelah merumuskan banyak strategi menyerang kerajaan Luteria yang dipenuhi penyihir dan orge, Elaith dan elf-elf bulan lainnya pun membiarkan Arael dan rombongannya beristirahat. Mereka hanya punya waktu beberapa jam lagi sebelum matahari terbit dan memunculkan suku Ar-Tel-Quassir.
Arael rasanya baru terlelam selama beberapa menit ketika Enna dan Valna sudah datang dan membangunkannya. Mereka berdua hendak membawa Arael pada pimpinan suku elf matahari, Raja Varis. Gadis itu hanya memiliki waktu sepuluh menit untuk bersiap-siap. Ia bahkan melewatkan sarapan dan langsung digiring menuju piramida yang sama, tempat ia menemui Putri Valaera semalam.
“Salam Yang Mulia Raja Varis,” sapa Arael sembari membungkukkan badan.
Sang Raja terlihat masih muda dengan rambut merah bergelombang. Kedua bola matanya berwarna emas dan kulitnya berkilau bak perunggu. Raja itu tertawa terbahak-bahak dan memiliki wajah ceria yang sedikit kekanakan.
“Putri Sion. Aku sudah mendengar tentang kedatanganmu. Valaera juga menyambutmu rupanya. Kudengar kalian bahkan sudah membahas tentang strategi perang. Prajurit elf bulan juga sudah dikirim ke seluruh wilayah manusia. Mungkin mereka akan menemui suku-suku elf lain dalam perjalanannya,” ujar sang raja informatif.
Kabar tentang pengiriman prajurit elf bulan bahkan belum sampai ke telinga Arael. Entah bagaimana cara dua suku itu berkomunikasi mengingat mereka tidak pernah bertemu secara fisik di dunia.
“Baiklah. Tanpa perlu banyak bicara. Kaumku tentu saja akan mendukungmu sesuai dengan ramalan yang tertulis. Seperti yang sudah kau dengar, Ar-Tel-Quassir unggul dalam pertarungan terbuka. Kami menguasai medan pertempuran dan kerena itu panglimaku akan turun bersamamu dalam peperangan melawan pasukan penyihir hitam dan para orge. Enna … .” Sang Raja melanjutkan pembicaraannya sembari memanggil salah satu dari elf kembar.
Enna maju mendekat lalu menyerahkan sebuah gulungan perkamen besar yang sedari tadi dia bawa. Sang raja membuka perkamen tersebut di atas sebuah meja batu yang sekonyong-konyong mucul di puncak piramida. Rupanya perkamen tersebut adalah sebuah peta benua Luteria, lengkap dengan seluruh titik wilayah kekuasaan Charles saat ini.
“Sisanya ada delapan titik vital yang masing-masing dikuasai oleh penyihir gelap. Salah satunya sudah mati dibakar di gurun ini. Artinya tinggal tujuh wilayah lain yang juga harus diserang. Aku akan membagi seluruh pasukanku secara merata pada tujuh titik itu untuk menyerbu sesuai dengan komandomu.
“Elf bintang tentunya memberimu alat komunikasi? Gunakan itu untuk memberi perintah pada seluruh suku elf agar dapat menyerang secara bersamaan dan menghancurkan semua orge serta para penyihir gelap itu. Dengan begitu kerajaan akan lumpuh seketika,” terang sang raja berapi-api.
Arael sedikit terbengong-bengong dengan kecepatan penjelasan Raja Vamir dan mencoba mencernanya satu persatu. Semua terlihat mudah bagi sang raja, tetapi cukup membingungkan bagi Arael yang tidak memiliki pengalaman bertempur. Lebih dari itu, ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan alat komunikasi yang diberikan oleh elf bintang?
“Alat komunikasi?” Pada akhirnya hanya dua kata itu yang terceletuk oleh Arael.
“Maksud sang raja adalah peta bintang. Peta itu dapat mengirim pesan pada seluruh suku elf,” terang Iolas yang ternyata sudah berdiri di belakang Arael.
Gadis itu pun segera mengeluarkan benda yang dimaksud dari kantong bajunya. Peta bintang itu nyaris terlupakan oleh Arael. Ia tidak pernah tahu bagaimana cara menggunakannya.
“Nah, benar. benda ini. Apa kau melihat titik-titik yang membentuk konstelasi di peta ini? Pada malam yang tepat saat kedua belas konstelasi muncul di langit, kau bisa mengirimkan pesanmu secara serentak pada semua suku elf. Kalau kita hitung dari waktu saat ini, maka waktumu kurang dari dua bulan lagi sampai hari itu datang. Kau harus berhasil mengumpulkan seluruh suku elf sebelum hari tersebut atau waktumu harus mundur satu tahun yang akan datang. Yang mana artinya kau bisa mengacaukan seluruh ramalan,” ujar sang raja.
“Tapi bagaimana saya harus menggunakan peta bintang ini?” tanya Arael polos.
“Saat waktunya tiba nanti, teman-teman elfmu akan membantu,” tutup sang raja. “Sekarang, tugasmu adalah menemukan suku elf yang tersisa. Setelah itu kembalilah ke Or-Tel-Quassir. Di sana, aku akan menyiapkan segalanya untukmu.”
Dan begitulah pertemuan Arael dengan raja elf matahari pun berakhir. Enna dan Vanya mengantar kembali rombongan Arael ke tempat mereka datang. Mereka berdua meminta Arael tinggal lebih lama. Namun gadis itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari dua suku elf yang tersisa. Setelah berpamitan secara singkat, Arael pun kembali memanggil Kaladrius dan berpisah dengan para elf matahari.