The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Danau Bintang



“Ah, Anda juga datang, Putri. Silakan menikmati pesta,” ujar Rangwe mempersilakan.


“Sebenarnya, kami berniat untuk pergi ke sungai. Ratu Amarië meminta kami untuk bertemu malam ini,” ujar Arael jujur.


Rangwe mengangguk-angguk setuju. “Tentu saja Anda harus bertemu dengan beliau. Para elf bintang itu terlalu lembut untuk memahami arti perang suci. Anda harus meyakinkan sang ratu.”


“Tentu saja,” jawab Arael yakin.


“Kalau begitu Anda bisa menuju arah utara desa ini. di sana ada Danau Bintang. Anda bisa berendam juga di sana. Phyrra! Bantu Putri Sion untuk membasuh diri,” perintah Rangwe pada seorang elf perempuan yang wajahnya dihiasi tiga corak goresan warna biru.


Sang elf perempuan pun berjalan mendekat lalu mengangguk singkat pada Arael.


“Silakan lewat sini,” ujar Phyrra dengan suara lembut.


Iolas dan Bryen tidak pergi bersama Arael. Rangwe mengundang mereka secara pribadi untuk ikut berpesta di dekat api unggun. Arael membiarkan kedua rekannya tersebut menikmati waktu mereka bersama kaum elf. Mereka mungkin merindukan kampung halaman juga. Biar bagaimana pun, kaum elf biasanya punya tradisi sendiri yang tidak dipahami oleh Arael. Mereka berpesta dengan musik dan nyanyian, buah-buahan serta anggur. Mereka berpesta tapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Para elf akan membicarakan hal-hal yang hanya mereka ketahui sendiri, dengan bahasa mereka sendiri. Karena itu sebaiknya Arael menyingkir dan membiarkan kedua rekan elfnya bernostalgia.


Danau bintang ternyata merupakan muara dari sungai yang membelah hutan. Danau tersebut tidak terlalu besar, dan tidak terlalu dalam juga. Phyrra menawarkan diri untuk membantu Arael mandi, tetapi ia menolak karena tidak terbiasa dengan pelayanan semacam itu. Akhirnya sang elf liar itu pun hanya duduk menunggu di atas sebuah batu besar di pinggir danau.


Arael, di samping itu, mulai memasukkan jemari kakinya ke atas permukaan danau yang tenang tersebut. Airnya sangat dingin, tapi menyegarkan. Permukaan danau memantulkan pemandangan langit yang dihiasi bintang-bintang. Arael akhirnya berhasil melawan rasa dingin yang melingkupi tubuhnya lantas membenamkan diri ke dalam air danau.


Lima belas menit kemudian, Arael keluar dari dalam air. Ia sudah selesai membasuh diri. Ia lantas menggunakan jubah bintang yang dia bawa dari pondok lalu kembali menemui Phyrra yang menunggunya tanpa banyak bicara.


“Rambut Anda masih basah. Elf air mungkin bisa membantu mengeringkannya,” ujar Phyrra berkomentar.


Arael melihat rambut hitamnya yang sudah mulai memanjang. Air menetes-netes dari ujung rambutnya dan membasahi jubah bintang yang dia kenakan. Rasanya sudah lama sekali sejak Ylyndar memotong rambutnya. Waktu ternyata sangat cepat berlalu.


“Kau langsung bisa mengenali Bryen sebagai elf air,” balas Arael sambil berjalan di sisi Phyrra menuju desa.


“Setiap suku memiliki ciri masing-masing. Elf air punya telinga yang lebih runcing. Berada di dekat mereka juga terasa lebih lembab karena energi sihir airnya,” tandas Phyrra.


Arael tidak pernah memperhatikan kedua ciri tersebut pada Bryen. Namun setelah diingat-ingat, telinga Bryen memang lebih runcing dari milik Iolas, sekalipun secara garis besar penampilan mereka sedikit mirip.


“Rangwe mungkin juga akan meninggalkan desa dan pergi bersama Anda. Dia akan menuntun Anda menemui elf bulan dan elf matahari. Mereka berdua tinggal bersama tapi di waktu yang berbeda.” Phyrra terlihat sedikit muram.


“Apa itu juga ada di dalam ramalan? Tentang Rangwe yang harus pergi bersamaku?”


Phyrra melambatkan langkahnya. “Akhir dari perjalanan Anda mungkin tidak akan sepenuhnya bahagia. Kedamaian membutuhkan pengorbanan.”


Arael tidak bisa menerka maksud kata-kata Phyrra. Meski begitu ia tidak bertanya lagi karena sepertinya Phyrra tidak ingin membahas hal tersebut lebih lanjut.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan api unggun. Iolas dan Bryen tampak sedang menikmati pesta dan mengobrol dengan Rangwe dan beberapa elf liar lainnya dengan bahasa elf. Para centaur membaur bersama mereka seolah kedua ras itu sudah berteman lama. Saat Iolas dan Bryen melihat Arael datang, mereka pun segera menyongsong gadis itu.


“Terima kasih sudah mengizinkan saya membasuh diri di Danau Bintang. Tapi kami tidak bisa berlama-lama di sini karena Ratu Amarië mungkin sedang menunggu saya,” ujar Arael pada Rangwe.


“Tidak apa-apa, Putri. Anda bisa datang lagi lain kali. Saya akan menunggu Anda di sini. Meski pun mungkin saat itu pestanya sudah usai,” sahut Rangwe tersenyum lebar.


Setelah berpamitan sekadarnya, Arael, Iolas dan Bryen pun kembali menyusuri setapak yang tadi mereka lewati, lalu naik ke rumah pohon di atas. Iolas membopong Arael seperti sebelumnya. Namun wajahnya tampak muram. Bryen pun terlihat sama muramnya. Padahal mereka berdua baru saja berpesta. Mungkin mereka merindukan kampung halaman. Hanya itu yang terbersit di pikiran Arael.


Lagu yang terdengar malam itu sangat sendu, seolah tengah mengantarkan kepergian seseorang yang tidak akan kembali lagi. Musik dengan lirik yang sedih itu dilantunkan dalam bahasa elf. Arael tidak mengerti maknanya, tetapi dapat ikut merasakan kepedihan dari musik tersebut.


Ir i anor shines, Purnsie Zion i prophecui will gwann-.


Rad- sídh with i rasad tribes -o galadrim oh phel hon.


Galad will rinn- na i fuin, but golodh plural gelydh erquires arcifice.


Rasad galadrim were arcificed. Hon faer na- naud na hi dór.


N- a protector until i meth -o anand. Ir i purnsie oh ilebarated i fuin,


will darth- in i near -o galad.


Syair itu terus didendangkan para elf. Arael tidak mengerti artinya. Tapi entah mengapa ia merasa itu adalah penggalan ramalan. Terdengar menyedihkan dan menyayat hati. Bahkan namanya juga tersemat dalam baris pertama lagu tersebut. Putri Sion – Purnsie Zion. Kata itu jelas mengarah padanya.


Sang ratu telah menunggu di depan sebuah rumah pohon yang paling besar. Bangunan kayunya melingkari sebuah pohon raksasa dengan bunga peony berwarna-warni: koral, oranye dan ungu. Sang ratu berdiri di halaman rumah pojon tersebut, yang menjulang tinggi di antara rumah-rumah lainnya. Jubah bintang juga dia kenakan, sama seperti pakaian semua elf di tempat tersebut.


“Akhirnya kita bertemu, Putri Sion,” sambut Ratu Amarië setelah melihat kedatangan Arael.


Iolas dan Bryen tidak ikut ke singgasana tersebut. Kedua elf itu berhenti di salah satu rumah pohon terdekat bersama Quenya.


“Salam, Ratu Amarië,” sapa Arael sopan.


Sang ratu hanya mengangguk pelan, lantas menengadah menatap langit malam bertabur bintang. Pakaian mereka begitu menyatu dengan bentang alam sehingga rasanya konstelasi bintang di langit itu turun hingga berada di sekitar Arael.


“Bintang-bintang itu bicara lebih banyak daripada makhluk manapun di tanah ini. Mereka mengirimkan pertanda dan keajaiban-keajaiban. Apa kau mempercayainya?” tanya Ratu Amarië tanpa memalingkan wajahnya.


Sang ratu memiliki paras rupawan, seperti elf pada umumnya. Rambut panjang bergelombang berwarna perak menghiasi kepalanya, berkilau serupa bintang di langit. Sebuah mahkota dedaunan dengan ujung hiasan bunga peony tersemat di puncak kepala Ratu Amarië, membuatnya terlihat bersahaja sekaligus menyimpan aura magis.


Arael mengikuti arah pandangan sang ratu. Di atas kepalanya, tanpa tertutup puncak-puncak pepohonan, gadis itu melihat taburan bintang yang menurutnya acak. Arael tidak dibekali dengan kemampuan membaca ramalan atau sekedar konstelasi bintang.


“Semua ramalan tentang tanah ini, mengarah pada kekacauan, kekerasan dan penderitaan. Apakah kekejaman seperti itu harus dilawan dengan kekerasan juga?” Ratu Amarië melanjutkan pertanyaannya karena Arael tidak lekas menjawab.


Gadis itu tercenung sejenak. Memang benar kekerasan adalah sumber penderitaan. Sejak awal Arael tidak pernah berambisi untuk memiliki kekuasaan demi dirinya sendiri. Apalagi setelah mengunjungi kaum elf cahaya. Rasa-rasanya ia tidak ingin melanjutkan perjuangannya yang hanya akan menimbulkan peperangan. Bukankah kedamaian itu sudah cukup?


Akan tetapi, Arael kembali mengingat para manusia di luar sana, yang menderita karena kelaliman Charles. Ia bisa saja memutuskan untuk hidup tenang bersama para elf, atau dalam persembunyian sekalipun. Namun apakah ia sampai hati membiarkan para manusia, kaumnya sendiri menderita?


“Perjuangan saya bukan untuk mengadili salah dan benar, Yang Mulia. Peperangan ini semata-mata untuk membebaskan. Saya berjuang untuk membebaskan tanah Luteria beserta seluruh rakyatnya dari kesewenang-wenangan.” Arael mengungkapkan isi hati dan pikirannya.


Sang ratu menerawang ke tempat yang jauh, seolah jiwanya sudah tidak ada di tempat itu. Namun ia pun akhirnya berkata-kata lagi.


“Peperangan adalah kesia-siaan. Kebebasan yang kau perjuangkan itu, nantinya akan berubah menjadi dogma, lalu berujung pada peperangan yang lain lagi. Siklus berputar, tapi tak ada habisnya. Seperti lingkaran penderitaan tanpa ujung,” ucap sang ratu sendu.


Begitulah fitrah manusia yang selama ini dikenal oleh bangsa elf. Para manusia begitu gemar memperebutkan sesuatu, atau mempertahankan hal-hal di luar diri mereka sendiri. Ambisi akan kekuasaan, kekayaan dan kekuatan membuat mereka menjadi tamak. Kebebasan dan kedamaian yang dijanjikan Arael terlihat begitu jauh dari kenyataan.