
Iolas dan Bryen pun mengangguk setuju. Arael memerintahkan Kaladrius untuk mendarat di tengah padang gurun, tak jauh dari perkemahan oasis. Kedatangan Kaladrius sontak menarik perhatian semua orge yang berkeliaran di sana. Mereka bergerak waspada dan mengangkat gada-gada berduri untuk bersiap menyerang.
Saking banyaknya orge yang berkerumun, Arael tidak bisa menghitung jumlahnya secara pasti. Bahkan orge penjaga kota pun turut berlari menyongsong kedatangan mereka. Kaladrius jelas tidak bisa mendarat dengan aman. Maka, sebelum mencapai tanah, Arael, Iolas, Bryen dan Rangwe pun melompat turun dari punggung burung raksasa tersebut. Kaladrius langsung membumbung tinggi ke angkasa setelah penumpangnya mendarat dengan sempurna.
Arael menghunus Attila. Pedangnya bercahaya menyilaukan terkena pantulan sinar matahari. Dengan gesit ia melukai orge-orge yang mencoba menyerangnya. Iolas dan busurnya melesatkan anak panah cahaya ke segala arah dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik saja, pemuda itu berhasil menumbangkan lima ekor orge. Bryen memecah airnya menjadi gelembung-gelembung yang melingkupi kepala orge, membuat mereka kesulitan bernapas. Beberapa orge berhasil tumbang kehabisan oksigen.
Rangwe, di samping itu, menjadi yang paling brutal di antara mereka berempat. Tombaknya melayang sesekali, disusul dengan tendangan, hantaman, bahkan gigitan di leher para orge. Dialah yang memegang rekor membunuh orge terbanyak. Kualitas fisik Rangwe melebihi kapasitas elf pada umumnya.
Arael terus bergelut dengan Attila. Beberapa gada berduri diarahkan ke kepalanya. Namun gadis itu berhasil berkelit. ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan Luca ataupun memanggil Skirrof sebelum benar-benar terpojok. Energi sihirnya harus dihemat agar bisa bertarung lebih lama.
Setelah beberapa saat bertempur, jumlah orge-orge itu pun berkurang drastis. Arael dan rekan-rekannya seperti sudah berada di atas angin. Meski begitu, mendadak angin gurun menderu dengan tidak wajar. Arael menyadari adanya keganjilan.
Tepat saat kemenangan sudah ada di depan mata, badai pasir tiba-tiba melanda, menyapu mereka semua termasuk para orge hingga tertutup butiran pasir yang tak terhitung jumlahnya. Mata Arael menjadi pedih karena butiran pasir itu masuk ke dalamnya. Secara otomatis ia menutup hidung dan mulutnya agar tidak menghisap debu-debu halus yang mencemari seluruh area.
Arael bertahan sekuat tenaga untuk tetap berada di posisinya. Akan tetapi deru angin gurun menerpanya begitu kuat, hingga akhirnya gadis itu pun terlempar jatuh dan mencium tanah. Pasir memenuhi seluruh mulutnya. Arael meludahkan pasir-pasir itu dan menunggu hingga badai berlalu.
“Kita kedatangan tamu istimewa rupanya.” Sebuah suara bengis terdengar dari balik pusaran pasir. Lambat laun badai itu pun mereda, lantas menampakkan sesosok pria berturban merah yang terlihat seumuran dengan Arael.
Pria itu terbang melayang dengan pusaran angin berada di bawah kakinya. Arael melihat pria itu sembari bangkit berdiri dan menyeka mulutnya yang penuh pasir.
“Putri Arael yang Agung, anak dalam ramalan, ternyata melangkahkan kakinya sendiri ke hadapanku,” ujar pria itu tersenyum culas.
Arael sudah bangkit berdiri. Iolas, Bryen dan Rangwe tidak terlihat di sekitar sana. Ia sendiri berhadapan dengan seorang penyihir hitam, kaki tangan Charles.
“Jangan khawatir, teman-temanmu sekarang sedang dihibur oleh anak buahku, para orge yang kalian sangka sudah mati itu, sebenarnya tidak bisa dibunuh. Apa kau tahu kekuatan terdalam dari sihir hitam? Akan kutunjukkan padamu,” desis pria itu yang setelah dilihat-lihat wajahnya mirip ular yang licik.
Arael tak bereaksi dan hanya menyaksikan pria itu mengangkat satu tangannya. Aura gelap keluar dari telapak tangannya lantas menyebar memenuhi tanah. Sang pria tersebut merapal sebuah mantra dengan bahasa kuno yang tidak dimengerti oleh Arael. Bukan bahasa elf. Kata-katanya terdengar keji dan penuh kutukan.
Tak berapa lama kemudian, orge-orge yang sudah bergelimpangan tewas di area tersebut, mulai bergerak. Semuanya bangkit berdiri seperti hidup kembali. Bahkan ada orge yang kepalanya terputus, kini sudah berdiri tegak dan mencari potongan kepalanya yang menggelinding di dekat kaki. Orge itu memasang kembali kepalanya tanpa kesulitan.
Sihir semacam itu jelas terlarang. Memanggil jiwa-jiwa yang telah mati tidak bisa dilakukan karena melanggar hukum alam. Maka dari itu, sihir gelap tersebut hanya mengisi mayat-mayat kosong itu dengan kegelapan. Mereka bukan lagi makhluk yang sama, melainkan hanya cangkang kosong yang dikendalikan oleh sang penyihir.
“Lebih tepatnya, aku pengendali mayat. Tidak pernahkah kau mendengar tentang Necromancy? Oh, aku lupa kau dikurung hampir seumur hidupmu. Pengetahuanmu pasti tak jauh berbeda dengan anak kecil yang baru mengenal dunia,” ejek pria itu.
Arael menggenggam erat Attila, berusaha keras menahan amarah. Selama penyihir ini masih hidup, maka orge-orge itu akan terus dibangkitkan. Cepat atau lambat rekan-rekannya bisa kehabisan tenaga. Arael harus menghentikan hal itu terjadi.
“Jangan buru-buru, Putri. Kita punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Apa kau tahu betapa terkejutnya aku ketika melihat burung raksasa terbang rendah tepat di depan perkemahanku? Aku seperti sudah menukar keberuntunganku sepanjang hidup hingga bisa mendapat kesempatan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri. Yang Mulia Raja pasti akan sangat senang. Aku bisa mendapat lebih banyak kekuasaan setelah itu. Tidak hanya terjebak di oasis kecil seperti ini,” gerutunya sembari melirik perkemahan.
Rupanya pria ini tidak terlalu puas dengan posisinya. Mungkin karena kekuatannya tidak sebesar kaki tangan Charles yang lain. Entahlah. Yang jelas, Arael melihat sedikit harapan. Ia mungkin bisa mengalahkan orang ini.
“Oh, ya. Sebelum kita berduel, ada baiknya kalau kau mengetahui namaku sebelum kau mati. Siapa tahu kau ingin mengutukku di dunia sana. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Toh aku mengenal lebih banyak iblis di alam bawah,” ujarnya tertawa. Tawa yang sangat memuakkan.
“Jadi namaku Arkeem. Pastikan untuk mengingatnya, Putri,” ujar pria itu di tengah-tengah tawa membahana. “Nah, mari kita teruskan pertarungannya,” lanjut Arkeem sembari menjentikkan jarinya.
Sebuah tornado setinggi dua meter muncul begitu saja di sisi kiri Arael. Tornado tersebut berpusar cepat ke arahnya. Arael mencoba menghindar, tetapi pasir membuat kakinya menjejak lambat dan berat. Pada akhirnya pusaran tornado tersebut berhasil mengenai tubuh Arael, melemparnya sejauh setengah mil. Tubuh dan pakaian Arael terkoyak karena kekuatan angin itu begitu hebatnya hingga membuatnya tersayat-sayat.
Arkeem terbang mendekat ke tempat Arael tersungkur. Gadis itu sama sekali tidak bisa mendekati sang penyihir gelap. Senjatanya, Attila, sudah terlempar dari tangannya sejak tornado menghempas. Arkeem tertawa puas melihat Arael tidak berdaya. Sekali lagi, ia memanggil tornado dan kembali menghempaskan Arael. Gadis itu menjadi bulan-bulanan Arkeem selama beberapa waktu.
“Ternyata kau tidak sekuat yang dibicarakan. Aku ragu ramalan-ramalan itu nyata. Mungkin para centaur hanya membisikkan dongeng pengantar tidur,” cela Arkem dari kejauhan.
Arael tidak bisa terus diam menerima semua serangan berikut cemoohan tersebut. Di tengah-tengah serangan itu, ia pun memanggil Luca dari dimensi spirit. Serigala putihnya melompat keluar dari udara kosong. melihat sang majikan terluka, Luca pun menggeram marah ke arah Arkeem.
“Binatang peliharaanmu tidak cocok berada di Gurun, Putri,” ujar Arkem masih melayang di atas tornado.
Dengan pikirannya, Arael memerintahkan Luca untuk memanggil musim dingin. Serigala itu pun menggeram semakin ganas. Tak berapa lama kemudian butiran salju mulai turun dari langit, diikuti hawa dingin yang kontras dengan padang pasir.