The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Piramida



“Ayo kita masuk sebelum malam datang. Para elf matahari mungkin masih ada di luar,” ajak Rangwe. Ia lantas melangkahkan kakinya melewati gerbang batu . Tubuh elf liar itu pun lenyap seketika.


Iolas dan Bryen mempersilakan Arael untuk masuk lebih dulu. Gadis itu lantas melangkah melewati gerbang batu. Ia berdiri di belakang Rangwe yang bertubuh kekar. Padang gurun lain menyambut kedatangannya. Namun padang gurun tersebut tidaklah kosong seperti sebelumnya. Bangunan megalit besar menjulang sangat tinggi dengan ukiran patung-patung berwujud unik. Semacam tubuh manusia dengan kepala-kepala hewan. Arael tidak yakin apakah tubuh patung itu adalah manusia atau elf karena secara garis besar tubuh keduanya memang sama.


Selain jajaran benteng megalit dan patung-patung, barisan piramida turut menghiasi kota tersebut. Kompleks piramida itu terdiri dari satu piramida maha besar, diapit oleh dua piramida yang berukuran sedikit lebih kecil. Cahaya matahari yang keemasan terlihat sangat indah, membetuk siluet luar biasa dari arsitektur bangunan yang sempurna.


Iolas dan Bryen muncul tak lama sesudahnya. Arael masih terpukau dengan pemandangan tersebut. belum pernah dalam hidupnya ia melihat piramida-piramida itu dengan kedua matanya sendiri. Rupanya memang sangat megah dan luar biasa.


“Para elf matahari senang menyambut tamu yang datang. Mereka periang dan suka bergerak. Sebaiknya kita masuk ke kota sebelum elf bulan menggantikan mereka,” terang Rangwe sembari memimpin jalan.


Arael dan yang lainnya mengikuti dalam diam. Mereka melewati sepasang patung yang masing-masing berkepala burung elang dan singa. Setapak batu terhampar di hadapan mereka menuju sebuah bangunan besar yang mirip istana pasir. Dinding bangunan itu dipenuhi ukiran dari aksara para elf, termasuk gambar-gambar patung bertubuh manusia dengan kepala hewan.


“Patung-patung itu adalah manifestasi dari kekuatan padang gurun ini. Hamparan tanah yang memelihara hewan buruan, para elang pemangsa yang mengambil hewan buruan, hingga akhirnya elang-elang itu menjadi makanan manusia, yang lantas mati dan kembali ke tanah. Siklus yang berputar, dilambangkan menjadi wujud dewa dewi untuk dihormati. Sebagai pengingat akan siklus kehidupan di tanah ini,” terang Rangwe yang berwawasan luas.


“Manusia?”celetuk Arael penasaran.


“Piramida-piramida ini dibuat oleh bangsamu, Putri. Para manusia. Bersama-sama dengan elf matahari, mereka membuat bangunan semegah ini,” sahut Rangwe tersenyum.


Arael semakin terpukau. Pada jaman dulu, saat kedamaian masih menyelimuti Luteria, bangsa manusia dan elf ternyata bisa hidup berdampingan dengan harmonis. Piramida inilah saksinya. Serta merta Arael merasa khusyuk di hadapan bangunan megalitik berarsitektur luar biasa tersebut.


Setelah melewati bangunan benteng, rombongan Arael disambut oleh sekawanan elf berambut merah menyala seperti api. Kulit elf tersebut gemerlap serupa perunggu, lengkap dengan telinga runcing yang khas. Wajah mereka sungguh rupawan, seperti pada umumnya ras elf di seluruh tanah itu.


Salah seorang elf perempuan menghampiri mereka. Kedua bola matanya yang sewarna darah tampak berbinar-binar saat melihat kedatangan orang asing. Pakaian elf itu cemerlang, terbuat dari emas murni.


“Halo, kalian. Apa kalian pengunjung tempat ini? Astaga betapa menyenangkannya bertemu orang-orang baru,” seru elf tersebut lincah. Beberapa temannya turut berkerumun dan mengitari rombongan Arael. Rambut mereka yang menyala-nyala membuat pandangan Arael sedikit silau.


“Lama tak bertemu, Enna,” sapa Rangwe seperti bertemu kawan lama.


Elf perempuan itu menatap Rangwe lekat-lekat, berusaha menggali memori yang mungkin sudah terkubur entah beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu. Seorang elf perempuan lain yang berparas sama persis dengan Enna muncul dari balik punggungnya. Namun berbeda dengan Enna yang berambut panjang dan diikat ekor kuda, elf perempuan yang baru datang itu memiliki rambut pendek sepanjang bahu saja. Meski begitu, rambut mereka berdua sama-sama bergelombang indah, mirip seperti lidah-lidah api.


“Bukannya ini Rangwe? Dari Sy-Tel-Quassir,” tebak elf perempuan berambut pendek.


“Sepertinya kau juga sehat, Valna,” sapa Rangwe sembari tersenyum.


Enna melongo kaget, lalu menyadari bahwa ia sudah mengingat tentang Rangwe. “Aku ingat kau. Rangwe, kita pernah bertualang sampai ke pelosok benua, lalu mengacau di tempat Amarië!”


“Benarkan? Wah, tidak disangka. Waktu cepat sekali berlalu. Jadi, apa yang membawamu kemari bersama dua elf muda dan … seorang anak manusia?!” pekik Enna kembali terkejut menyadari keberadaan Arael.


Valna, yang Arael duga adalah saudara kembar Enna, turut mengamati Arael dengan mata kucingnya yang penuh rasa ingin tahu.


Arael di samping itu, jauh lebih terkejut dengan pernyataan Enna. Ia menyatakan bahwa Iolas dan Bryen adalah elf muda. Padahal usia mereka sudah lebih dari seratus tahun. Itu artinya usia Rangwe bisa jadi lebih tua berlipat-lipat kali dari Iolas. Arael merasa seperti bayi kecil yang belum tahu apa-apa.


“Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dengan kaum kalian, termasuk elf dari Teu-Tel-Quassir.” Rangwe menjelaskan dengan hati-hati.


Ekspresi Enna danValna mengeras. Mereka berdua spotan bicara secara bersamaan. “Ar-Tel-Quassir tidak akan pernah bertemu dengan mereka,” ujar Enna dengan suara rendah.


“Tentu saja. Kami akan menemui mereka secara terpisah,” lanjut Rangwe sembari terkekeh.


Teu-Tel-Quassir adalah sebutan bagi elf bulan dalam bahasa mereka. Sementara Ar-Tel-Quassir merujuk pada kaum elf matahari.


Enna menghela napas panjang. Seketika ekspresinya yang serius pun lenyap, digantikan senyuman riang yang sedari tadi menghiasi wajahnya.


“Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong, kalian terlihat kacau. Sebaiknya kau ajak teman-temanmu untuk masuk lebih dulu, Rangwe. Sebentar lagi kaum penyembuh bulan itu akan muncul. Kalian bisa minta bantuan mereka untuk menyembuhkan luka-luka ini,” ujar Enna sembari memandu mereka berjalan membelah barisan batu megalitik yang megah.


Pilar-pilar batu menyangga seluruh bangunan dengan langit-langit yang sangat tinggi. Keseluruhan materialnya berasal dari batuan coklat yang kokoh. Para elf matahari berambut merah dengan kulit perunggu tersebar di seluruh bangunan. Mereka semua tampaknya sedang terburu-buru untuk masuk ke bilik-bilik dengan pintu ganda yang bergeser terbuka. Enna membawa mereka ke salah satu ruangan yang cukup besar.


Interior ruangan tersebut dipenuhi dengan ornamen emas berkilauan, dengan sebuah ranjang besar yang mewah. Dua set sofa elegan menghiasi ruangan di setiap sisi. Empat emas berwujud manusia setengah singa berdiri di setiap sudut.


“Kalian tunggu di sini dulu. Sudah waktunya bagi kami untuk pergi. Teu-Tel-Quassir akan muncul menggantikan kami. Ruangan ini milik Elaith. Elf itu bisa membantu kalian jika butuh sesuatu,” kata Enna.


“Baik. Terima kasih bantuannya, Enna. Kita bertemu lagi besok pagi kalau begitu,” sahut Rangwe.


Beberapa saat kemudian, tubuh Enna dan Valna mengeluarkan cahaya keemasan. Secara perlahan, mereka berdua memudar dalam sinar tersebut hingga hilang sepenuhnya. Arael dan yang lainnya ditinggalkan seorang diri dengan cahaya obor yang berkobar.


“Mereka menghilang?” tanya Arael yang sudah duduk di salah satu kursi beludru merah yang empuk.


“Masih banyak keajaiban lainnya,” ujar Rangwe sembari melepas asesoris dedaunannya dan mengganti dengan pakaian yang lebih nyaman digunakan.