The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Wild Elf



Lembah Ylustriel sudah terlihat dari balik awan-awan. Arael melihat hutan yang sangat subur di bawah sana. Sebuah anak sungai membelah lembah dengan aliran air yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Berbatasan dengan hutan, kurang lebih lima mil jauhnya, sebuah desa kecil berdiri dengan rumah-rumah jerami yang sederhana. Beberapa manusia beraktivitas di desa itu tanpa menyadari bahwa di lembah yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, tersembunyi kerajaan suku elf bintang.


Kaladrius terbang berputar-putar selama beberapa saat sebelum akhirnya mendarat di puncak bukit yang tidak jauh dari hutan Ylustriel. Kedatangan mereka memang tidak menarik perhatian para manusia. Sayangnya, Arael melupakan tentang keberadaan para orge yang memang biasanya mengawasi desa-desa manusia. Alhasil, puluhan orge yang berkeliaran di bukit itu pun berbondong-bondong menyerbu mereka begitu Kaladrius menapak tanah.


Iolas dengan cekatan membidik mereka dengan busur barunya. Anak-anak panah yang bercahaya putih melesat dengan cepat dan menembus kepala orge-orge itu tanpa ampun. Arael melompat turun dari punggung Kaladrius dan ikut bertempur menggunakan Attila, pedangnya yang sudah diperkuat oleh cahaya elf. Bryen menggunakan air yang dia simpan dalam botol minumnya untuk membuat pedang-pedang es. Kemampuan Bryen dalam membekukan air juga didapat saat berlatih di tempat tinggal suku elf cahaya.


Melihat hal itu, Arael lantas memperingatkan dirinya agar ia sebaiknya tidak menerima minuman dari Bryen. Airnya mungkin tetap bersih, tetapi melihat bagaimana Bryen menggunakannya sebagai senjata membuat Arael enggan menenggak air tersebut.


“Saya menggunakan air yang berbeda untuk minum, Putri,” ucap Bryen yang berdiri di sisi Arael. Sepertinya elf itu menyadari kening Arael yang berkerut saat melihat pedang esnya yang keluar dari botol minum.


“Senang mendengarnya, Bryen,” sahut Arael tersenyum simpul. Keduanya pun kembali fokus pada pertempuran.


Sayangnya jumlah orge yang menyerang mereka justru semakin banyak. Begitu membunuh seekor orge, tiga lainnya muncul dari balik hutan. Rasanya seperti tidak ada habisnya. Sekalipun Arael, Bryen dan Iolas sudah menjadi lebih kuat, tetapi jumlah orge itu semakin sulit dihadapi. Arael sudah menyuruh Kaladrius untuk kembali ke ukuran burung merpati, semata-mata agar tidak mudah dilukai oleh para orge. Selain itu, membayangkan burung raksasa yang mengamuk di tengah hutan pasti akan menarik perhatian orang-orang.


Gadis itu hanya memanggil Luca untuk membantunya mengurangi jumlah orge. Luca menerjang ke sana kemari menerkam leher-leher para orge hingga putus. Energi sihir Arael meningkat pesat setelah berlatih bersama Haldir. Karena itu ia tidak mendapat banyak kesulitan meskipun harus bertarung sambil mempertahankan wujud fisik luca di dimensi mereka. Arael bahkan sempat menggunakan bayangannya untuk mengontrol dua orge sekaligus agar saling berkelahi.


“Padahal desa manusia itu kecil sekali tapi kenapa ada begitu banyak orge di sini?” gerutu Iolas yang berseru sambil melompat, menerjang dan memanah para orge di waktu yang sama. Arael selalu terkesan dengan kelincahan Iolas memainkan busurnya sambil melakukan hal lain seperti menghindar atau menendang. Kegesitan yang jelas sulit ditandingi oleh siapa pun.


“Mungkin karena para orge ini merasakan keberadaan suku elf bintang. Mereka sedang mencari para elf tapi tidak kunjung menemukannya,” seru Bryen di tengah-tengah geraman dan amukan para orge.


Kaum orge umumnya tidak bicara bahasa manusia. Mereka punya bahasa mereka sendiri yang hanya terdengar seperti geraman atau umpatan marah. Sedikit banyak Arael mempelajari cara mereka berkomunikasi sejak dikurung selama sepuluh tahun bersama orge-orge penjaga. Dari raungan-raungan serak para orge itu, Arael tahu bahwa mereka sedang memanggil kawanannya yang lebih banyak lagi dari seluruh penjuru hutan. Bukan tidak mungkin kalau mereka juga melapor pada tuannya, Charles, bahwa Arael ada di tempat itu.


“Orge-orge ini memanggil kawanan mereka!” teriak Arael memperingatkan.


“Apa yang harus kita lakukan? Membunuh mereka semua mungkin akan memakan waktu seharian. Atau dua hari paling lama. Itu juga kalau stamina kita masih bisa bertahan,” seru Iolas melompati kepala orge dan melubanginya tanpa ampun.


Sebelum Arael sempat menjawab, sebuah gada berduri mengujam ke arah wajahnya. Gadis itu menepis serangan tersebut dengan Attila dan seketika senjata orge itu terbelah menjadi dua, berikut tubuh sang pemilik. Attila sudah menjadi lebih tajam dari sebelumnya.


“Kita pergi dari sini!” teriak Arael sambil bersiap memanggil Kaladrius.


Akan tetapi, belum sampai Arael menjalankan rencana kaburnya, sebilah tombak tiba-tiba muncul dari belakang punggungnya dan langsung menancap di dada orge yang hendak menyerang gadis itu. Arael otomatis membalikkan badan, mencoba menelaah pemilik tombak tersebut. Para orge tidak pernah memiliki senjata lain kecuali gada berduri.


“Suku elf liar!” teriak Bryen mengumumkan informasi yang dibutuhkan Arael.


Setidaknya ada delapan belas elf liar yang membantu mereka. Pria dan wanita, semuanya menggunakan aksesoru bulu burung enggang di atas kepala mereka atau diikatkan pada kepangan rambut. Mereka terlihat sangat menyatu dengan alam karena penampilan mereka yang sangat natural. Satu per satu dari para elf liar ini mencabut tombak mereka dari bangkai para orge.


“Salam, Putri Sion,” sapa salah satu elf liar yang bertubuh paling kekar.


Arael mengangguk sopan karena tidak tahu cara membalas sapaan itu.


“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë,” sapa elf liar kekar itu pada Iolas dan Bryen. Rupanya sapaan itu hanya berlaku untuk sesame elf saja. Arael yang notabene adalah manusia dikecualikan karena kaumnya memiliki jenis sapaan yang berbeda.


“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë,” sahut Iolas dan Bryen bersamaan.


“Nama saya Rangwe,” lanjut sang elf liar yang memakai pakaian dari daun pohon Beech dan bulu domba. Gabungan yang unik.


“Terima kasih sudah membantu kami, Rangwe. Bagaimana kau tahu kalau kami akan datang?” tanya Arael.


“Para centaur memberi ramalan tentang kedatangan Anda. Kami dikirim kemari untuk mengintai dan menunggu Anda. Tapi para orge itu menemukan keberadaan kami dan mengumpulkan kaumnya untuk menangkap kami,” terang Rangwe.


Terjawab sudah alasan para orge ini berkumpul dalam jumlah yang tidak wajar. Sekuat apa pun penciuman orge, mereka tidak akan bisa menembus sihir elf yang menyembunyikan kerajaannya. Jadi lebih masuk akal kalau orge-orge itu memburu pengintai dari suku elf liar yang menunggu kedatangan rombongan Arael.


“Apa kalian baik-baik saja?” tanya gadis itu kemudian.


“Para orge itu mungkin berjumlah banyak, tapi mereka bodoh. Kami mengelabuhi mereka dengan berpindah-pindah tempat. Jika terlalu terburu-buru menghabisi mereka, justru akan menarik lebih banyak perhatian nantinya. Karena itu kami bertahan sambil menunggu kedatangan Anda,” jawab Rangwe menjelaskan.


Kini semua orge sudah dibasmi. Elf liar yang datang bersama Rangwe pun mulai berkerumun di dekat Arael, berikut Bryen dan Iolas. Meski begitu, Arael tahu bahwa keadaan aman ini tidak akan berlangsung lama. Orge-orge yang kabur mungkin akan membawa sejumlah pasukan lain. Karena itu mereka harus segera pergi dari sana secepat mungkin.


“Tujuanku sebenarnya adalah ke tempat suku elf bintang lebih dulu, Rangwe. Kabarnya kerajaan mereka tersembunyi di lembah Ylustriel,” kata Arael.


“Saya bisa mengantar Anda. Silakan naiki tunggangan Anda. Kami akan mengawal Anda sambil memimpin jalan,” ujar Rangwe sembari mengangguk ke arah Luca. Serigala putih itu mengusap-usapkan kepalanya ke pinggang Arael, meminta untuk dielus.


Arael mengusap kepala Luca beberapa kali, lantas mengikuti saran Rangwe untuk menunggangi serigalanya. “Aku sudah siap,” ucap Arael.


Rangwe mengangguk singkat pada para elf bawahannya. Mereka pun mulai melesat menuruni bukit dan mengawal Arael menuju lembah meninggalkan jasad-jasad orge di belakang.