The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Kematian



Rasa sakit luar biasa dirasakan Arael saat menyaksikan kedua sahabatnya terluka parah. Hati Arael benar-benar hancur ketika melihat tubuh Iolas dan Bryen berlumur darah hingga keduanya tak sadarkan diri. Dari kepala hingga kaki kedua pemuda elf tersebut, energi gelap itu menusuk hingga menembus ke belakang tubuh mereka.


Emosi Arael tak terkendali. Gadis itu meraung marah hingga nyaris kehilangan kesadarannya. Energi cahaya di dalam tubuhnya meledak hingga membuat serangan energi gelap itu pun lenyap. Arael berhasil menyegel energi gelap itu dengan kekuatan Cahayanya. Gadis itu melakukannya tanpa sadar ketika emosi dalam dirinya meluap-luap.


Tubuh Iolas dan Bryen pun terkulai lemas dan jatuh ke tanah. Arael berlutut lantas merengkuh tubuh dua sahabatnya itu. Iolas dan Bryen sudah tidak bergerak sama sekali. Arael mencoba membangunkan mereka, tetapi keduanya telah tiada. Arael hanya bisa menangis di samping tubuh kedua sahabatnya itu.


Ia menangis dan terus menangis hingga lama berselang. Hari sudah malam ketika akhirnya bahu Arael yang terkulai merasakan sebuah sentuhan lembut. Arael tak bergeming. Ia masih meringkuk memeluk tubuh kaku Iolas dan Bryen yang ada di pangkuannya.


“Arael. Sudah selesai,” ujar sebuah suara lembut. “Kau sudah melakukannya dengan baik. Sekarang, bangkitlah. Luteria membutuhkanmu,” lanjut suara itu lagi.


Arael akhirnya mendongak. Ia mendapati seorang wanita berjubah kerajaan dengan rambut hitam panjang yang dikepang menatapnya dengan penuh kasih. Tubuh wanita itu bercahaya keperakan, tidak solid dan melayang sepuluh inci dari lantai.


Dengan mata yang sembab, Arael terus mengamati sang wanita yang melayang di sebelahnya. samar-samar ia pun mengingat wajah tersebut. Arael mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan penglihatannya.


“Ibu … ?” desah Arael kemudian.


Wanita itu tersenyum lagi. “Kau melakukannya dengan baik, Anakku. Sekarang bangunlah. Sudah waktunya kau menyelesaikan tugasmu sebagai pewaris,” ujar Ratu Sybilina, ibu Arael, Ratu Luteria terdahulu.


Kesedihan kembali merayapi dada Arael. Ia bertambah pilu karena kini bertemu dengan ibunya yang telah tiada.


“Ibu … sahabat-sahabatku pergi meninggalkanku. Kau dan ayah juga telah pergi. Bagaimana … bagaimana aku harus menghadapi dunia ini?” rintih Arael penuh kepedihan.


“Kami tidak pergi kemana-mana, Arael. Kami selalu berada di dekatmu, di dalam hatimu. Pada waktunya nanti, kita akan bertemu lagi. Setelah kau menyelesaikan tugasmu.”


Air mata Arael kembali menetes semakin deras. “Kekuatan jahat itu … aku tidak berhasil melenyapkannya. Aku hanya membunuh Charles … tapi kekuatannya masih menguasai Luteria.”


“Tidak, Nak. Kau sudah berhasil menyegel kekuatan tersebut dengan kemampuanmu. Lihatlah pohon itu. Dia adalah tanda segel yang telah kau gunakan untuk mengunci kegelapan di dunia bawah. Kini semua roh jahat yang merasuki mayat-mayat orge sudah disegel di dimensi yang lain. Kau sudah menyelamatkan benua ini,” terang sang ratu sembari mengusap kepala Arael penuh kasih sayang.


Gadis itu pun menatap ke arah yang ditunjuk ibunya, sebuah batang pohon kering berwarna hitam legam muncul di atas lantai batu aula kastel tersebut. Pohon itu tidak berdaun sama sekali. Hanya cabang-cabangnya yang lebat menyulur ke segala arah.


“Aku … mengurung mereka?” desah Arael tak percaya.


“Benar, Arael. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Saat ini, kau mungkin sudah kehilangan teman-temanmu. Tidak hanya mereka. Masih banyak kehilangan lain lagi yang harus kau hadapi. Meski begitu, tetaplah tegar. Kau masih harus melakukan tugas terakhirmu,”


Arael kembali menoleh menatap ibunya yang berwujud spirit. “Apa itu, Ibu?” tanyanya kemudian.


“Kau akan menjadi Ratu penguasa Luteria hingga akhir hidupmu. Lalu kau harus mengeluarkan Kristal Ephestus yang ada di dalam tubuhmu. Belah kekuatannya menjadi dua belas bagian dan bagikanlah kepada kedua belas suku elf yang telah membantumu. Kristal-kristal itu akan menjadi tanda perjanjian antara manusia dan elf di masa depan. Dengan menggunakan kekuatan kristal tersebut, mereka akan terus melindungi Luteria secara turun temurun, termasuk melindungi segel yang telah kau buat di pohon itu,” terang Ratu Sybilina.


“Tapi … bagaimana caraku mengeluarkan Kristal Ephestus dari dalam tubuhku?”


Sembari memejamkan mata, Ratu Sybilina menarik sebuah energi besar dari dalam tubuh putrinya. Arael merasakan gejolak tidak nyaman saat sang ratu melakukannya. Namun ia tetap bertahan. Beberapa saat kemudian, Ratu Sybilina menarik kembali tangannya dari atas kepala Arael, lantas mengulurkan sebuah batu seukuran telapak tangan kepada gadis itu. batu tersebut berkilau dengan banyak spektrum warna yang bercampur menjadi satu, berselang-seling dari merah ke ungu, lalu kuning, dan sebagainya.


“Sejak kapan kristal ini menjadi sangat besar?” tanya Arael sembari menatap nanar ke arah kristal ephestus di tangannya.


“Itu karena kekuatanmu terus bertambah, Arael. Sekarang kau bisa membaginya untuk dua belas orang yang akan menjadi pelindung Luteria. Jiwa para elf yang menerima pecahan kristal tersebut akan terikat dengan tanah ini, dan ia akan terus mengulang siklus hidup dan mati untuk menjadi pelindung dari kekuatan gelap,” terang sang ratu lagi.


“Bukankah itu justru akan menjadi penjara bagi mereka?” tanya Arael muram.


“Semuanya sudah tertulis dalam ramalan.”


“Saat matahari bersinar, Putri Sion sang pembawa ramalan akan berangkat.


Mendapatkan kedamaian bersama dua belas suku elf yang membantunya.


Cahaya akan kembali menerangi kegelapan,


tapi kebijaksanaan membutuhkan pengorbanan.


Dua belas elf menjadi bayarannya. Jiwa mereka terikat dengan tanah ini.


Menjadi pelindung hingga akhir waktu. Sementara sang putri yang menawarkan kebebasan, akan menunggu di tempat cahaya.”


Sang ratu membacakan ayat dalam ramalan tersebut, seolah sudah mendengarnya selama bertahun-tahun. Arael termangu. Dua belas elf menjadi bayarannya. Jiwa mereka terikat dengan tanah ini. Menjadi pelindung hingga akhir waktu. Ia terpaku pada tiga baris itu. Arael kembali menatap ke tubuh Iolas dan Bryen yang sudah berubah dingin.


“Apakah … mereka berdua juga merupakan jiwa elf yang dikorbankan?” tanya Arael ragu-ragu, berharap bahwa jawabannya adalah tidak.


Sayangnya sang ratu mengangguk pelan. “Kristal itu akan membawa jiwa mereka kembali. Tapi setelah itu, mereka akan terikat dengan tanah ini. Itulah takdir para utusan.”


Arael kembali terisak. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal itu kepada sahabat-sahabatnya? Ia sama saja seperti membuat jiwa mereka terpenjara di dunia. Tidak ada kedamaian yang bisa dia cecap selama Luteria masih berdiri.


“Tidak bisakah aku menghindari takdir buruk itu?” ratap Arael pedih.


“Kau bisa membuat takdirmu sendiri. Tapi kau juga harus bisa menanggung resikonya,” jawab sang ratu lembut. “Sudah saatnya kau kembali. Pergilah Arael. Semua orang sudah menunggumu.”


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ratu Sybilina. Tubuhnya yang semi transparan lantas memudar dan hilang di depan Arael. Sekali lagi, gadis itu ditinggalkan sendirian bersama tubuh kedua sahabatnya yang sudah dingin.