The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Penghakiman



Rangwe mendapat bagian menggotong tubuh Arkeem yang sudah tidak sadarkan diri. Mereka pun memasuki wilayah perkemahan oasis yang terletak tidak jauh dari tempat pertarungan tadi. Orang-orang yang tinggal di sana berkerumun dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka semua menatap rombongan Arael dengan wajah penasaran.


Salah seorang dari mereka, pemuda bertubuh besar dengan jubah putih yang tipis, berlari mendekat. Pemuda itu menyadari bahwa tiga di antara rombongan yang baru datang itu adalah elf. Sementara orang yang digotong adalah Arkeem, penguasa oasis yang kejam.


“Kalian, adalah elf!” seru pemuda itu memantik arus dengungan panjang dari kerumunan orang-orang yang saling berbisik.


“Namaku Arael, dan mereka bertiga adalah sahabat-sahabatku, para elf,” ujar Arael memperkenalkan diri.


“A … rael … ? Anda Putri Arael yang ada dalam ramalan itu?” tanya pemuda tersebut. Suara bisikan orang-orang berubah menjadi celetukan lalu sorakan tak tertahan. Semua orang tampak antusias dan bergembira saat mendengar hal tersebut.


“Anda benar-benar datang untuk menyelamatkan kami!” seru pemuda itu.


“Hidup Putri Arael!” seru yang lainnya.


“Dia sudah mengalahkan Arkeem si Tangan Besi!” teriakan lain menyahut.


Seluruh sorak sorai membahan di padang gurun. Tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang menyadari luka-luka di tubuh Arael maupun rekannya yang lain.


“Anda sudah menyelamatkan kami. Para orge tidak lagi berkuasa. Kami bebas! Perkemahan ini sudah bebas!” seru pemuda itu girang.


“Kalian tetap harus berhati-hati. Kerajaan mungkin akan mengirim orang lain lagi untuk menguasai tempat ini. Karena itu kalian harus bisa menjaga diri sendiri mulai sekarang. Aku akan menyerahkan orang ini pada kalian. Lakukan dengan bijak. Mungkin orang ini masih punya hati nurani untuk bisa membantu kalian,” ujar Arael. Rangwe menyerahkan tubuh Arkeem pada pemuda yang menghampirinya. Pemuda itu tampak bingung. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Anda tidak akan menetap di sini?” tanya pemuda itu.


“Aku masih harus menyelesaikan perjalananku,” ujar Arael.


Orang-orang tampak kecewa. Ternyata mereka semua berharap Arael tetap ada di sana dan melindungi mereka. Terlebih ada tiga orang elf yang kuat datang bersama gadis itu.


“Apa yang harus kita lakukan pada orang ini?” tanya sang pemuda pada khalayak.


Selama beberapa detik, semua orang terdiam. Mereka saling pandang sekilas tetapi tak ada yang berani bicara.


“Bakar dia! Dia adalah manusia terkutuk yang sudah mencelakai kita!” Salah seorang pria dari kerumunan berteriak.


Celetukan itu disusul dengan teriakan-teriakan setuju lainnya. Semua orang bersepakat agar Arkeem dibakar.


“Sebaiknya kalian melepaskannya. Orang ini mungkin bisa membantu kalian untuk selamat dari pantauan kerajaan. Kalau dia mati, nasib buruk bisa menimpa kalian,” nasehat Arael kemudian.


“Dia adalah orang yang telah menimpakan nasib buruk pada kami! Sudah sepantasnya dia mati!” seru seseorang yang ada di sana.


“Lagipula Anda tidak akan menetap di sini, Putri. Anda tidak berhak untuk mengatur kami,” ujar pemuda di hadapan Arael.


Kening Arael berkerut. Apa orang-orang gurun memang sekasar ini? Mereka ternyata sama kejamnya dengan Arkeem atau bahkan Charles sendiri. Arael tidak pernah membayangkan kalau kemarahan manusia bisa melahirkan begitu banyak kebencian.


“Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Tugas kita cukup sampai di sini. Sebaiknya kita pergi sekarang. Luka-lukamu harus dirawat,” gumam Iolas di sebelah telinga Arael.


Gadis itu menatap muram ke arah orang-orang yang mengarak tubuh Arkeem ke tengah perkemahan. Beberapa pria mulai mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun. Para wanita mengambil tali dan minyak. Seluruh warga sepertinya sudah bersepakat untuk membunuh seorang pria tak berdaya. Sekalipun Arkeem mungkin sudah bertindak kejam, tetapi penghakiman semacam itu benar-benar tidak pantas dilakukan. Arael merasa muak melihat pemandangan itu. Ia pun akhirnya berbalik pergi tanpa berpamitan. Ia tidak ingin meyaksikan kebrutalan sifat kaumnya sendiri.


Rangwe memimpin jalan mereka menyusuri gurun. Darah yang keluar dari luka-luka Arael sudah mulai berhenti menetes. Meski begitu, luka di tubuhnya sama sekali tidak sepadan bila dibandingkan dengan luka hatinya. Melihat bagaimana orang-orang di perkemahan itu berubah menjadi brutal membuat Arael sekali lagi menyangsikan perjuangannya. Apakah ia benar-benar membawa kebebasan? Atau hanya sekedar pembalasan dendam?


Arael tidak suka ide itu muncul di benaknya. Hal-hal buruk terjadi ketika seseorang hanya memikirkan tentang kebencian. Arael belajar sejak kecil bahwa kebencian hanya membawa musibah dan rasa sakit. Masih tergambar dengan jelas bagaimana Charles tega membunuh orang tuanya atas dasar rasa iri dan kebencian. Arael tidak ingin berubah menjadi seperti itu. Namun, melihat bagaimana bangsa yang ingin dia bebaskan ternyata juga memiliki kebencian yang sama, membuat Arael mual.


“Ketika satu pertanyaan terjawab, pertanyaan lain akan bermunculan, Putri. Keraguan adalah tanda bahwa hatimu bekerja dengan baik,” kata Rangwe yang melihat keresahan Arael.


“Orang-orang itu sangat kejam. Apa yang akan terjadi jika nanti aku berhasil menggulingkan Charles. Mungkin kekacauan akan muncul, hasil dari kebencian para manusia,” ratap Arael muram.


“Itulah kenapa kau ditakdirkan untuk menyatukan kedua belas suku elf. Kaum kami akan membantu kalian menemukan cinta kasih lagi. Secara fitrah, manusia memang memiliki kegelapan dan cahaya dalam dirinya. Itu tidak bisa dipungkiri. Pemimpin sejati membawa aspek cahaya semakin bersinar dalam diri orang-orang. Itulah yang telah dilakukan Sion sejak awal dia mendirikan kerajaannya di Luteria. Dan kau adalah pewarisnya. Percayalah pada dirimu. Pada hatimu,” lanjut Rangwe yang berjalan di depan Arael.


Iolas dan Bryen tidak mengatakan apa-apa. Namun dari gestur mereka, keduanya jelas setuju pada nasehat yang diberikan oleh Rangwe. Arael terdiam sepanjang sisa perjalanan. Ia merenung. Kini ia mengerti kenapa para elf cenderung menghindari manusia. Sisi gelap manusia mudah terpancing, bahkan oleh hal-hal kecil sekalipun. Apakah Arael bisa membawa cahaya pada diri semua orang nantinya?


“Kita sudah sampai. Sebentar lagi matahari terbenam. Mungkin kita hanya bisa bertemu para elf matahari sebentar saja. Setelah itu para elf bulan yang akan menyambut kita,” ujar Rangwe menghentikan langkahnya di sebuah gundukan pasir yang landai.


Perkemahan sudah jauh di belakang mereka. Kini oasis itu tampak begitu kecil. Pohon palem dan kurma sudah tidak teridentifikasi dengan jelas. Arael hanya bisa melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Hatinya kembali pilu menyadari kejadian yang tengah terjadi di sana.


Meski begitu, perhatiannya kembali dipusatkan pada gerakan tangan Rangwe yang membuka gerbang sihir. Ia menggambar pola di udara, sebentuk lingkaran dengan beragam gerakan rumit. Tak berapa lama kemudian, sebuah lingkaran sihir keemasan muncul.


Tanah di bawah kaki Arael bergerak perlahan. Pasirnya seolah menyusut ke dalam, tersedot oleh sesuatu yang tak terlihat. Detik berikutnya, gerbang batu kecoklatan muncul di hadapan mereka. Gerbang itu terangkat ke atas dari dalam tanah lalu berdiri menjulang hingga dua kali tinggi tubuh Arael.