
Icaris membawa Arael menuju sebuah arena terbuka yang terletak di punjak bukit lain. Arena batu itu berbentuk melingkar dengan empat pilar tinggi yang digunakan sebagai pembatas. Para elf bersayap lain berbondong-bondong mengikuti mereka untuk menonton. Iolas dan Bryen turut menemani Arael yang berjalan penuh percaya diri ke arena.
“Hei, apa kau yakin mau melawannya sendirian? Icaris terkenal bahkan di antara suku-suku lain bangsa elf. Dia bukan elf sembarangan. Pada perang besar bangsa elf melawan orc di masa lalu, Icaris adalah salah satu yang menyebabkan kepunahan ras tersebut. Icaris bahkan memburu para orc sampai ke tempat persembunyian tergelap mereka,” tukas Iolas mencoba memperingati Arael.
“Justru karena itu aku harus membuatnya berada di pihakku. Bayangkan betapa cepatnya kita bisa menghancurkan para orge itu juga,” tandas Arael semakin bersemangat.
Iolas lantas melirik Bryen yang hanya bisa mengangkat bahu tanpa mampu membujuk Arael. “Kau sedikit berubah sejak menerima kekuatan bayangan. Atau ini hanya perasaanku saja? Rasanya kau jadi sedikit lebih … sadis?” ungkap Iolas sambil mengerutkan kening.
“Manusia memang mudah berubah Iolas. Itu karena usia kami yang pendek. Aku hanya mengembangkan sifat-sifat yang akan mendukungku meraih kemenangan melawan Charles. Mulailah terbiasa dengan hal itu,” timpal Arael kemudian.
Iolas tak menjawab lagi. Bryen pun hanya bisa menarik napas panjang tanpa banyak berkomentar. Arael akhirnya melangkah masuk ke dalam arena yang sudah disiapkan. Icaris sudah berdiri gagah di tengah arena, sembari menatap Arael dengan pandangan malas.
“Kurasa tidak adil jika menantangmu duel hidup dan mati. Aku juga tidak berselera untuk membunuh seorang putri yang ada dalam ramalan. Hal itu hanya akan membuat suku kami berada dalam masalah. Karena itu aku akan menyederhanakan peraturannya: barangsiapa keluar dari arena, maka ia dinyatakan kalah,” kata Icaris menyambut kedatangan Arael di dalam arena.
“Aku setuju dengan peraturan tersebut. Tidak perlu saling membunuh. Akan sangat disayangkan jika aku harus kehilangan elf yang kuat sepertimu,” kata Arael sembari tersenyum simpul.
“Apa kau bilang?” geram Icaris berubah kesal.
“Hati-hati Arael. Jangan lupa mereka bisa terbang. Arena itu tidak memiliki batas atas, jadi mereka bisa menghindar sambil terbang di udara,” kata Iolas memperingatkan Arael dari luar arena.
Arael hanya mengangguk tenang. Ia sudah memperhitungkan segalanya termasuk kemungkinan tersebut.
Tak berapa lama kemudian, empat pilar sihir yang mengelilingi Arena mendadak mengeluarkan cahaya pembatas berwarna ungu muda. Cahaya tersebut melingkar di sisi luar arena dan membentuk dinding cahaya semi transparan yang membuat petarung di dalamnya mengetahui dengan jelas batas arena tersebut.
“Ini akan menjadi lebih mudah,” gumam Arael pelan.
Duel pun akhirnya dimulai setelah dinding sihir di arena menyala. Icaris segera melesat terbang meninggalkan Arael yang berdiri dengan pedang di tangan. Para elf bersayap biasa menggunakan tombak sebagai senjatanya. Begitu pula Icaris. Sebuah tombak panjang dengan mata pisau yang tajam terarah pada Arael. Dalam satu kepakan sayap, Icaris segera menerjang Arael dengan tombaknya. Arael menangkis serangan tersebut. Attila berdencing saat beradu dengan mata tombak Icaris. Gadis itu dengan gesit menahan serangan beruntun dari sang elf bersayap.
Selama beberapa waktu, keadaan mereka tampaknya berimbang. Akan tetapi hal itu terjadi karena Icaris menurunkan level kemampuannya untuk menyesuaikan dengan Arael. Tak lama kemudian Icaris sepertinya mulai bosan. Ia kemudian melakukan manuver kilat dengan tombaknya. Icaris menambahkan sebuah elemen sihir petir yang nyaris menghanguskan Arael seandainya gadis itu tidak menghindar di waktu yang tepat.
Iolas dan Bryen berseru tertahan menyaksikan hal tersebut. kekhawatiran mereka tampaknya akan menjadi nyata. Meski begitu Arael tidak gentar. Ia hanya sedikit tersengal, tapi kondisinya baik-baik saja.
“Pertarungan belum selesai, Icaris,” sahut Arael sembari menyerbu ke arah lawannya dengan menghunus Attila.
Icaris menangkis serangan Arael dengan tombaknya. Elf itu tidak lagi berusaha terbang ke atas dan hanya bertarung dengan malas menerima serangan-serangan kecil Arael yang baginya bukan apa-apa. Arael harus mengakui bahwa kemampuan pedangnya memang masih belum terasah. Ia lantas berjanji pada dirinya sendiri untuk melatih ilmu pedangnya dengan lebih giat setelah ini.
“Aku mulai lelah, Icaris. Sebelumnya, akan kukatakan kalau aku mengakui kemampuan kalian. Aku yakin tidak ada lawan yang bisa mengalahkan kalian dengan mudah. Meski begitu kalian harus bersyukur karena sesama suku elf biasanya tidak saling berperang, karena kalau tidak, para elf bayangan mungkin bisa membuat kalian kehilangan kata-kata,” ujar Arael di tengah pertarungan pedangnya melawan tombak Icaris.
“Apa maksud … ,”
Sebelum Icaris sempat menyelesaikan kalimatnya, Arael membisikkan nama bayangannya, Skiroff. Seketika jejak gelap Skiroff muncul di bawah kaki Arael. Bayangan gelapnya yang terpantul dari cahaya matahari kian membesar dan terus membesar hingga menyentuh bayangan Icaris. Secara instingtif, Arael langsung tahu apa yang harus dia lakukan setelah berhasil menangkap bayangan Icaris. Arael pun mulai mengendalikannya dengan pikiran.
Icaris tiba-tiba berdiri dengan kaku. Ia tidak bisa bergerak sama sekali dan pandangannya pun berubah menjadi kosong. Tombaknya terlepas dari tangannya dan berdenting jatuh di atas altar batu. Para elf yang menontong duel tersebut segera berbisik riuh. Mereka belum mengerti apa yang tengah terjadi pada Icaris, dan berharap bahwa jenderal mereka itu hanya sedang mencoba gaya pertarungan baru.
“Berbalik dan keluar dari arena,” pikir Arael memerintahkan tubuh Icaris. Ia membayangkan Icaris berbalik dan berjalan pergi melewati dinding cahaya sihir.
Detik berikutnya, pikiran Arael itu pun dilakukan oleh tubuh Icaris yang sudah berada dalam kendali Arael. Seruan pekik penonton segera terdengar. Arael tidak memedulikan teriakan para elf yang menuduhnya curang. Icaris benar, Arael sudah nyaris kehabisan energi. Staminanya sebagai manusia tidak sebanyak kaum elf. Meski begitu, untuk memanggil bayangan juga dibutuhkan energi sihir yang kuat. Berbeda dengan saat ia harus memanggil Luca, menggunakan kekuatan Skiroff ternyata jauh lebih menguras energi sihir Arael. Ia sepertinya hanya bisa mempertahankan Skiroff selama lima belas menit saja sebelum seluruh energi sihirnya habis. Arael benar-benar harus melakukan latihan panjang setelah ini.
Icaris akhirnya benar-benar keluar dari dinding pembatas sihir. Teriakan marah dari para elf lainnya terdengar sahut menyahut. Meski begitu, setelah tubuh Icaris keluar dari pembatas sihir, cahaya dari empat pilar itu pun meredup dan lenyap seketika. Duel mereka dinyatakan telah selesai, dengan Arael sebagai pemenangnya. Arael buru-buru menarik kembali bayangannya dan menyuruh Skiroff tertidur lagi di tubuhnya. Napasnya tersengal karena kelelahan melakukan pertarungan fisik sekaligus sihir.
Iolas dan Bryen segera menghambur memasuki arena untuk melihat kondisi Arael. Gadis itu kini terbungkuk lelah sambil bertumpu di kedua lututnya.
“Apa yang terjadi?! Kau! Kau melakukan kecurangan!” seru Icaris begitu terlepas dari pengendalian Arael. Elf bersayap itu berbalik marah sambil menunjuk ke arah Arael.
Arael menyeka peluh yang membanjiri tubuhnya. Padahal cuaca di atas puncak gunung itu sangat dingin, tetapi duel sengit dengan Icaris berhasil membuatnya bermandikan keringat.
“Tidak ada peraturan yang melarang menggunakan sihir,” kilah Arael sembari mengatur napas.
“Tidak bisa dibiarkan! Aku meminta duel ulang!” protes Icaris tidak terima.
Arael sudah pasti kalah kalau harus melawan Icaris sekali lagi. Sekarang saja kondisinya memprihatinkan. Ini waktu yang sangat genting.