
Mordesh mengantar Arael dan yang lainnya keluar dari hutan. Kabut tipis yang menyelimuti kota kembali muncul. Bryen sudah membuatkan semacam penutup wajah untuk Arael agar tidak terlalu banyak menghirup kabut beracun itu. Arael sedikit kesulitan bernapas, tetapi itu lebih baik daripada ia harus mengalami anemia akibat pendarahan hebat.
Perjalanan mereka terus masuk ke dalam kota. Mereka lantas tiba di depan sebuah gorong-gorong besar yang airnya sudah mengering. Gorong-gorong itu terletak di sisi selatan kota. Tidak banyak rumah ada di sana dan hanya ada tanah kosong dengan lubang mengaga setinggi satu orang dewasa.
“Dari semua tempat ini, kalian memilih gorong-gorong? Apa benar kalian adalah bangsa elf?” protes Iolas tidak terima.
“lni adalah lokasi teraman yang dapat digunakan. Gorong-gorong ini terhubung dengan gua-gua tambang permata di perut bukit. Kami tidak bisa menggunakan tempat yang terlalu mudah ditemukan. Para orge itu selalu mengendus kami setiap kali mereka berada terlalu dekat dengan gerbang,” ucap Mordesh sembari membuat pola sihi di depan gorong-gorong.
“Kabut ini … bukankah kalian juga telah membunuh banyak manusia dengan kabut beracun ini?” tanya Arael kemudian.
Tangan Mordesh berhenti sejenak. “Saya harap anda memahami betapa berbahayanya bila orge menguasai daerah ini. Kaum kami menjaga tempat ini turun temurun. Permata di dalam tanah ini mengandung sihir yang kuat yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak jahat. Kami terpaksa melakukan hal ini untuk menghentikan mereka mengambil lebih dari yang dibutuhkan,” terang Mordesh tanpa menoleh.
Arael tidak menjawab. Gadis itu hanya terdiam dan mempertimbangkan penjelasan Mordesh yang cukup masuk akal. Meski begitu, kedepannya para elf bayangan ini mungkin tidak akan terlalu disukai oleh manusia. Bahkan cenderung dibenci. Arael harus waspada karena elf bayangan sepertinya memang lebih kejam dibanding elf lain yang sudah dia temui.
Gerbang sihir pun terbuka di depan gorong-gorong. Sebuah pintu kayu berwarna gelap dan tanpa ornamen apa pun. Mordesh mendorong pintu itu begitu saja, tanpa kesan dramatis sedikit pun. Arael dan yang lainnya pun mengikuti Mordesh memasuki tempat tinggal para elf bayangan.
Kegelapan menyambut mereka hingga rasanya nyaris menelan Arael bulat-bulat. Tidak ada cahaya apa pun yang menerangi jalan mereka. Satu-satunya penunjuk arah ialah suara langkah kaki Mordesh yang ada di depan Arael.
Mendadak Mordesh berhenti dan berbicara dengan bahasa elf yang tidak dipahami Arael. Seseorang menyahut ucapan Mordesh dengan bahasa yang sama. Selang beberapa menit kemudian Mordesh memberikan sesuatu pada Arael dan kedua rekannya yang lain.
“Silakan menggunakan ini. Ini adalah Kristal sihir untuk membantu Anda melihat dalam gelap,” kata Mordesh sembari meraih tangan Arael dan meletakkan sebuah benda kecil yang terasa dingin dank eras.
Arael yang tidak bisa melihat wujud benda itu hanya bisa merasakan dengan telapak tangannya. “Bagaimana cara menggunakan Kristal ini?” tanya Arael kemudian.
“Anda dapat menelannya,” terang Mordesh singkat.
“Me … apa?” tanya Arael tidak yakin dengan yang barusan didengarnya.
“Biar saya mencobanya lebih dulu, Putri,” kata Bryen menawarkan diri.
Tak lama kemudian terdengar suara tegukan dari Bryen. Elf itu lantas mengerang pelan dan membuat Arael sedikit khawatir.
“Bryen apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihatmu,” ujar Arael cemas.
Iolas yang sedari tadi berjalan di sisi Arael sembari menggandeng tangannya segera berubah waspada.
“Saya tidak apa-apa, Putri. Kristal sihir ini aman. Sekarang saya sudah bisa melihat dalam kegelapan. Anda bisa menelannya juga. Hanya saja terasa sedikit menyakitkan ketika Kristal ini beraksi dengan penglihatan kita,” ucap Bryen menenangkan.
Arael sedikit ragu. Namun sepertinya itu adalah satu-satunya cara untuk bisa melewati hambatan kegelapan ini. Maka dengan satu tegukan Arael pun menegak Kristal kecil itu. Rasnya seperti memakan buah berry tanpa dikunyah. Meski terasa keras saat digenggam, tetapi begitu masuk ke dalam mulut dan menjadi lembab, Kristal tersebut menjadi sedikit kenyal.
Beberapa detik setelah menelan Kristal sihir itu, rasa pedih menyerang kedua mata Arael. Gadis itu pun tak kuasa mengeluarkan pekikan kesakitan. Iolas dengan sigap memegangi tubuh Arael.
“Muntahkan saja kalau kau tidak kuat menahan sakitnya,” kata Iolas terdengar cemas.
Arael mengankat satu tangannya, memberi tanda bahwa ia baik-baik saja. Rasa pedih itu ternyata tidak berlangsung lama. Setelah mereda, Arael pun mengerjap beberapa kali. Ajaibnya, pandangannya kini tidak lagi gelap. Ia bisa melihat Iolas, Bryen dan Mordesh yang berdiri di hadapannya. Sensasi pemandangan yang dilihat Arael setelah menelan Kristal sihir itu benar-benar unik. Entah mengapa Arael merasa ia sebenarnya tengah melihat dengan pikirannya dan bukan dengan kedua matanya.
Penglihatannya begitu terbatas pada hal-hal yang ia sadari, seperti sosok Iolas, Bryen dan Mordesh. Selebihnya hanya ada kegelapan. Ia tidak bisa melihat bagaimana wujud ruangan di sekitarnya, atau elf-elf lain yang mungkin ada di sana. Ia hanya bisa melihat apa yang sudah dia ketahui memang berada di sana.
“Anda bisa memanggil penglihatan anda dengan memikirkan hal-hal yang anda butuhkan. Misalnya anda perlu berjalan ke depan, maka silakan memikirkan tentang jalan yang akan anda tapaki. Dengan begitu pandangan anda akan terbuka,” jelas Mordesh kemudian.
“Ini luar biasa,” komentar Arael takjub.
“Kristal ini adalah perpadatan energi sihir kami. Kaum elf bayangan terlahir dari kegelapan. Karena itu kami sudah memiliki kemampuan penglihatan ini sejak lahir,” terang Mordesh melanjutkan.
Arael masih takjub dengan cara kerja Kristal tersebut. ia lantas menyadari bahwa ternyata kedua mata Iolas dan Bryen kini berubah menjadi hitam penuh, tanpa bagian putih.
“Apa mataku juga berubah seperti kalian?” tanya Arael penasaran.
Bryen dan Iolas sontak mendengkus geli. “Dari sekian banyak hal yang harus dipikirkan, kau penasaran pada penampilanmu sekarang? Tentu saja matamu menjadi seperti kami. Itu adalah efek dari sihir Kristal,” kata Iolas sambil tertawa kecil.
“Aku hanya penasaran,” kilah Arael sedikit malu. “Ngomong-ngomog, apakah sihir ini permanen? Maksudku kalau aku memiliki mata seperti ini dan nanti ketika harus keluar dari sini, mungkin akan terjadi sedikit masalah,” lanjut Arael masih memastikan.
Mordesh tampak ikut menahan tawanya. Setelah berhasil menguasai diri ia pun menjawab. “Efek sihirnya hanya bekerja selama delapan jam. Anda tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Arael mengangguk lega. Mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri lorong. Mordesh membawa Arael melewati banyak persimpangan. Beberapa kali Arael mendengar Mordesh berbicara dengan elf lain menggunakan bahasa mereka. Namun ketika Arael berusaha melebarkan pandangannya, ia tetap tidak bisa melihat lawan bicara Mordesh. Satu-satunya jalan hanyalah mempercayai pemandunya itu.
Perjalanan mereka akhirnya sampai di sebuah balairung besar yang sepenuhnya gelap. Arael memusatkan pikirannya untuk memperluas penglihatan, dan ia pun berhasil menangkap pemandangan balairung yang bertatahkan Kristal beraura gelap. Sebuah batu besar semacam altar berdiri di tengah ruangan dengan dikelilingi oleh aliran air yang memutari dasarnya. Arael bisa mendengar aliran air tersebut bergemericik dengan tenang.
“Diberkatilah dalam cahaya Ingwë, Yang Mulia Raja Blakvon,” ucap Mordesh diikuti Iolas dan Bryen.
Arael buru-buru melakukan hal yang sama dan berfokus untuk menemukan sang pemilik balairung tersebut, raja kaum elf bayangan.
“Kenapa kau mencariku, manusia?” tanya sang raja dengan suara yang begitu halus.
Arael mendongak dan mendapati seorang elf berkulit gelap dengan rambut gelap sepanjang bahu. Berbeda dengan kebanyakan elf yang sudah ditemui Arael. Rambut sang raja begitu ikal dan tidak teratur. Cambang lebat bahkan tumbuh memenuhi wajahnya yang begitu gelap.
“Salam penguasa Dru-Tel-Quassir. Saya adalah Arael, putri Sion, yang pertama dalam namanya, penguasa tanah Luteria,” kata Arael memperkenalkan diri.
“Jadi kau keturunan Sion yang terakhir? Apa yang kau inginkan dari kami sampai kau membawa restu Penguasa salju?” tanya Raja Blakvon yang berdiri di balik altar batu.
“Tidak ada yang saya inginkan, Yang Mulia, selain daripada restu untuk mengembalikan kedamaian di tanah Luteria,” jawab Arael.
Raja Blakvon tertawa pelan. Suara tawanya nyaris seperti mendesis.
“Apa kau bermaksud mengambil kembali yang menjadi hakmu, keturunan Sion? Sejak dulu kami tidak tertarik dengan urusan bangsa kalian. Satu-satunya yang kami lakukan di sini adalah menjaga permata sihir yang terpendam di tanah ini. Pertikaian kalian tidak ada hubungannya denganku,” jawab sang raja sembari berjalan menuju singgasananya di ujung balairung.
Arael terdiam selama beberapa saat. Ia tahu bahwa tidak akan mudah meyakinkan para elf bayangan ini. Ia harus berhati-hati memilih kata-kata.
“Bukan kekuasaan yang saya inginkan, Yang Mulia. Tapi kebebasan. Bagi kaum manusia dan makhluk sihir lainnya. Terutama bagi bangsa elf. Kristal-kristal ini pun berhak untuk bebas. Saya yakin perlindungan Yang Mulia terhadap semua kekuatan Kristal ini sangat penting. Namun beberapa Kristal ini mungkin memiliki takdir untuk bebas, menemukan energi yang cocok dengan mereka untuk berkembang,” kata Arael kemudian.
Iolas dan Bryen yang berdiri di belakang Arael langsung tercekat kaku saat gadis itu mulai menyinggung tentang Kristal. Bukan tanpa alasan suku elf bayangan ini begitu sensitif terhadap masaah Kristal sihir. Kekuatan Kristal sudah seperti bagian dari diri mereka. Memberikan Kristal-kristal sihir pada orang lain sama saja seperti membagikan kekuatan secara cuma-cuma. Iolas dan Bryen hanya bisa berharap sang raja tidak terlalu murka mendengar Arael menyinggung mengenai hal tersebut.
“Apa kau mengenal Kristal-kristalku, putri Sion? Mereka lebih berharga daripada anakku sendiri. Kristal ini adalah bagian diri kami, Dru-Tel-Quassir. Apa kau berpikir untuk mencuri mereka dariku?” desis Raja Blakvon kemudian.
Arael mendongakkan wajahnya dengan berani dan menatap kedua mata sang raja. “Bahkan jika Anda mencintai putra anda sendiri, Anda tidak mungkin mengurungnya hanya agar ia tidak terluka. Karena itu Anda harus membiarkan jiwa-jiwa Kristal ini untuk mencari pemilik mereka, daripada menyiksa semuanya karena kekhawatiran Anda,” kata Arael lantang.