
Setelah berjalan selama beberapa saat, mereka akhirnya tiba di istana. Tidak ada balairung yang menyambut mereka. Bahkan tidak ada ruangan apa pun di istana itu. Seluruhnya hanya berupa kubah yang disangga oleh pilar-pilar gading besar dengan taman indah di bawahnya. Sebuah air terjun kecil menghiasi salah satu sisi kubah itu, mengeluarkan suara gemericik yang menenangkan.
Seorang elf cahaya dengan segal keagungannya, duduk di sebuah batu besar dengan wajah mengarah pada sungai kecil yang berisi ikan-ikan becahaya lainnya yang seperti manik-manik Kristal aneka warna. Mereka berenang kesana-kemari sambil mengeluarkan keindahan sisiknya yang berkilau.
“Putri Sion telah tiba, Yang Mulia,” ujar Haldir sembari memberi salam kepada rajanya.
Arael menyadari bahwa salam di suku ini tidak menyebut nama Ingwë, sang Dewi pelindung kaum elf. Belakangan Arael mengetahui alasannya. Ingwë adalah bagian dari suku elf cahaya yang diberkati karena kebijaksanaan dan kebaikan hatinya. Ia diangkat ke tempat yang mulia dan menjadi simbol kewelasasihan bangsa elf. Sejak saat itu seluruh suku elf memberikan penghormatan kepadanya sebagai pelindung seluruh kaum mereka.
“Selamat datang Putri Sion,” kata Raja Glóredhel lantas bangkit berdiri dari batu besar tempatnya semula duduk.
Arael mungkin tidak bisa membedakan wujud para elf cahaya lainnya. Namun sang raja jelas berbeda. Tubuhnya jauh lebih besar, tinggi dan bercahaya daripada yang lain. Keagungannya terasa begitu indah, hingga tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Arael tidak merasakan ancaman sama sekali seperti yang wajar dirasakan setiap bertemu dengan para pemimpin suku lainnya. Alih-alih, perasaan damai yang menenangkan mewarnai kehadiran Raja Glóredhel. Beliau begitu, tenang, dengan pendar cahaya indah yang sekalipun menyilaukan, tetapi tidak menyakitkan.
Dengan takzim, Arael serta merta berlutut pada sang raja, diikuti oleh Iolas dan Bryen yang juga secara otomatis merasakan dorongan ketakziman yang sama. Sang raja lantas berjalan mendekat dan memberikan berkat cahaya kepada ketiganya. Ia mengangkat satu tangannya dan meletakkannya secara bergantian ke kepala Arael, Iolas lalu Bryen. Seketika tubuh Arael dipenuhi energi vitalitas yang tinggi. Seluruh rasa sakit, kegetiran bahkan pikiran-pikiran buruknya sirna begitu saja. Arael merasa begitu damai, tenang dan aman berada di sana, seolah ia sudah menemukan tempat yang amat dia rindukan selama ini.
“Benih cahaya selalu ada di setiap jiwa. Itulah persamaan kita semua yang hidup di tanah ini. Baik elf, manusia bahkan naga sekalipun punya setitik cahaya dalam dirinya. Tetesan jiwa semesta yang memecah menjadi individu-individu yang berbeda. Suku elf cahaya adalah jiwa yang sedikit lebih murni daripada yang lain. Karena itu, berkatku mungkin akan membangkitkan kenangan jiwamu tentang darimana kau berasal. Resapi ini, Nak, tapi jangan terhanyut. Tugasmu di dunia belum selesai,” tukas Raja Glóredhel penuh kebajikan.
Rasa haru memenuhi dada Arael. Ia tidak tahu dengan jelas apa alasannya, tetapi kata-kata Raja Glóredhel membuatnya begitu sedih. Ia ingin tetap tinggal di sana. Arael tidak ingin pergi dari pulau itu. Ia berharap agar tugasnya menemukan suku elf lainnya berakhir sampai di sini saja. Ia sudah tidak punya ambisi lagi untuk mengalahkan Charles. Semua bebannya ingin ia lupakan. Arael tidak ingin lagi ikut campur dalam urusan dunia di bawah sana yang terlalu pelik. Inilah rumahnya. Ia ingin berada di sini.
Iolas tampaknya menyadari kelemahan hati Arael. Sang putri yang begitu mudah melalui kegelapan jiwanya, justru menjadi sangat rapuh saat dihadapkan dengan kekuatan cahaya. Mungkin karena Arael sudah terlalu terbiasa hidup dalam kepedihan. Jiwanya sudah terbiasa dengan rasa sakit dan kegelapan. Berkat cahaya membuatnya merasakan cinta kasih yang tidak pernah ia cecap selama ini. Iolas harus menyadarkan Arael atau gadis itu mungkin akan memutuskan untuk melepas semua perjuangannya dan tinggal di sini. Para elf cahaya yang berhati mulia kemungkinan besar tidak akan mencegahnya.
Sesuai dugaan, kata-kata Iolas menyelentik kesadaran Arael. Buru-buru gadis itu mengusap air mata yang menetes perlahan di kedua pipinya. Tidak seharusnya Arael membiarkan dirinya menjadi lemah. Ia bahkan menangis setelah berpikir bahwa air matanya sudah kering. Berkat cahaya begitu memenuhi dirinya, dan tidak seharusnya berkat itu disimpan untuk dirinya sendiri. Arael masih memiliki tugas yang belum purna.
“Berkat cahaya telah memenuhi kami, Yang Mulia. Kebajikan Anda memberi saya kekuatan untuk memahami makna perjuangan saya selanjutnya,” kata Arael setelah berhasil menguasai diri.
“Bagus, Anakku. Tinggallah di sini selama yang kau mau. Lalu lanjutkan perjalananmu ketika kau sudah siap. Setelah ini pun berkatku akan selalu ada pada kalian. Ingatlah perasaan itu dan sebarkan ke dunia bawah. Berkatku akan memandumu memilih jalan yang tepat dan menghindarkanmu dari orang-orang yang ingin mencelakakanmu.
“Aku terikat sumpah untuk tidak ikut campur pada masalah-masalah dunia. Namun berkat cahayaku akan memastikan keberhasilan seluruh langkahmu. Kelak, kau akan menjadi pemimpin yang bijaksana dan penuh kebajikan. Saat waktunya tiba nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Aku menunggumu di tempat semestinya kita berada,” ujar sang raja kemudian.
Arael menunduk semakin dalam. Ketakzimannya membuat lidahnya kelu dan kehilangan kata-kata. Hanya rasa syukur yang memenuhinya kini. Beberapa saat kemudian, Arael menyadari bahwa tubuh sang raja semakin lama semakin membuyar. Denyar cahayanya menguat dan semakin terang. Detik berikutnya Raja Glóredhel menghilang dari hadapan mereka secepat kedipan mata.
“Beliau telah kembali,” kata Haldir menjelaskan.
“Kembali?” tanya Arael lantas bangkit berdiri.
“Kepada keabadian. Tempat sang cahaya kehidupan,” lanjut Haldir.
Arael mengerti tanpa perlu bertanya lagi. Sang raja sudah bersama Ingwë, dewi kaum elf. Bahkan mungkin juga dewi bagi semua makhluk di Luteria. Mereka sudah berada di tempat semua jiwa akan kembali setelah selesai mengembara di dunia ini.