
Kata-kata Rangwe itu pun menjadi kenyataan. Seluruh interior ruangan yang semula dipenuhi ornamen emas, berubah menjadi perak. Warna merah yang dominan pun beralih menjadi biru, seolah ruangan tersebut sedang dimantrai dengan sihir pengubah bentuk.
“Ar-Tel-Quassir hidup dan mendapat kekuatan mereka dari matahari. Saat matahari terbenam, mereka akan tertidur sementara hingga pagi datang. Sebaliknya, elf bulan hanya bisa muncul saat malam tiba. Mereka tertidur sepanjang siang,” terang Iolas yang dengan santainya memakan butir-butir anggur sembari merebahkan tubuh di atas ranjang.
“Sejak dulu elf bulan dan elf matahari tidak memiliki hubungan yang terlalu baik. Anehnya mereka harus tinggal di tempat yang sama agar bisa menjaga daerah ini dari serangan ras lain,” terang Bryen yang kini duduk di sebelah Arael dan mulai mengobati luka-luka gadis itu dengan sihir airnya.
“Kalian juga pernah ke sini?” tanya Arael pada Iolas dan Bryen.
“Tidak perlu datang ke kerajaan mereka untuk mengetahui informasi semacam itu,” timpal Iolas.
Malam semakin redup. Nuansa ruangan yang semula hangat dan penuh vitalitas, berubah menjadi dingin dan sendu. Arael merasakan perubahan tersebut terjadi secara perlahan. Matahari dan bulan seperti dua kutub yang berbeda tetapi saling tarik menarik.
Tak berapa lama kemudian, seberkas cahaya berwarna biru tiba-tiba muncul di tengah ruangan. Cahaya itu awalnya hanya berupa bola energi kecil yang kian lama kian membesar hingga membentuk sosok pria elf berambut perak dengan kulit pucat dan mata abu-abu. Elf itu mengernyit ketika melihat ada empat orang tamu tak dikenal berada di dalam kamarnya.
“Sepertinya Enna dan Valna membawa orang asing lagi,” keluhnya sembari bedecih ringan.
“Maaf karena masuk ke kamarmu tanpa izin, Elaith,” sapa Rangwe sembari bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Perhatian Elaith terarah pada elf liar itu. Ia menelaah selama beberapa detik, lantas ekspresinya pun melunak.
“Ternyata kau, Rangwe. Apa yang membawamu ke sini?” tanya Elaith masih dengan sikap dinginnya. “Dan tolong jangan cemari tempat tidurku dengan darah serta debu,” lanjutnya sembari menunjuk pada Iolas.
Iolas pun turun dari ranjang, lalu duduk bersama Arael serta Bryen. Luka-luka Arael sudah menutup. Kini giliran Iolas yang mengantre untuk disembuhkan.
“Aku datang bersama Putri Sion,” ujar Rangwe tanpa basa-basi.
Elaith menoleh pada Arael. “Ya. Aku melihatnya. Jadi ramalan itu memang sudah dimulai. Ar-Tel-Quassir pasti tidak akan keberatan membantu kalian. Mereka pada dasarnya suka berinteraksi dengan manusia,” komentar Elaith sembari berjalan ke jendela lalu memandang bulan.
Langit malam terlihat lengang. Hanya ada bulan purnama yang menggantung. Begitu besar dan cemerlang dengan cahaya putih kebiruan.
“Kami belum bertemu dengan suku Ar-Tel-Quassir. Sejujurnya kami baru saja tiba di sini menjelang malam tadi,” Rangwe menjelaskan.
Elaith masih tampak menerawang. Kedua tangannya tertaut di belakang punggung. Angin gurun yang lembut masuk melalui jendela dan membawa hawa dingin menggigit.
“Kau harus bertemu dengan Yang Mulia Ratu Valaera terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan kaum kami,” ujar Elaith. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan pada perkemahan oasis? Aku mencium bau menjijikkan sedang menyerbu ke sana. Orge-orge dan sihir hitam. Kalian membunuh Arkeem?” tanya Elaith menoleh ke arah Arael sembari melemparkan tatapan menuduh.
Sontak Arael, Iolas, dan Bryen pun bangit berdiri dari tempat duduk mereka. Bahkan Rangwe turut berjalan mendekati jendela yang sedari tadi ditatap oleh Elaith. Namun Arael tidak melihat apa-apa selain kegelapan dan siluet padang gurun.
“Setelah kau mengatakannya, aku juga mencium bau orge itu,” komentar Rangwe memicingkan hidungya.
“Meski begitu, bukan kami yang membunuh Arkeem,” lanjut Rangwe membela diri.
“Kami membawa penyihir itu hidup-hidup ke perkemahan padang gurun. Tapi orang-orang di perkemahan itu memutuskan untuk membakarnya hidup-hidup.” Iolas menyela.
Elaith tampak menarik napas berat. “Ketiadaan Arken sama saja dengan mengakhiri hidup para manusia di perkemahan itu. Meski kejam tapi penyihir itu tetap membiarkan mereka hidup karena dari sanalah ia mendapat kelimpahan. Terkadang aku sulit memahami manusia.”
Arael sependapat. Bahkan dirinya yang manusia pun tidak sepenuhnya setuju dengan cara kejam orang-orang gurun yang membakar seorang penyihir hidup-hidup. Hatinya kembali pilu membayangkan seluruh perkemahan itu mungkin akan musnah malam ini.
“Sudahlah. Cukup berkabungnya. Aku akan membawa kalian menemui Ratu Valaera,” ujar Elaith sembari berjalan keluar kamar.
Arael dan seluruh rombongannya pun mengikuti elf bulan itu keluar dari bilik berdinding batu. Aula di luar kamar itu, yang semula dipenuhi ornamen emas dan elf-elf berambut merah, kini sudah berganti dengan dominasi warna perak dan elf berkulit pucat. Semua mata tertuju pada Elaith saat membawa tamu-tamunya keluar kamar. Meski begitu, tak satu pun dari mereka yang mencoba mendekati atau bertanya.
Elf bulan memiliki karakter kepribadian yang berbeda dengan elf matahari. Mereka dingin, tak acuh dan eksklusif. Arael jarang melihat elf bulan yang bererombol. Mereka rata-rata hanya berdiam sendiri menatap bulan atau membaca perkamen-perkamen usang berbahasa elf.
Elaith membawa rombongan tersebut ke sebuah piramida berundak tinggi di pusat kerajaan tersebut. Seorang elf perempuan anggun dengan kulit pucat dan rambut perak yang sangat panjang berdiri menengadah dengan mata terpejam. Elf itu memiliki mahkota berkilauan ditimpa cahaya bulan.
“Kau membawa tamu, Elaith. Apakah mereka adalah pendatang dari Ar-Tel-Quassir?” tanya sang perempuan tanpa mengubah posisinya.
“Mereka bilang gadis ini adalah Putri Sion, manusia dalam ramalan itu, Yang Mulia,” jawab Elaith sembari membungkuk sopan.
Sekonyong-konyong kepala sang putri kembali menunduk lantas menatap langsung ke arah Arael dengan bola mata peraknya yang jernih. Ada kesan magis dari diri elf tersebut yang membuat Arael merasa sedikit bergidi.
“Salam, Yang Mulia Ratu Valaera.” Arael menyapa lebih dulu.
“Kemarilah, Putri Sion.” Sang ratu bersabda.
Arael pun naik ke punden lebih tinggi. Dari atas sana terlihat jelas hamparan padang pasir yang diterangi cahaya bulan purnama. Langit tampak lengang tanpa bintang karena hanya bulanlah yang bertahta di angkasa.
“Orang-orangmu dimusnahkan karena kekejaman mereka sendiri. Apakah bangsa semacam itu patut diperjuangkan?” tanya Ratu Valaera sembari memandang ke tempat yang jauh tanpa bisa terjangkau oleh Arael.
Gadis itu bergeming. Pertanyaan serupa telah ia tanyakan berulang kali sejak Arael kembali dari suku elf cahaya.
“Jiwa manusia mungkin tidak semurni para elf, tapi kami juga layak menerima cahaya meski nyaris ditelan kegelapan.” Ia tidak yakin jawabannya benar, tetapi itu adalah satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan.
“Pada akhirnya manusia hanya selalu saling membunuh. Mereka meluluhlantahkan bukan hanya kaum mereka sendiri, tapi juga seluruh peradaban di tanah ini. Ramalan itu … mari kita coba wujudkan dan lihat apa yang akan terjadi setelah kau berhasil membawa kedamaian,” ungkap Ratu Valaera sembari menatap Arael dengan dalam. Segurat senyum tipis terbit di bibirnya.
Arael tersenyum lega lantas membalas ucapan sang ratu dengan membungkuk sopan. “Terima kasih, Yang Mulia.”