
Arael tidak bisa membuang waktu lagi. Sudah waktunya ia kembali ke Or-Tel-Quassir untuk memulai rencananya. Luell menjanjikan untuk segera mengirim orang-orangnya ke seluruh penjuru Luteria. Arael dan tiga rekan elfnya yang lain harus segera keluar dari kota untuk melanjutkan perjalanan.
Seperti sebelumnya, mereka harus menyelinap keluar dan melawan beberapa orge hingga akhirnya berhasil terbang menunggangi Kaladrius. Tidak ada kesulitan berarti yang menghadang perjalanan pulang mereka. Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan adalah kondisi tubuh Arael yang semakin menurun sejak menerima Scimitar.
Gadis itu menderita demam parah yang membuatnya tidak sadarkan diri selama tiga hari penuh. Rombongan itu terpaksa berhenti di sebuah hutan untuk merawat Arael. Bryen terus-terusan memberikan energi penyembuhnya agar Arael bisa melewati masa krisis. Ia juga meracik beberapa ramuan untuk menjaga vitalitas Arael yang semakin menurun.
Iolas terus berada di sisi Arael tanpa beranjak sedetik pun. Saat gadis itu kesulitan menelan ramuan obat, Iolas-lah yang bertugas meminumkannya dari mulut ke mulut. Itu adalah cara paling efektif untuk memasukkan cairan ke dalam tubuh Arael. Rangwe pergi berburu setiap hari dan membawa bermacam-macam hewan besar untuk dipanggang. Sayangnya Arael tidak bisa makan apa-apa karena kondisinya yang tidak sadarkan diri.
Bahkan Iolas pun ikut kehilangan selera makannya karena mengkhawatirkan Arael. Tiga hari penuh Iolas tidak tidur karena terus mengawasi gadis itu.
“Kau juga harus beristirahat Iolas. Aku tidak bisa merawat dua pasien sekaligus,” ujar Bryen mengingatkan.
Iolas tak menjawab. Semangatnya seperti pudar bersamaan dengan kondisi Arael yang kian memburuk.
“Dia akan baik-baik saja. Ini proses yang wajar ketika menerima kekuatan besar yang berlawanan. Sejujurnya aku cukup takjub dengan kemampuan gadis ini bertahan setelah mendapat beragam kekuatan besar. Tubuhnya seperti cawan yang bisa menampung begitu banyak energi sihir.” Rangwe turut menimpali.
Iolas masih termenung sembari terus menggenggam tangan Arael.
Tiga hari kemudian akhirnya keadaan Arael berangsur pulih. Gadis itu membuka matanya secara perlahan dan mendapati Iolas duduk di sebelahnya dengan wajah pucat.
“Iolas?” gumam Arael dengan suara parau.
Iolas terkesiap lantas buru-buru mengambil air untuk Arael. Pemuda itu membantu Arael duduk dan minum air dalam botol minum miliknya.
Bryen datang tak lama kemudian. Ia membawa banyak akar tumbuhan dan daun-daun kering. “Putri, Anda sudah sadar? Bagaimana perasaan Anda sekarang?” tanya pemuda elf itu sembari menyongsong Arael dengan ekspresi lega.
Arael mengangguk pelan. Wajahnya juga pucat pasi seperti kehabisan energi. “Sekarang sudah lebih baik. Sebelumnya tubuhku rasanya seperti dicabik-cabik dari dalam,” ungkap Arael dengan suara pelan.
“Itu karena benturan energi cahaya dan energi gelap yang baru Anda dapatkan. Tapi syukurlah Anda berhasil menyeimbangkannya. Luca dan bayangan Anda pasti juga sudah banyak membantu dari dalam,” terang Bryen kemudian.
“Apa kau yakin dia sudah baik-baik saja?” tanya Iolas masih tampak cemas.
“Tidak diragukan lagi, dia adalah Putri dalam ramalan.” Rangwe muncul dari balik hutan sembari menggendong seekor babi gemuk yang sudah dikuliti. “Bagaimana perasaanmu sekarang, Putri?” tanyanya sembari melempar tubuh babi hutan itu ke dalam wadah anyaman bambu besar, siap untuk dibakar.
“Rasanya seperti terlahir kembali,” sahut Arael tersenyum simpul.
Rangwe tertawa keras sembari menepuk bahu Iolas. “Sudah kukatakan dia akan melewati masa-masa sulit itu. Apa kau tahu, Putri, Iolas menunggumu sepanjang waktu. Dia bahkan tidak makan dan tidak tidur selama kau sakit.”
Arael menoleh ke arah Iolas yang tampak kelelahan. Pemuda itu terlihat sangat pucat dan tidak punya tenaga lagi untuk membalas ucapan Rangwe. Meski begitu, Arael merasa senang.
“Terima kasih, Iolas,” ucapnya tulus.
Iolas hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. “Syukurlah kau baik-baik saja,” sahutnya lega.
Seperti kata Bryen dan Rangwe, tubuh Arael memang istimewa. Gadis itu sudah bisa mulai berlatih pedang lagi tepat sehari setelah sadar dari demamnya. Iolas bahkan tidak bisa mencegah Arael mencoba pedang barunya itu dan akhirnya memilih tidur sambil bersungut-sungut.
Perjalanan mereka akhirnya dilanjutkan lagi setelah Arael benar-benar pulih. Kaladrius membawa mereka kembali ke dekat rawa-rawa tempat para suku elf hutan. Iolas kembali ke kampung halamannya.
Ratu Arendel menyambut kedatangan Arael dengan sangat gembira. Sudah lebih dari satu musim mereka pergi. Para elf hutan itu langsung sibuk mempersiapkan kamar bagi tamu-tamunya. Bryen dan Rangwe juga disambut dengan baik. Arael bahkan bertemu dengan beberapa elf matahari yang sudah menunggunya di sana.
Sesuai janji mereka, para elf matahari dan bulan rupanya sudah menyebarkan prajurit mereka di sebelas suku lainnya. Mereka semua bersiap melakukan serangan serentak yang akan dilakukan sesuai perintah Arael. Enna dan Valna merupakan utusan elf matahari yang menunggu Arael di kerajaan Or-Tel-Quassir. Menyenangkan rasanya bertemu lagi dengan wajah-wajah lama yang sudah dikenal Arael.
Pada malam harinya, Elaith, utusan dari elf bulan muncul menggantikan Enna dan Valna. Kedua suku elf tersebut sepertinya memang tak terpisahkan. Mereka seperti dua sisi mata uang yang sama.
Setelah semua pihak berkumpul bersama di kerajaan elf hutan, mereka pun mulai menyusun strategi dan mempersiapkan persenjataan. Sayangnya, pergerakan besar-besaran suku elf tersebut mau tidak mau akhirnya terendus oleh pihak kerajaan. Charles mulai memanggil para penguasa wilayah lain untuk datang ke kerajaan dan mempersiapkan pertempuran. Para penyihir gelap itu kini berkumpul di ibukota kerajaan Luteria, Leopolis.
Kabar tersebut diketahui Arael setelah kedatangan Ylyndar beberapa hari kemudian. Tugasnya sebagai pengintai membuat Ylyndar bisa melihat pergerakan kerajaan secara lebih dekat. Kini Leopolis menjadi kota yang dilingkupi energi gelap yang sangat pekat, karena banyaknya jumlah penyihir gelap yang datang.
Jumlah orge juga meningkat pesat. Semua kota di seluruh benua diperketat penjagaannya oleh para orge, terutama di Leopolis. Para orge menjadi lebih beringas karena kini energi elf yang mulai muncul dari persembunyian terasa begitu besar dan menekan. Ylyndar juga menjelaskan bahwa para Lythari sudah berdatangan. Elf pengubah wujud itu menyelundup ke kota-kota manusia dan mulai membuat tempat perlindungan khusus untuk para warga secara diam-diam. Mereka menggunakan sihir yang tidak terdeteksi untuk membuat tempat tersebut.
Hanya tersisa sepuluh hari lagi sebelum konstelasi langit menjadi serupa dengan peta bintang yang dimiliki Arael. Tepat pada saat itu, Arael harus memberi perintah pada seluruh suku elf untuk memulai penyerangan ke kerajaan. Tepat dua hari sebelum konstelasi sejajar terjadi, Cassandra datang bersama enam utusan suku lainnya. Haldir, dari suku elf cahaya; Hakaris, sang elf salju; Mordesh, pemilik kekuatan bayangan; Icaris, dengan dua sayapnya yang megah; Quenya, peramal suku bintang; Finn, elf sarkastik yang bisa menjadi serigala; dan yang terakhir adalah Skylark dengan tubuh asapnya yang terkena kutukan. Mereka semua datang menemui Arael dan bersiap untuk perang yang sudah di depan mata.