
Beruntung Ratu Esthaenie muncul di waktu yang tepat. Sang ratu terbang turun dari singgasananya yang entah berada dimana, tidak terlihat karena tertutup awan-awan. Arael hanya bisa melihat Ratu Esthaenie muncul dari balik awan putih.
“Tidak perlu Icaris. Anak itu benar. Tidak ada larangan untuk menggunakan sihir. Sebaliknya, ia cukup cerdik melakukannya karena memilih waktu yang tepat saat kau berada di atas tanah. Kalau kau sedang terbang dan bayanganmu mendadak direbut, maka kau akan jatuh begitu saja,” kata sang ratu pada Icaris.
Icaris menahan geramannya dan memilih untuk menunduk hormat dan membiarkan Ratu Esthaenie berjalan melewatinya menuju ke hadapan Arael.
“Kau mungkin tidak sekuat para elf, Putri Sion. Tapi dari pertarungan tadi, aku bisa melihat kecerdikanmu. Kurasa hal yang sama terjadi di kerajaan Dru-Tel-Quassir. Karena itu kau bisa mendapatkan kemampuan bayangan itu. Kami sesame kaum elf telah berjanji untuk tidak saling mengganggu dalam waktu yang lama. Karena itu kesempatan untuk melawan sihir bayangan hampir tidak mungkin terjadi. Mereka menjaga ketat kemampuan itu dan hanya diturunkan pada kaum mereka saja. Karena itu aku akan memuji kecerdikanmu mendapatkan sihir bayangan itu,” kata sang ratu itu tampak puas, seolah gembira karena kaum elf lain juga terpedaya oleh strategi Arael.
“Anda terlalu memuji,” kata Arael rendah hati.
Ratu Esthaenie tersenyum simpul. “Sesuai janjiku, aku akan mengabulkan permintaanmu. Kurasa kau ingin kaum kami membantumu melawan para orge dan merebut kembali tahtamu,” kata sang Ratu kemudian.
“Tidak ada hal lain yang saya butuhkan selain dari pada bantuan tersebut, Yang Mulia,” ujar Arael tertunduk hormat.
“Baiklah. Kau mendapat restuku, Putri Sion. Dan karena aku terhibur oleh kemampuanmu, aku akan menambah tiga hal lagi sebagai hadiah,” sabda sang Ratu.
Arael mendongak tak percaya. Ia tidak membayangkan bisa membuat seorang ratu elf yang terkenal angkuh merasa terkesan padanya.
“Saya merasa terhormat menerimanya, Ratu,” ucap Arael kemudian.
“Pertama, aku akan memberimu hadiah kecil yang akan membantu perjalananmu,” kata Ratu Esthaenie sembari mengangkat sebelah lengannya.
Bunyi koak merdu terdengar menjawab uluran tangan sang ratu. Tak berapa lama kemudian, seekor burung berbulu putih terbang mengitar lalu hinggap di lengan Ratu Estaenie.
“Kaladrius punya dua wujud. Sehari-hari dia akan berwujud seperti burung merpati biasa. Tapi saat dibutuhkan, kau bisa mengubahnya menjadi seperti ini,” ujar sang ratu sembari mengibaskan lengannya dengan pelan lalu bersiul pendek.
Burung kecil itu kembali terbang mengitar seperti sebelumnya. Namun kali ini, kerumuna elf bersayap di sekitar tempat itu melangkah mundur dan memberi ruang yang lebih luas seolah sesuatu yang besar hendak mendarat di depan mereka. Dan benar saja, burung putih itu secara berangsur berubah menjadi sangat besar hingga nyaris menutupi cahaya matahari yang bersinar di atas kepala mereka. Tak berapa lama kemudian burung raksasa itu pun mendarat di sebelah Arael. Badan burung itu sangat besar dan jelas bisa mengangkut lebih dari empat orang di punggungnya saat terbang. Icaris bahkan datang membawa sebuah dudukan nyaman untuk dipasangkan ke atas tubuh Kaladrius.
“Akhir-akhir ini kami sedang membiakkan jenis burung ini. Kaladrius biasa berfungsi untuk menyembuhkan penyakit atau menyebarkan penyakit, tergantung bagaimana kau ingin menggunakannya. Kami sedikit menambakan kekuatan sihir pada telur-telur mereka dan menciptakan evolusi ini. Burung ini bisa membantu perjalanan kalian mengelilingi seluruh benua. Kau bisa menjalin kontrak sihir dengan Kaladrius agar burung ini bisa terikat padamu,” kata sang Ratu tampak bangga.
Arael tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Kedua matanya berbinar-binar seolah mendapat keberuntungan yang tak ternilai. Dengan Kaladrius, ia tidak perlu lagi bersusah payah berlari atau menunggang Luca dalam jarak yang terlalu jauh. Luca bisa muncul saat diperlukan saja. Dan lagi, Kaladrius tidak memakan energi sihirnya. Ia menatap Iolas dan Bryen sekedar untuk mengajak kedua pemuda elf tersebut merayakan hadiah dari Ratu. Iolas dan Bryen tampak sama gembiranya dengan Arael. Ia bersyukur kedua elf itu juga merasa senang sepertinya.
“Ini hanya hadiah kecil, Putri Sion. Selain ini, aku juga akan memberimu dua informasi berharga. Kau bisa memilih salah satu di antara keduanya sebagai petunjuk perjalananmu selanjutnya. Elf cahaya atau dalam bahasa kami disebut Ljósálfar, berada di tempat yang jauh lebih tinggi dari puncak gunung ini. Kami menjalin hubungan baik dengan suku mereka. Kaladrius bisa membawa kalian ke tempat para elf cahaya itu berada.
“Tapi sebelum itu, kau mungkin membutuhkan peri pelindungmu, Cassandra, untuk bisa mendapat sambutan yang baik dari suku Ljósálfar. Para peri pelindung adalah pecahan cahaya dari suku Ljósálfar. Saat ini, peri pelindungmu tengah ditangkap oleh raja manusia yang jahat itu. Ia berada dalam penjara tanpa sihir yang ada di kastil kalian,” terang Ratu Esthaenie panjang lebar.
Mendengar kabar tersebut, Arael rasanya seperti tersambar petir. Selama ini ia sudah melupakan Cassandra, peri yang telah mengorbankan dirinya untuk Arael. Ia sungguh berhutang budi pada Cassandra, tetapi bisa-bisanya Arael tidak berusaha mencari peri itu sebelum ini. Rasa sesal dan marah mendadak memenuhi Arael. Perkataan Iolas memang benar, semenjak mendapat kekuatan bayangan, Arael kini bisa merasakan emosi secara lebih intens. Kini ia tahu bagaimana kebencian itu terasa. Ia begitu marah pada dirinya, pada Charles dan para orge itu. Kemarahan membuat Arael ingin segera mendatangi mereka dan menghancurkan.
“Arael,” desah Iolas yang menyadari perubahan suasana Arael yang drastis. Pemuda elf itu lantas meraih jemari Arael untuk dia genggam. Kehangatan Iolas sedikit meredakan emosi gadis itu.
“Aku baik-baik saja, Iolas. Terima kasih. Sekarang aku harus membuat kontrak dengan Kaladrius lalu kita akan menyelamatkan Cassandra,” ucap Arael sembari menahan amarahnya sekuat tenaga. Ia harus tetap tenang agar tidak dikalahkan oleh kegelapan hatinya.
“Apa kau sudah siap, Putri Sion?” tanya Ratu Esthaenie kemudian.
Arael mengangguk singkat. Sang ratu lantas bersiul dan membuat Kaladrius kembali ke ukuran normalnya. Burung itu terbang mengitar selama beberapa menit lalu mendarat di lengan ratu.
“Kemarilah,” perintah sang ratu pada Arael.
Gadis itu menurut lalu berjalan ke hadapan burung putih bermata merah itu. Ratu Esthaenie membuat pola sihir dengan tongkatnya. Pola sihir itu memunculkan garis-garis bersinar kebiruan di antara wajah arael dan kepala burung Kaladrius.
“Sentuhlah pola sihir ini dengan telapak tanganmu.” Ratu Esthaenie kembali memberi perintah.
Arael mengikuti petunjuk tersebut dan menyentuh lingkaran sihir. Cahaya berwarna biru terpancar semakin terang dan menerpa tubuh burung Kaladrius itu. Burung itu menatap Arael dengan kedua mata merahnya, seolah mengenali bahwa gadis itu adalah majikan barunya.
“Sudah selesai,” kata sang ratu bersamaan dengan menghilangnya lingkaran sihir yang bersinar tadi.
“Begitu saja?” tanya Arael polos.
Sang ratu hanya tersenyum menanggapi. “Burung ini sudah menjadi milikmu,” ucapnya sembari membiarkan Kaladrius itu terbang menuju bahu Arael.
Meski tanpa kata-kata, Arael menyadari adanya ikatan antara ia dan Kaladrius kecil itu. Burung ini akan selalu mengikutinya mulai sekarang.