The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Kristal Ephestus



Arael muncul tak lama setelah ia berbicara dengan sosok berjubah yang ternyata merupakan bayangannya, kegelapan jiwanya. Sekonyong-konyong sebuah pintu muncul di ujung lorong dan secara instingtif Arael memasukinya. Ternyata pintu itu membawa Arael keluar dari pusaran sihir di Altar.


“Bagaimana mungkin Anda bisa muncul secepat ini?” Keterkejutan Mordesh menjadi kalimat pertama yang menyambut kemunculan Arael.


Iolas dan Bryen segera menyongsong gadis itu ketika menuruni undakan batu.


“Apa yang terjadi? Bahkan belum ada ada satu hari kau berada di dalam,” sergah Iolas tampak takjub.


“Selama itukah aku berada di sana?” tanya Arael. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Ia tidak merasa menghabiskan seharian penuh berada di dimensi kegelapan.


“Saya benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang telah saya lihat. Semua elf di sini pun mengakuinya,” kata Mordesh sembari membungkuk penuh rasa hormat.


Arael menyapukan pandangannya dan kini ia bisa melihat puluhan elf bayangan yang ternyata sudah berkerumun di dekat altar. Mereka semua saling berbicara dengan bahasa elf.


“Tunjukkan bayanganmu.” Raja Blakvon mendadak menyeruak dari balik kerumunan. Tubuhnya paling besar di antara yang lain. Meski begitu wajahnya menyiratkan keraguan.


Arael berbisik pada bayangannya, menyuruh sosok itu mengungkapkan diri pada khalayak. Bayangan Arael patuh. Sosok berjubah tanpa wajah itu pun muncul di sisi Arael. Bahkan kegelapan tempat itu pun tidak bisa menyembunyikan wujud bayangan gadis itu. Bayangan Arael jauh lebih pekat, lebih digdaya. Ia adalah wujud kepekatan hati Arael yang telah dipendam selama puluhan tahun. Emosinya yang tertahan hingga nyaris terlupakan.


Raja Blakdov tidak tampak terlalu gembira. Meski begitu, sang raja tetap mengakui bahwa Arael sudah melalui ujiannya dengan begitu cepat, lebih cepat dari elf manapun. Ia tidak bisa mengabaikan janjinya semula. Martabat kaumnya telah dipertaruhkan.


“Aku mengakui ramalan itu. Kehadiranmu telah ditentukan, Putri Sion. Dan kemampuanmu adalah bukti bahwa kau memang terlahir untuk membawa kembali tanah ini pada kedamaiannya. Sesuai janjiku, aku merestui pejuanganmu dan kaumku akan menjadi bagian dari pertempuran melawan yang jahat. Sekarang, Kristal-kristal ini akan menjawab panggilanmu. Pilihlah nama untuk bayanganmu. Nama yang telah ditakdirkan untuknya dan Kristal yang akan memberinya kekuatan,” kata Raja Blakdov kemudian.


Arael selalu mengagumi kebijaksanaan para elf. Bahkan meski mereka tidak menyukai rencananya, tetapi bangsa elf pada akhirnya akan menepati janjinya dan bergerak untuk kebenaran.


“Skiroff,” sosok bayangan Arael membisikkan namanya.


Seketika sebuah Kristal cemerlang dengan dua belas spektrum warna melayang dari langit-langit menuju hadapan Arael. Gadis itu memetik Kristal sebesar genggaman tangan yang tergantung di depannya. Seketika Kristal itu melebur, merasuk ke tubuh Arael. Tubuh Arael serasa diisi oleh kekuatan melimpah yang membuatnya sedikit tergoncang.


“Kristal Ephestus telah memilihmu. Ia adalah yang terkuat di antara yang lainnya. Pemilik terakhir Kristal tersebut adalah penguasa pertama Dru-Tel-Quassir, Dia yang Namanya Diagungkan. Kau layak menerimanya, Putri Sion,” sabda Raja Blakdov.


Seluruh kerumunan elf bayangan pun menunduk khidmad begitu kata-kata raja mereka selesai. Mereka menghormat pada Kristal Ephestus yang telah memilih Arael sebagai pemiliknya. Arael melirik bayangannya yang kini sudah bertambah besar berkali lipat. Secara instingtif Arael langsung tahu bagaimana menggunakan Skiroff di masa depan. Kekuatan bayangan ini akan banyak membantunya di kemudian hari.


“Terima kasih, Yang Mulia. Kehormatan ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, bahkan hingga keturunan saya selanjutnya. Atas nama Sion saya berjanji untuk menempatkan para elf sebagai penolong dan pelindung bangsa manusia,” ucap Arael turut menundukkan tubuhnya di hadapan Raja Bladov.


Setelah ujian Raja Blakdov selesai, Arael memutuskan untuk kembali ke hutan. Sang Raja menawari tempat tinggal bagi mereka bertiga. Namun Arael menolaknya dengan halus. Ia tidak terlalu bersahabat dengan kegelapan mengingat sebagian besar hidupnya pernah dihabiskan di penjara bawah tanah. Jika bisa memilih, Arael ingin berada di tempat yang lebih bebas. Kerajaan elf bayangan sedikit membuatnya sesak.


Sang Raja tidak menahan Arael. Meskipun tidak ramah, tetapi bangsa elf bayangan melepas kepergian Arael dengan lebih sopan. Mordesh kembali ditugaskan untuk membawa rombongan Arael keluar dari tempat tinggal mereka yang misterius.


“Selamat jalan, Putri Sion. Semoga berkat Ingwë selalu menyertaimu,” ucap Mordesh setelah mereka berada di luar gerbang kerajaan elf bayangan.


“Apa kalian tetap akan mempertahankan kabut beracun ini?” tanya Arael kemudian.


“Kami harus melakukannya sampai saatnya tiba. Ketika Anda telah siap untuk melawan makhluk jahat itu, maka tabir pelindung bansa elf bisa dibuka kembali,” jawab Mordesh.


“Aku mengerti,” sahut Arael pendek. Ia sudah kembali mengenakan penutup wajah yang dibuatkan oleh Bryen.


“Terima kasih, Mordesh. Aku berhutang banyak padamu. Bantuanmu akan kuingat sepanjang hidupku,” kata Arael kemudian.


“Anda sudah membalasnya dengan membebaskan kami, Putri Sion,” kata Mordesh dengan ramah. Ekspresi yang sangat jarang ditemui dari bangsa elf bayangan.


Arael tersenyum tipis. “Kau bisa memegang janjiku,” ucapnya singkat.


Mereka pun berpisah di tepi hutan. Mordesh kembali menhilang di balik kegelapan sementara Arael, Iolas dan Bryen membuat api unggun kecil di tanah lapang. Mata hitam mereka sudah hilang sepenuhnya. Kini mereka bisa melihat dengan normal.


“Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa kau bisa secepat itu keluar?” tanya Iolas diiring bunyi keretak ranting yang terbakar.


“Hanya mengulangi pengalamanku saat berada di penjara bawah tanah,” jawab Arael apa adanya.


“Anda pasti telah mengalami banyak penderitaan, Putri. Tidak ada orang yang bisa menaklukkan kegelapan jiwa secepat Anda,” komentar Bryen menimpali.


“Mungkin begitu. Aku hanya tidak merasakan apa-apa. Tapi sekarang aku kelelahan. Biarkan aku tidur sebentar,” gumam Arael yang sudah bersandar di salah satu batang pohon.


“Silakan beristirahat, Putri,” sahut Bryen kemudian.


Tak lama setelahnya, Arael pun terlelap.