
Hari yang ditentukan pun tiba. 1 Rishabha dalam kalender Luteria. Arael beserta para utusan dari setiap suku sudah bersiap-siap di sebuah kemah yang ada dalam perimeter perbatasan Ylyndar, sang pengawas. Di kejauahan, Charles sepertinya sudah mempersiapkan pasukannya sendiri. Para orge berkumpul di satu titik untuk melindungi kasti dari ancaman gempuran pasukan Arael.
Energi gelap melingkupi tempat berkumpulnya para orge dan kaki tangan Charles. Tempat itu seperti dilingkupi mendung gelap dengan hawa mencekam yang sangat kuat. Arael menatap ke arah cakrawala. Pertumpahan darah sudah ada di depan matanya. Saat matahari terbit nanti, perang itu akan dimulai. Ribuan prajurit elf yang sudah bersiap di belakangnya akan beradu dengan para orge dan trebuchet-trebuchet besar yang siap untuk menggempur pasukan lawan.
“Apa kita bisa memenangkan pertempuran ini, Iolas?” tanya Arael yang mendadak merasa gentar setelah berada di garis depan.
Iolas yang bertugas memimpin pasukan pemanah itu pun turut menatap ke arah pandangan Arael. “Kita pasti bisa mengalahkan mereka,” ujar Iolas menguatkan Arael.
Arael menarik napas panjang lantas mengangguk pelan. Bukan saatnya bagi Arael untuk ragu. Ia harus mengalahkan Charles dalam pertempuran ini. Akhirnya, cahaya pertama matahari pun muncul di cakrawala. Arael mengangkat satu pedangnya, Attila, ke udara. Sembari meraung keras, gadis itu pun memulai pertempuran paling berdarah dalam sejarah Luteria.
“Serang!” seru Arael sembari menyerbu ke arah pasukan orge.
Seruan Arael disambut dengan raungan para prajurit elf yang ada di belakang gadis itu. Iolas turut memerintahkan pasukan pemanahnya untuk menembak. Ribuan anak-anak panah pun terlontar di udara, melayang jauh hingga menghujani formasi para orge yang juga tengah berlari menyerbu. Perang pecah saat fajar menyingsing. Arael menggunakan kedua pedangnya dengan begitu lihai. Attila merobek, menusuk dan memotong ratusan orge yang menghadangi jalan Arael. Sementara Scimitar ia gunakan untuk menghancurkan sihir gelap yang memperkuat tubuh para orge, sekaligus mencegah mereka dibangkitkan kembali.
Iolas berada di sisi Arael dan menembakkan anak-anak panah dengan sangat lincah. Sesekali pemuda elf itu juga menggunakan belatinya untuk menusuki kepala orge-orge yang berada terlalu dekat. Rangwe dan tombaknya berhasil memecah formasi para orge hingga tercerai berai. Tubuh-tubuh raksasa para orge terlempar ke udara setiap kali serangan Rangwe mengenai mereka. Bryen di sisi lain, menggunakan pedang es untuk melawan musuh mereka. Beberapa kali ia juga membuat gelembung-gelembung air pelindung untuk menangkis serangan tak terduga.
Perang tersebut berlangsung hingga tengah hari, tanpa jeda sedikitpun. Arael memanfaatkan seluruh kekuatannya untuk menghabisi sebanyak mungkin orge. Namun ia sama sekali belum melihat Charles maupun para penyihir hitam bawahannya. Hingga akhirnya, ketika pasukan elf sudah mulai menguasai medan pertempuran, para penyihir gelap pun keluar.
Mereka melayang di udara dan mulai memantrai mayat-mayat para orge untuk bisa bangkit kembali. Tidak hanya sampai di situ, para orge yang sudah mati itu pun kini berubah wujud berkat kekuatan gelap mereka. Tubuh orge-orge itu menjadi berwarna hitam legam, membesar hingga dua kali lipat. Bulu duri yang sangat panjang dan tajam tumbuh di seluruh tubuh mereka. Sementara kedua mata orge itu yang semula berwarna kuning terang, kini berubah merah seperti darah. Mata para orge itu begitu nyalang dan buas, seolah bisa menelan segala sesuatu yang menghadangnya.
Icaris sang elf bersayap segera membawa pasukan terbang mereka untuk menghentikan para penyihir gelap itu mengubah mayat-mayat orge menjadi roh jahat. Beberapa penyihir yang terlalu lemah berhasil ditumbangkan, tetapi sebagian besar dari mereka masih tak tersentuh karena berhasil menghempaskan pasukan elf bersayap itu menjauh.
“Para penyihir itu sudah muncul! Charles pasti ada di dalam kastil!” teriak Arael memecah kebisingan perang, suara desing pedang dan raungan marah.
“Kau harus masuk ke dalam kastil!” Iolas membalas sembari menembakkan anak panahnya.
“Biar kami mengawal Anda, Putri.” Bryen turut berdiri rapat di sisi Arael.
Arael kini mencabut pedang hitamnya, Schimitar, untuk melawan wujud baru para orge. Dengan pedang tersebut, roh-roh jahat yang berasal dari mayat orge itu pun berhasil dihancurkan. Setiap tebasan Scimitar membuat tubuh makhluk hitam berbulu duri itu menghilang bagai asap.
Rangwe menyusul tak lama kemudian. Mereka sudah mencapai mulut kastil ketika bertemu dengan sang elf liar.
“Raja lalim itu bersembunyi di dalam! Aku akan membantumu membuka pintu kastil, Putri!” seru Rangwe sembari menusuk seekor Orge dengan tombaknya.
Sembari dilindungi oleh Arael, Iolas dan Bryen yang sibuk melawan para orge, Rangwe pun mendorong pintu besi raksasa yang menjadi gerbang masuk ke dalam kastil. Pintu setinggi empat meter itu pun berhasil terbuka secara perlahan. Rangwe terus mengerahkan seluruh kekuatannya hingga akhirnya celah pintu itu terbuka cukup lebar untuk bisa dimasuki oleh Arael.
Gadis itu pun segera menyerbu masuk diikuti Iolas, Bryen dan Rangwe. Koridor pertama yang mereka lalui hanya dijaga oleh beberapa orge. Seorang penyihir hitam berjubah merah tua sekonyong-konyong muncul dari bawah karpet merah di lantai kastil. Penyihir itu tidak menampakkan wajahnya dan hanya bisa dikenali dari suaranya. Seorang pria.
“Harus kuakui kalau kemampuanmu melebihi ekspektasi kami, Putri. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian masuk lebih jauh ke dalam kastil,” ujar penyihir berjubah merah tersebut sembari melambaikan tangannya dengan asal.
Sayang gerakan tersebut sama sekali tidak berefek sederhana. Gumpalan lantai di bawah kaki Arael dan rekan-rekannya mendadak mencuat tinggi, nyaris menghancurkan tubuh Arael. Beruntung ia melompat di saat yang tepat. Keempatnya berhasil selamat dari serangan mendadak sang penyihir.
“Pergilah, Putri. Biar aku yang menangani penyihir sialan ini,” ujar Rangwe yang kini sudah berjongkok di atas tonjolan batu yang mencuat akibat sihir sang penyihir. Ditilik dari kemampuannya, Rangwe memang adalah orang yang cocok untuk melawan penyihir ini.
“Kalau begitu, kuserahkan sisanya padamu, Rangwe,” gumam Arael lantas menyelinap pergi diikuti Iolas dan Bryen.
Sang penyihir berjubah merah hendak menghentikan langkah Arael. Namun Rangwe sudah lebih dulu menyerangnya dengan tombak sehingga perhatian sang penyihir pun terpecah. Arael berhasil melewati lorong tersebut dengan selamat.
Arael, Iolas dan Bryen kini memasuki aula kerajaan. Di sana akhirnya ia bertemu dengan Charles yang duduk di singgasana kebesarannya. Barisan orge berdiri di hadapan Charles, melindungi sang raja dengan wajah jeleknya. Seorang penyihir lain berada di sisi kanan Charles. Penyihir itu mengenakan jubah hijau dengan wajah yang juga tertutup. Akan tetapi dari postur tubuhnya, Arael menduga bahwa penyihir tersebut adalah seorang wanita.
Arael menatap Charles dengan tajam. Napasnya sedikit tersengal setelah melakukan pertempuran sejak pagi dan berlari ke kastil. Beberapa luka memenuhi tubuhnya, tetapi Arael tidak peduli. kini orang yang harus dia kalahkan sudah ada di depan mata.