The Story Of Luteria

The Story Of Luteria
Ramalan Terakhir



Arael merenungi lagi kata-kata Ratu Amarië. Karena begitu lama dipenjara, Arael tidak banyak mengenal kehidupan manusia. Meski begitu, dalam hatinya, Arael yakin bahwa apa yang dia perjuangkan tidaklah sia-sia.


“Manusia mungkin ras yang unik,” ujar Arael tiba-tiba. Pemikiran itu berkelebat begitu saja di benaknya, seperti terpatik oleh suatu kuasa di luar dirinya: Jiwa Dunia.


Komentar Arael tersebut akhirnya mendapat perhatian dari sang ratu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Arael, tampak terpancing penasaran.


“Kalian memang sangat unik. Manusia berumur jauh lebih pendek dibanding ras lainnya. Tapi kelekatan mereka terhadap dunia ini sangat kuat, sampai-sampai lupa bahwa jiwa mereka sejatinya tidak berasal dari sini,” sahut Ratu Amarië menanggapi.


Arael tersenyum tipis sembari mengangguk-angguk setuju. “Kami adalah yang termuda di antara ras lainnya. Karena itu kami harus menyelesaikan banyak pertempuran untuk belajar menjadi lebih bijaksana. Demi pertempuran yang baik tersebut, saya ingin memohon bantuan Anda,” bujuk Arael sembari menoleh ke arah sang ratu dan menatapnya lekat-lekat.


Tidak ada keragu-raguan yang terpancar dari kedua mata gadis itu. Alih-alih keyakinan dan kedamaian yang dia tawarkan. Arael tidak menekan sang ratu. Ia hanya memaparkan pemikirannya sendiri.


Sang ratu kembali menatap langit malam. Salah seorang elf yang berdiri di dekatnya lantas mendekat, seolah tahu kaua sudah waktunya pembicaraan itu mengarah pada sebuah kesimpulan. Elf berambut perak itu menyerahkan sebuah gulungan perkamen pada Ratu Amarië.


“Ini adalah peta bintang. Konstelasi yang sama dengan bintang-bintang di langit sana. Peta ini akan bergerak, berubah sesuai dengan keadaan langit pada hari-hari yang berbeda. Gunakan ini bersamaan dengan peta sihir yang kau dapat dari suku elf cahaya. Peta ini akan membantumu berkomunikasi dengan seluruh bangsa elf di Luteria,” ujar sang ratu sembari menyerahkan gulungan perkamen yang diikat dengan sulur kering tanaman rambat.


Arael menerimanya. Ia tidak menyangka bahwa sang ratu juga mengetahui tentang peta sihir yang dia dapat dari Haldir. Namun Arael tidak mempermasalahkannya sekarang. Para elf mengetahui lebih banyak hal daripada dugaannya.


“Aku akan memutuskan untuk membantumu atau tidak setelah kau berhasil melalui perjalananmu menemui suku-suku elf yang tersisa,” tutup Ratu Amarië kemudian.


Arael tahu bahwa tidak ada gunanya mendesak lagi. Gadis itu pun akhirnya mengangguk singkat lalu undur diri.


Esok paginya, Arael menyuruh Iolas dan Bryen untuk bersiap-siap. Sudah saatnya bagi mereka melanjutkan perjalanan. Quenya datang ke pondok mereka pagi-pagi sekali, tepat setelah Arael dan rombongannya selesai bersiap-siap. Mereka bertiga mengembalikan jubah bintang yang hanya bisa digunakan di tempat itu.


“Jubah bintang ini membantu kami untuk membaca ramalan dengan lebih tepat. Bintang-bintang berbicara dengan para elf melalui nyanyian yang kami lantunkan. Jubah inilah yang membisikkannya,” ujar Quenya sembari menerima ketiga jubah bintang biru tua itu.


Saat terkena cahaya matahari, jubah tersebut sudah berubah menjadi seperti jubah biasa. Manik-maniknya tidak bercahaya atau pun bergerak-gerak seperti sebelumnya. Arael semakin yakin bahwa nyanyian para elf bintang semalam adalah ramalan mengenai dirinya dan perjalanannya. Meski begitu, ia enggan menannyakan langsung pada Quenya.


Setelah berpamitan singkat dengan Ratu Amarië, Arael dan rombongannya pun turun dari rumah pohon. Setapak hutan menyambut mereka, beserta Rangwe dan beberapa elf liar lainnya. Sesuai kata-kata Phyrra, Rangwe ternyata memang sudah bersiap untuk pergi bersama Arael mencari empat suku elf yang tersisa. Para centaur bahkan turut hadir untuk melepas kepergian mereka.


“Apa kau yakin akan meninggalkan sukumu tanpa pimpinan, Rangwe?” tanya Arael memastikan.


Rangwe terkekeh. “Mereka tidak membutuhkan pimpinan. Aku semata-mata dianggap yang palin tua saja, karena itu mereka menurutiku. Phyrra, dia tangan kananku, juga yang tertua setelah aku. Jadi semua akan baik-baik saja meski aku tidak pernah kembali ke sini lagi.”


“Tolong jangan berkata seperti itu,” sergah Phyrra tampak cemas.


Tepat saat tengah hari, mereka berempat pun keluar dari hutan elf. Arael memanggil Kaladrius dan memintanya berubah menjadi wujud raksasanya. Keempat orang itu pun duduk di atas punggung burung tersebut setelah dudukannya terpasang sempurna.


“Kenapa kalian berdua begitu murung? Apa kalian sudah mendengar nyanyian kaum Ruar-Tel-Quassir? Atau Kiros yang sudah bicara terlalu banyak?” tanya Rangwe pada Iolas dan Bryen yang terlihat muram sejak semalam.


“Jadi kalian sudah mengetahuinya sejak lama? Tentang akhir dari ramalan tersebut?” tanya Iolas kemudian.


“Tidak terlalu lama. Baru-baru ini Ratu Amarië dan kaum centaur mendapat potongan ramalan itu.” Rangwe menjelaskan sembari duduk bersila dengan nyaman. Kakinya tetap tidak mengenakan alas dan Arael jadi bisa melihat betapa kerasnya telapak kaki elf tersebut.


“Sebenarnya apa isi ramalannya? Aku tidak bisa memahami bahasa elf,” tanya Arael sembari mengalihkan pandangannya dari kaki Rangwe.


“Sulit menjelaskannya karena ramalan biasanya berupa kata-kata kiasan. Tapi mungkin aku bisa mengartikannya secara harafiah dalam bahasa manusia,” ujar Rangwe terus terang. “Ah, maaf, Putri, tidak apa-apakah kalau aku bersikap santai padamu?” lanjutnya mengoreksi.


“Tidak apa-apa Rangwe. Aku juga lebih nyaman bila kau berbicara dengan santai,” kata Arael sembari tersenyum.


Bryen tampak beringsut pelan di tempat dia duduk.


“Tapi bukan berarti aku keberatan dengan sikapmu, Bryen,” tambah Arael cepat-cepat. Setelah Arael berkata demikian Bryen pun mengangguk canggung sambil memaksakan senyum.


“Kalau begitu biar saya yang mengartikan nyanyian para elf bintang semalam,” ujar Bryen mencoba mencairkan suasana. Bryen lantas menarik napas panjang, lalu mulai menyanyikan bait-bait syair yang mereka dengar semalam dalam bahasa yang dimengerti oleh Arael. Kedua elf lainnya pun tampak khusyuk mendengarkan.


“Saat matahari bersinar, Putri Sion sang pembawa ramalan akan berangkat.


Mendapatkan kedamaian bersama dua belas suku elf yang membantunya.


Cahaya akan kembali menerangi kegelapan,


tapi kebijaksanaan membutuhkan pengorbanan.


Dua belas elf menjadi bayarannya. Jiwa mereka terikat dengan tanah ini.


Menjadi pelindung hingga akhir waktu. Sementara sang putri yang menawarkan kebebasan, akan menunggu di tempat cahaya.”